Senja di Kota Bengawan, terkurung dalam lorong besi kereta api. Senja di Kota Bengawan menelusur gerbong kereta jurusan Solo-Pasar Senen, Senja Bengawan. Garis start, Stasiun Jebres, persiapan berjejal. Menggiring barang-barang angkut. Penumpang masuk satu persatu, ada tawa, suka, tapi ada juga sedikit sendu seperti sore ini.
Semua bersiap maju. Aku pun begitu, menjemput senyummu. Seperti yang lain, seperti barang-baranng yang lain aku masuk perlahan. Kaki berdiri di depan pintu, menghadap, melihat, merekam langit-langit kelam sore itu. Kursi-kursi masih kosong, karena mustahil semua terisi di sini. Ini stasiun pemberangkatan yang pertama. Henin tanpa suara, perlahan kucari tempat dudukku nanti.
Kutemukan yang kucari, tidak berhenti tapi melompat ke pintu besi. Kulongokkan mataku, kuintip keluar mendung hitam berganti rintikan gerimis. Di dalam sedikit gelap, mesin-mesin masih terdiam, memang sengaja belum dinyalakan. Aku berdiri, tepat di sambungan gerbong, sejajar denga pintu. Menghirup udara, mengibas-ngibaskan rambut agar peluhnya hilang.
Kembali masuk, ku telusuri gerbong. Persiapan awak kereta kurekam. Restorasi, gerbong khusus untuk makan. Ada petugasnya, sibuk menyiapkan telur, katanya. Ruangan sempit menjadi tempat kerjanya. Penuh senyum dan semangat, sepertinya menikmati. Tidak lama-lama sungkan kalau menggangu.
Bergeser ke depan tidak jauh dari dapur kereta, entah nama ruangannya apa, aku lihat ruangan sempit lagi. Lebih sempit dari pada dapur tadi, di tengahnya seperti dipenuhi mesin besar, entah aku kurang peduli, kulewati begitu saja. Toh semuanya tidak ada masalah, hanya kepulan debu, yang sebentar-sebentar tersiram cahaya dari senter yang digunakan bapak-bapak petugas.
Gerbong masih gelap, di luar pun sama. Kulanjutkan melangkah ke gerbong selanjutnya. Kursi-kursi masih kosong, sedikit yang terisi. Satu dua, sepasang, sendiri, orang-orang bersiap tidak peduli. Aku dilihat, aku memotret, ada senyum, tanda tanya, bahkan anggukan juga aksi buang muka. Tua muda besar kecil anak-anak, sendiri, berpasangan. Semua dalam satu gerbong, menunggu senja beranjak meninggalkan Kota Bengawan.
Petugas-petugas kereta tak kalah sigap, mereka juga seliweran mempersiapkan semuanya. Perjalanan yang panjang, meski hanya semalam. Tanpa persiapan semua pasti tak akan berjalan. Suara-suara dentuman mulai terasa, lampu-lampu mulai menyala. Persiapan semakin memuncak.
Langkahku terhenti di gerbong terakhir. Kuputar arah langkah kakiku, mata mulai ku tata ulang agar mendapatkan fokus yang berbeda. Kembali ku longokkan badan dan kepala, sekedar menghirup udara segar, penawar pengap gerbong. Masih banyak barang yang digotong-gotong, didorong-dorong mendekati gerbong. Orang-orang mulai ramai, menaiki undakan pintu gerbong perlahan. Sekali lagi pintu-pintu yang kulewati tak luput ku isengi, kuintip-intipkan mataku. Dan aku yakin, gerbong belum berjalan, masih jelas, aku masih di tempat belum bergerak. Padahal aku tidak sabar, bergerak maju, bergerak mendekati senyummu.
Hujan benar-benar mengiringi senja di Kota Bengawan sore itu, mengantarku menuju senyummu. Senja di Kota Bengawan aku duduk tak sabar di dalam cekungan gerbong Senja Bengawan.
-Agilbos-