
Sore itu sabtu hari ke 22 dibulan tujuh aku bersiap untuk melihat dunia yang baru. Menjelang ufuk menghilang kami berangkat ke timur jauh Gunung Kelud Kediri. MFC (m’yers fun club), sekumpulan orang iseng yang hobi ngajak keliling-keliling kuda besinya. Angka ganjil 13 mewakili temen2 yang pengen melihat dunia di timur jauh itu, termasuk aku. Dengan doa kita merambat pelan, semakin ketimur semakin kelam.
Alun-alun Ngawi tempat pertama untuk memecah lelah. Tak lama di sana, kami bergegas kembali ke jalan. Oia waktu itu aku ditemeni mbak dewi. Sama sepertiku, sekarang ini adalah kesempatan pertama untuk melihat dunia. Kalo ada presensi mungkin mas sugeng, mas teri, mas muki menjadi orang yang paling bijaksana. Sisanya mas adit, mas somex, mas isnoe, mbak fitri, mbak isma, mbak leli. Ada lagi dua newbie helmi dan sidik.
Perjalanan semakin menyenangkan, membelah malam di jalan yang benar-benar belum pernah aku tapaki. Perasaanya campur, seiya es campur aneka rasa. Sedikit ngobrol sana, ketawa sini, sampai menjerit kaget terseok lubang selepas jembatan entah di mana. Tak peduli, tak tau arah sejenak, sampai pada titik lelah berikutnya.
Aneh mendera, ketika itu. Karena si detik begitu lama menjemput tempat tujuan, yang ada penat yang entah kenapa terus menghantuiku. Tengah malam tepat, kami berhenti di alun-alun mojokerto (sepertinya). Seperti tamu undangan, kami dijamu bersama temen dari club motor megapro. Guide untuk menuju Kelud, mas panjul membagi bagi kan alakadarnya. Sejenak santai, waktu semakin pagi. Semua bergegas, membentuk barisan dua dua. Artinya dua motor berjajar memanjang ke belakang. Sirine menjerit, aba-aba jalan diteriakkan. Huaaa,,,seketika itu juga mata berbinar dada berdebar. Konvoi tengah malam di kota orang. Pengalaman tak terlupa. Perempatan berganti persimpangan, konvoi berjalan seirama dengan harmoni pagi itu. Samapailah kita pada jalan yang tak begitu sepi, semua menepi dan berhenti. Saling jabat tangan, bersulang senyum. Tanda selamat jalan semoga selamat sampai tujuan. Sampai di perbatasan kota itu kami dijamu, untuk selanjutnya kita melaju bersama doa, dan seyum mereka.
Pagi melingakari punggung-punggung kami. Gelap begitu memikat. Sampai tak terasa, tepat pukul empat pagi kami berhenti berhadapan dengan pintu masuk gunung kelud. Sontak gemuruh nadi menuai tanya, seperti apa indahnya. Masih pagi, dan jalan terus dijejak. Di jalan yang menanjak, yang tertutup hitam aku mengarang ngarang cerita. Tempat seperti apa ini. Dingin tidak begitu mendera, karena luluh oleh debaran pertanyaan, kapan sampainya, seperti apa tempatnya, sampai di suatu tempat yang kami sebut ujung jalan. Semuanya berhenti menghirup udara Kelud. Girang anak kecil dapat permen sambil memekik,,,akhirnya sampai kelud juga.
Semua berkemas, menyiapkan tempat untuk melelapkan mata. Tenda tak compang kami siapkan. Sebagian bercengkerama di gubug, seperti di warung. Sediki sisa waktu, ufuk menjemput kami. Semakin takjub, dengan sembulan sembulan kabut bertebaran disisi kanan kiri kami. Bentangan punggung bukit menjadi background foto yang indah. Rekaman lensa ini semoga abadi.
Untuk keindahanMu inilah kami berada di sini. Aku kemasi barangku, kuajak FM10 ku untuk melihat lihat danau. Hijau, bercampur mistiknya embun pagi, menambah keceriaan ku. Begitu juga yang lain. Syukur aku ucap, ini kado indah dariMu, karena pagi ini hari ke 23 bulan tuju.
---1st Touring with mfc

Jumat, 30 Juli 2010
1St Touring With mfc
Posted in |
14.35 | by aragilstory
Jumat, 23 Juli 2010
happy birthday agilku
Posted in |
14.32 | by aragilstory
Hari ini hari Jumat, tanggal 23 Juli, masih di tahun yang sama, 2010. Hari ini bertepatan dengan hari anak nasional, Agil merayakan hari jadinya yang ke-24. Banyak kebahagiaan dan doa yang Ara ingin berikan ke Agi
l, tapi semua itu cuma bisa terwujud dalam butiran-butiran 1000 bintang warna-warni yang terbungkus toples bening dengan hiasan gambar diri dan barisan kata-kata. Yah..yang penting dari hadiah adalah keiklasan dan niat dan juga cinta yang terkandung di dalamnya.
