Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Jumat, 14 Mei 2010

Waduk Ombo - Kedung Cengklik? (:ngacir)

Mancing. Apa yang dicari dari orang yang memancing? Ikan kah? Atau hana sekedar sensasi dari memancing? Seperti sundulan ikan yang diakibatkan si ikan mengemut-emut umpan yang menggantung di kail, sensasi panas terbakar matahari karena memancing tanpa terlindung pohon atau payung, atau sensasi pulang dengan tangan kosong tanpa mendapat strike sama sekali alias si ikan lebih senang memonyong-monyongkan bibirnya yang sudah monyong di sekitaran joran atau berkecipuk di antara dua joran yang menanti datangnya ikan atau yang lebih sadis berenang dengan santai mengitari perairan di sekitar pemancing padahal kami baru saja melipat joran dan mengatakan: "Pulang aja yuk, ga ada ikannya!".

Saya sih tidak terlalu suka memancing. Saya hanya senang perjalanan menuju tempat memancing yang indah dan rimbun oleh pepohonan yang menghijau. Kamis,13 Mei 2010, kemarin kami dan Om Mufti pergi ke Kedung Ombo, Sragen dengan membawa 4 buah joran dan bekal makan-minum, dan skill seadanya. Sampai di depan Pasar Hewan Sumber Lawang, kami berhenti cukup lama untuk membeli lumut dan dedak sebagai pakan ikan sembari menunggu Om Mufti yang rupanya kebablasan. Kami menunggu sampai-sampai Si Agil lumutan (dalam arti yang sebenarnya). Maksudnya, saya mengisi waktu dengan memain-mainkan lumut pakan ikan dengan menempel-nempelkannya di tangan Agil. Akhirnya Om Mufti sampai juga.

Sampai di Kedung Ombo, Om Mufti minta spot yang jauh dari ladang jagung karena ternyata dia alergi. Mereka mengawali dengan memakan bekal bawaan kami. Setelah itu umpan dipasang. 20 menit kemudian, matahari menyingsing dan panaslah tempat kami jongkok. Tidak betah, kami memutuskan berpindah tempat dengan mengatakan tempat itu tidak ada ikan, dan lewatlah satu ikan tetapi dalam keadaan tidak bernyawa. Kemudian lewatlah lagi satu ikan dengan keadaan bernyawa lengkap dengan goyangan buntutnya dan tertawa lah kami. Ternyata ikan juga bisa mengejek manusia.

Ide berpindah tempat (di kedung ombo) ternyata berubah jadi berpindah lokasi mancing menjadi di Waduk Cengklik, Karanganyar. Kami pun segera berangkat setelah membayar parkir Rp 2000,00 per motor. Sepanjang jalan menuju Kedung Ombo yang sejuk karena kerindangan hutan kembali beganti jadi panas terik dan berbahaya karena jalur Solo-Purwodadi bergelombang, berlubang, dan banyak bus "malaikat" jalan. Kata-kata malaikat jalan saya dapatkan ketika minum es dawet sorlem (ngisor pelem : bawah pohon mangga), kata Bapak penjual dawet, karena banyak sekali PO. di daerah itu, maka jumlah bus pun banyak, dikejar setoran dan pesaing banyak, pengemudi bus pun melaju dengan "serampangan", mengebut dengan kecepatan yang luar biasa tidak wajar di jalan yang padat dan sempit. Mereka dengan amat berani menggunakan lajur yang berlawanan untuk mendahului pengguna jalan lain. Karena keberaniaan yang negatif itu, banyak nyawa dikorbankan. Hati-hati dan waspada adalah kunci utama selain berdoa untuk menggunakan jalur ini.

Kami mengambil jalur ke arah Simo kemudian ke Arah Bandara Internasional Solo. Kemudian, sampailah kami di waduk cengklik. tarif masuknya seribu rupiah tanpa dipungut parkir lagi di dalam. Di sana bebas memilih tempat memancing yang disukai. Kami lebih lama di Cengklik ketimbang di Kedung Ombo. Sampai pukul empat kami bergulat dengan joran dan berpindah dua tempat. Hasil kami cukup mengenyangkan segelas es teh, sebungkus belut, dan dua bungkus cilok, tanpa ikan yang berhasil ditangkap. Tadinya saya ingin beli ikan untuk dimasak di kontrakan, yang dijual di tepian waduk, tapi urung karena yang saya dengar dari seorang Bapak yang membeli, satu ekor dihargai sepuluh ribu rupiah. Untuk mahasiswa seperti saya, lebih baik membeli ikan yang sudah masak yang totalnya dengan nasi dan es teh hanya delapan ribu dibanding sepuluh ribu dan masih harus memasak.

Walaupun tidak dapat ikan, tapi hati tetap senang karena banyak tertawa karena kekonyolan yang ada saat memancing. Juga bahagia karena ada satu lagi hari bersama Agil yang bisa dikenang. Selamat memancing di kemudian hari.

Nb. dialog termanis:
Agil : "temen-temennya agil bisa betah lama mancing soalnya mereka suka banget."
Ara : "ara lebih suka jaan-jalannya menuju tempat mancing. Ara sih ga betah mancing."
Agil : "Agil bisa betah kalau ada ara."

0 komentar: