Seru memang menulis. Apalagi menulis apa yang kita suka. Apa yang kita alami. Sekarang menulis jadi hobi yang makin jarang, itu sih menurutku. Mungkin malah sebaliknya. Kemudahan fasilitas pendukung untuk menulis mungkin jadi salah satu kegiatan ini menjadi tambah asik.
Dulu setidaknya perlu kertas dan pensil untuk menuangkan ide tulisan kita. Kalau mau lebih canggih dikit, kita musti mantengin layar 14inchi, alias komputer. Berbeda dengan sekarang. Menulis bisa dikerjakan kapan saja dan dimama saja. Mulai dari yang tradisional hingga make smartphone. Semuanya sangat membantu mempercepat mengalirkan ide di otak menjadi sebuah tulisan.
Seperti sekarang ini, aku hanya membiarkan jari-jariku memainkan tuts di layar benda kotak berdimensi 7in. Tak ada kerangka yang runtut seperti teori bahasa seperti ketika aku SD. Semua kubiarkan berjalan. Otak berangan, jari menari, kuharap suasana seperti ini selalu terjadi.
Jumat, 31 Mei 2013
Otak berangan, jari menari: Menulis
Keluarga Inci (Bertambah)
Pagi ini jadi pagi yang beda dari pagi-pagi yang kemaen. Keluarga inci bertambah, menjadi 8. Anak inci masih merah, belum paham appun. Gerak-gerak mereka lucu, sedikit geli hampir mirip anakan tikua. Belum berbulu, rentan predator dan penyakit. Ketakutanku terjadi, satu anak inci berdarah-darah. Kakinya luka, aku evakuasi, keesokan harinya inalillahi. Lima bersaudara, berkurang jadi empat saudara. Akan kujaga, tekadku bulat, tapi apa daya. Indukan yang baru sekali melahirkan jadi satu sebab anak-anak inci kurang kuat beradaptasi, tentunya aku juga, baru sekali ini.
Sampailah saat dimana si anak inci dalam kesendirian, 2 minggu tumbuh rambut dan mulai membuka mata, melihat realita. Semoga cepat besar anak inciku.
Pukul satu
Dulu sering kita bertemu suara
Selain kita ada juga teman lain
Pasti tak kau kira mereka siapa
Tentunya rona rembulan, parade jangkrik, bahkan loncatan turun naik melodi katak
Pagi buta, kadang menjelang tengah petang kita bercengkerama
Mondar-mandir tak jelas obrolan kita
Kadang kalah dengan mata yang semakin redup
Hingga dari kita terpejam dan diam
Pukul satu kita bersatu dalam malam
Barisan Kata
Katamu kau rindu puisi-puisiku
Aku hanya tersenyum
Dari mulutmu perlahan berucap
Berkilah tentang puluhan kata yang pernah kujejerkan rapi untukmu
Aku hanya berpikir
Kau bertanya, sudah ingat?
Aku kembali tersenyum
Kau lanjutkan bercerita, tapi yang kudengar kata-kata manja
Dalam hati, aku ingin sekali berjumpa
Rabu, 01 Mei 2013
Inspirasiku
Jariku mulai mengeja
Kata demi kata
Kubayangkan, aku sedang mendekapmu malam ini
Bau rambutmu sangat menggoda
Sesekali sepertinya kamu hendak meronta
Dalam malam aku tersenyum
Mengembara bersama inspirasiku
Ya, hanya dirimu