Pokoknya.. happy birthday aja ya buat agil. Wish you all the best.
Luv you always..
Jumat, 14 Mei 2010
Waduk Ombo - Kedung Cengklik? (:ngacir)
Posted in mancing mania |
04.52 | by aragilstory
Mancing. Apa yang dicari dari orang yang memancing? Ikan kah? Atau hana sekedar sensasi dari memancing? Seperti sundulan ikan yang diakibatkan si ikan mengemut-emut umpan yang menggantung di kail, sensasi panas terbakar matahari karena memancing tanpa terlindung pohon atau payung, atau sensasi pulang dengan tangan kosong tanpa mendapat strike sama sekali alias si ikan lebih senang memonyong-monyongkan bibirnya yang sudah monyong di sekitaran joran atau berkecipuk di antara dua joran yang menanti datangnya ikan atau yang lebih sadis berenang dengan santai mengitari perairan di sekitar pemancing padahal kami baru saja melipat joran dan mengatakan: "Pulang aja yuk, ga ada ikannya!".
Saya sih tidak terlalu suka memancing. Saya hanya senang perjalanan menuju tempat memancing yang indah dan rimbun oleh pepohonan yang menghijau. Kamis,13 Mei 2010, kemarin kami dan Om Mufti pergi ke Kedung Ombo, Sragen dengan membawa 4 buah joran dan bekal makan-minum, dan skill seadanya. Sampai di depan Pasar Hewan Sumber Lawang, kami berhenti cukup lama untuk membeli lumut dan dedak sebagai pakan ikan sembari menunggu Om Mufti yang rupanya kebablasan. Kami menunggu sampai-sampai Si Agil lumutan (dalam arti yang sebenarnya). Maksudnya, saya mengisi waktu dengan memain-mainkan lumut pakan ikan dengan menempel-nempelkannya di tangan Agil. Akhirnya Om Mufti sampai juga.
Sampai di Kedung Ombo, Om Mufti minta spot yang jauh dari ladang jagung karena ternyata dia alergi. Mereka mengawali dengan memakan bekal bawaan kami. Setelah itu umpan dipasang. 20 menit kemudian, matahari menyingsing dan panaslah tempat kami jongkok. Tidak betah, kami memutuskan berpindah tempat dengan mengatakan tempat itu tidak ada ikan, dan lewatlah satu ikan tetapi dalam keadaan tidak bernyawa. Kemudian lewatlah lagi satu ikan dengan keadaan bernyawa lengkap dengan goyangan buntutnya dan tertawa lah kami. Ternyata ikan juga bisa mengejek manusia.
Ide berpindah tempat (di kedung ombo) ternyata berubah jadi berpindah lokasi mancing menjadi di Waduk Cengklik, Karanganyar. Kami pun segera berangkat setelah membayar parkir Rp 2000,00 per motor. Sepanjang jalan menuju Kedung Ombo yang sejuk karena kerindangan hutan kembali beganti jadi panas terik dan berbahaya karena jalur Solo-Purwodadi bergelombang, berlubang, dan banyak bus "malaikat" jalan. Kata-kata malaikat jalan saya dapatkan ketika minum es dawet sorlem (ngisor pelem : bawah pohon mangga), kata Bapak penjual dawet, karena banyak sekali PO. di daerah itu, maka jumlah bus pun banyak, dikejar setoran dan pesaing banyak, pengemudi bus pun melaju dengan "serampangan", mengebut dengan kecepatan yang luar biasa tidak wajar di jalan yang padat dan sempit. Mereka dengan amat berani menggunakan lajur yang berlawanan untuk mendahului pengguna jalan lain. Karena keberaniaan yang negatif itu, banyak nyawa dikorbankan. Hati-hati dan waspada adalah kunci utama selain berdoa untuk menggunakan jalur ini.
Kami mengambil jalur ke arah Simo kemudian ke Arah Bandara Internasional Solo. Kemudian, sampailah kami di waduk cengklik. tarif masuknya seribu rupiah tanpa dipungut parkir lagi di dalam. Di sana bebas memilih tempat memancing yang disukai. Kami lebih lama di Cengklik ketimbang di Kedung Ombo. Sampai pukul empat kami bergulat dengan joran dan berpindah dua tempat. Hasil kami cukup mengenyangkan segelas es teh, sebungkus belut, dan dua bungkus cilok, tanpa ikan yang berhasil ditangkap. Tadinya saya ingin beli ikan untuk dimasak di kontrakan, yang dijual di tepian waduk, tapi urung karena yang saya dengar dari seorang Bapak yang membeli, satu ekor dihargai sepuluh ribu rupiah. Untuk mahasiswa seperti saya, lebih baik membeli ikan yang sudah masak yang totalnya dengan nasi dan es teh hanya delapan ribu dibanding sepuluh ribu dan masih harus memasak.
