Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Minggu, 23 Juni 2013

StreetPhoto

Mulai nulis lagi. Mulai bercerita lagi. Hasil mampir dari acaranya temen pegiat fotografi di Solo. Srawung Fotografi, nama gerakannya (kalau salah tolong diralat). Malam tanggal 20 Juni '13 pas banget yang dibahas tentang street photografi, fotografi jalanan, terjemahan kasar, hehehehe.

Seru memang, disuguhi foto2 dengan kualitas tinggi, foto dengan daya imaji dan gaya tutur yang mengusik nurani. Foto jalanan yang tak sekedar objek di jalan, atau manusia dan bangunan. Tak sekedar rekaman autentik kejadian suatu masa, suatu fakta peradaban manusia. Melainkan ungkapan fotografer memaknai sang waktu yang misterius, yang tak pernah berputar balik, semuanya maju.

Di sini sudut-sudut pandang itu terbentuk. Akibat dari waktu yang berjalan maju, semua tampak sempurna, aktivitas membeku pada satu detik tertentu, dilanjutkan detik berikutnya begitu seterusnya. Menarik genre foto ini, sejarah, fakta perjalanan waktu, saksi hidup, bukti autentik, semua itu kita cipatakan sendiri, melalui satu jari telunjuk kita, ayo kapan lagi. Sebelum detik berganti kedetik berikutnya, tekan rana dan jadikan satu detik yang berarti. Saatnya menjadi bagian dari sejarah.

#Jadi pengen jalan2 cui...

Senin, 03 Juni 2013

Cod -- Cerita Orang Dagang

Cost On Delivery, memang itu kepanjangannya. Tapi kali ini bukanlah yang itu, tahu apa?
Memang sih ngarang sendiri, semoga yang baca jadi penasaran, atau kalaupun nggak bisa bikin penasaran sudah bisa menuangkan ide dalam otak ini.

Cerita Orang Dagang, itu yang saya maksud hehehehe... Cerita memang sumbernya banyak sekali. Salah satunya ya ini, dari seorang pedagang. Kebetulan saya baru belajar jualan via pasar online. Nah dari sini muncul ide menceritakan kisah-kisah saat saya bertransaksi. Seringnya kirim via jasa kurir, tapi tidak jarang juga yang ketemu langsung.
Dari transaksi satu ke transaksi yang lain, makin menambah khasanah cerita, hingga pengen banget aku tulisin di sini.

Pertama...
Sebenarnya bukan transaksi pertama, tapi ini transaksi lumayan konyol yang pertama. Awalnya nggak ada yang janggal, aku anggap biasa walau sms pembukanya ane,
"jualan kamera ya?"
Aku jawab "iya, tp kamera jadul masih pake roll film harga udah tertera silakan ajukan penawaran, misal cocok saya lepas".
Bahasa pemasar, dalam hati...yaiyalah di lapak udah tertera jual kamera, eh masih sms tanya jual kamera? Hadehhhh...

Dari situ memang udah aneh, tapi ujungnya memang deal, setelah saya hampir putus asa karena nomor si buyer udah aku oper ke temen, kali aja ada kamera yang sesuai dengan si buyer. Tapi kalau rejeki memang ga kemana, akhirnya aku deal sama si buyer, aku ajak ketemuan di daerah yang gampang aksesnya, eh ga mau dia. Akhirnya disepakati ketemu di sekolahannya. Karena masih smp, dia ga bisa bawa hp ke sekolah, so sebelumnya aku kasih tau ciri-ciriku mulai dari motor sampe pakaian yang aku kenakan besok.

Hari H tiba, aku berangkat lebih awal 15 menit. Jam 15 janji ketemu depan sekolahnya, kasak kusuk lama. 30 menit udah lewat, buset diliatin satpam. Maklum nongkrong lama depan sekolahan elit. Satpamnya aja tak kurang dari tiga, sekali jaga.

Mulai muncul anak-anak dari dala, tapi tak ada tanda yang nengak nengok polah nyari orang. Lalu keluar seorang anak, tengak tengok ke arahku, aku mencoba mengkontraskan diri dari tempatku berharapmdilihat, tapi apa, nihil. Si anak mlengos belok ke tukang dawet. Untung kemaren aku kasih tau, pokoknya aku deket di sekolahanmu jadi cari sampe ketemu lho ya...

Si bocah balik lagi, masih tengak tengok, ya pasti itu orangnya. Mau aku panggil tapi takut salah, diem aja makian mencurigakan hadeh. Aneh bener, anak itu masuk lagi ke dalam sekolah. Tapi ga lama keluar lagi, tengak-tengok lagi, kali ini matanya ke arahku, disusul langkahnya menuju mendekat ke tempat berdiriku.
Mukanya polos, masih tengak-tengok, kali ini nengok satpam, gawat makin mencurigakan aja ni kesannya. Aku cuek buang muka, jangan liat satpam, perintahku pada sepasang indera lihatku.

Kucoba mencairkan suasana, tanya-tanya ga penting, dia jawab, "buruan mas, saya ditunggu mobil jemputan", walah iya...aku bergegas ambil kamera sama filmnya,sekalian aku pasangin. Sambil nenteng dawet plastikan dia meminta masukin langsung kamera ke tasnya sambil nyodorin uangnya. Haduh, macem transaksi apaan aja ni. Tanpa babibu, dia balik badan menuju mobil jemputan. Eh.. belum ada semeter dia balik lagi, dawetnya ketinggalan.

Hikmahnya, kalo ketemuan buat transaksi pilih tempat yang tidak mencurigakan biar ga disangka yang nggak nggak. Trus, sabar itu memang membawa berkah, buktinya deal tu transaksi. Terakhir, memang pembeli yang jadi raja, yang terakhir ini yang banyak menguras tenaga dan pikiran hehehehe
So...lanjut COD selanjutnya daaaa..