Walaupun tidak dapat ikan, tapi hati tetap senang karena banyak tertawa karena kekonyolan yang ada saat memancing. Juga bahagia karena ada satu lagi hari bersama Agil yang bisa dikenang. Selamat memancing di kemudian hari.
Nb. dialog termanis:
Agil : "temen-temennya agil bisa betah lama mancing soalnya mereka suka banget."
Ara : "ara lebih suka jaan-jalannya menuju tempat mancing. Ara sih ga betah mancing."
Agil : "Agil bisa betah kalau ada ara."
Saya sih tidak terlalu suka memancing. Saya hanya senang perjalanan menuju tempat memancing yang indah dan rimbun oleh pepohonan yang menghijau. Kamis,13 Mei 2010, kemarin kami dan Om Mufti pergi ke Kedung Ombo, Sragen dengan membawa 4 buah joran dan bekal makan-minum, dan skill seadanya. Sampai di depan Pasar Hewan Sumber Lawang, kami berhenti cukup lama untuk membeli lumut dan dedak sebagai pakan ikan sembari menunggu Om Mufti yang rupanya kebablasan. Kami menunggu sampai-sampai Si Agil lumutan (dalam arti yang sebenarnya). Maksudnya, saya mengisi waktu dengan memain-mainkan lumut pakan ikan dengan menempel-nempelkannya di tangan Agil. Akhirnya Om Mufti sampai juga.
Sampai di Kedung Ombo, Om Mufti minta spot yang jauh dari ladang jagung karena ternyata dia alergi. Mereka mengawali dengan memakan bekal bawaan kami. Setelah itu umpan dipasang. 20 menit kemudian, matahari menyingsing dan panaslah tempat kami jongkok. Tidak betah, kami memutuskan berpindah tempat dengan mengatakan tempat itu tidak ada ikan, dan lewatlah satu ikan tetapi dalam keadaan tidak bernyawa. Kemudian lewatlah lagi satu ikan dengan keadaan bernyawa lengkap dengan goyangan buntutnya dan tertawa lah kami. Ternyata ikan juga bisa mengejek manusia.
Ide berpindah tempat (di kedung ombo) ternyata berubah jadi berpindah lokasi mancing menjadi di Waduk Cengklik, Karanganyar. Kami pun segera berangkat setelah membayar parkir Rp 2000,00 per motor. Sepanjang jalan menuju Kedung Ombo yang sejuk karena kerindangan hutan kembali beganti jadi panas terik dan berbahaya karena jalur Solo-Purwodadi bergelombang, berlubang, dan banyak bus "malaikat" jalan. Kata-kata malaikat jalan saya dapatkan ketika minum es dawet sorlem (ngisor pelem : bawah pohon mangga), kata Bapak penjual dawet, karena banyak sekali PO. di daerah itu, maka jumlah bus pun banyak, dikejar setoran dan pesaing banyak, pengemudi bus pun melaju dengan "serampangan", mengebut dengan kecepatan yang luar biasa tidak wajar di jalan yang padat dan sempit. Mereka dengan amat berani menggunakan lajur yang berlawanan untuk mendahului pengguna jalan lain. Karena keberaniaan yang negatif itu, banyak nyawa dikorbankan. Hati-hati dan waspada adalah kunci utama selain berdoa untuk menggunakan jalur ini.
Kami mengambil jalur ke arah Simo kemudian ke Arah Bandara Internasional Solo. Kemudian, sampailah kami di waduk cengklik. tarif masuknya seribu rupiah tanpa dipungut parkir lagi di dalam. Di sana bebas memilih tempat memancing yang disukai. Kami lebih lama di Cengklik ketimbang di Kedung Ombo. Sampai pukul empat kami bergulat dengan joran dan berpindah dua tempat. Hasil kami cukup mengenyangkan segelas es teh, sebungkus belut, dan dua bungkus cilok, tanpa ikan yang berhasil ditangkap. Tadinya saya ingin beli ikan untuk dimasak di kontrakan, yang dijual di tepian waduk, tapi urung karena yang saya dengar dari seorang Bapak yang membeli, satu ekor dihargai sepuluh ribu rupiah. Untuk mahasiswa seperti saya, lebih baik membeli ikan yang sudah masak yang totalnya dengan nasi dan es teh hanya delapan ribu dibanding sepuluh ribu dan masih harus memasak.
Walaupun tidak dapat ikan, tapi hati tetap senang karena banyak tertawa karena kekonyolan yang ada saat memancing. Juga bahagia karena ada satu lagi hari bersama Agil yang bisa dikenang. Selamat memancing di kemudian hari.
Nb. dialog termanis:
Agil : "temen-temennya agil bisa betah lama mancing soalnya mereka suka banget."
Ara : "ara lebih suka jaan-jalannya menuju tempat mancing. Ara sih ga betah mancing."
Agil : "Agil bisa betah kalau ada ara."
Langganan:
Komentar (Atom)
