Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Kamis, 31 Januari 2013

Senja Bengawan

Senja di Kota Bengawan, terkurung dalam lorong besi kereta api. Senja di Kota Bengawan menelusur gerbong kereta jurusan Solo-Pasar Senen, Senja Bengawan. Garis start, Stasiun Jebres, persiapan berjejal. Menggiring barang-barang angkut. Penumpang masuk satu persatu, ada tawa, suka, tapi ada juga sedikit sendu seperti sore ini. 


Semua bersiap maju. Aku pun begitu, menjemput senyummu. Seperti yang lain, seperti barang-baranng yang lain aku masuk perlahan. Kaki berdiri di depan pintu, menghadap, melihat, merekam langit-langit kelam sore itu. Kursi-kursi masih kosong, karena mustahil semua terisi di sini. Ini stasiun pemberangkatan yang pertama. Henin tanpa suara, perlahan kucari tempat dudukku nanti.

Kutemukan yang kucari, tidak berhenti tapi melompat ke pintu besi. Kulongokkan mataku, kuintip keluar mendung hitam berganti rintikan gerimis. Di dalam sedikit gelap, mesin-mesin masih terdiam, memang sengaja belum dinyalakan. Aku berdiri, tepat di sambungan gerbong, sejajar denga pintu. Menghirup udara, mengibas-ngibaskan rambut agar peluhnya hilang.

Kembali masuk, ku telusuri gerbong. Persiapan awak kereta kurekam. Restorasi, gerbong khusus untuk makan. Ada petugasnya, sibuk menyiapkan telur, katanya. Ruangan sempit menjadi tempat kerjanya. Penuh senyum dan semangat, sepertinya menikmati. Tidak lama-lama sungkan kalau menggangu.


Bergeser ke depan tidak jauh dari dapur kereta, entah nama ruangannya apa, aku lihat ruangan sempit lagi. Lebih sempit dari pada dapur tadi, di tengahnya seperti dipenuhi mesin besar, entah aku kurang peduli, kulewati begitu saja. Toh semuanya tidak ada masalah, hanya kepulan debu, yang sebentar-sebentar tersiram cahaya dari senter yang digunakan bapak-bapak petugas.

Gerbong masih gelap, di luar pun sama. Kulanjutkan melangkah ke gerbong selanjutnya. Kursi-kursi masih kosong, sedikit yang terisi. Satu dua, sepasang, sendiri, orang-orang bersiap tidak peduli. Aku dilihat, aku memotret, ada senyum, tanda tanya, bahkan anggukan juga aksi buang muka. Tua muda besar kecil anak-anak, sendiri, berpasangan. Semua dalam satu gerbong, menunggu senja beranjak meninggalkan Kota Bengawan.





Petugas-petugas kereta tak kalah sigap, mereka juga seliweran mempersiapkan semuanya. Perjalanan yang panjang, meski hanya semalam. Tanpa persiapan semua pasti tak akan berjalan. Suara-suara dentuman mulai terasa, lampu-lampu mulai menyala. Persiapan semakin memuncak.

Langkahku terhenti di gerbong terakhir. Kuputar arah langkah kakiku, mata mulai ku tata ulang agar mendapatkan fokus yang berbeda. Kembali ku longokkan badan dan kepala, sekedar menghirup udara segar, penawar pengap gerbong. Masih banyak barang yang digotong-gotong, didorong-dorong mendekati gerbong. Orang-orang mulai ramai, menaiki undakan pintu gerbong perlahan. Sekali lagi pintu-pintu yang kulewati tak luput ku isengi, kuintip-intipkan mataku. Dan aku yakin, gerbong belum berjalan, masih jelas, aku masih di tempat belum bergerak. Padahal aku tidak sabar, bergerak maju, bergerak mendekati senyummu.



Hujan benar-benar mengiringi senja di Kota Bengawan sore itu, mengantarku menuju senyummu. Senja di Kota Bengawan aku duduk tak sabar di dalam cekungan gerbong Senja Bengawan.

-Agilbos-

Kertas Warna-Warni

Setelah tertunda, saatnya melanjutkan. Cerita akhir pekan, awal bulan di tahun baru. Seperti empat tahunan yang lalu, dan tiap-tiap tahun berikutnya hingga kini. Awal tahun menjadi sesuatu yang spesial. Sedikit menguras otak dan memacu adrenalin, karena setiap detiknya berjalan lebih cepat, seolah mengejar tanpa sedikitpun hiba melihatku, yang selalu memikirkanmu.

Bulan ini, awal tahun, kuberharap cemas bisa memberikanmu sesuatu kejutan atau seperti biasa berlalu dengan ceria, dengan cerita. Memang semuanya membantu, segalanya sudah disiapkan. Sampai akhir pekan bulan ini, semua berjalan lancar.

Kertas warna-warni, belum siap benar. Lantaran baru terpikir beberapa hari mungkin malah kurang. Entah terlalu senang atau terlalu berangan-angan bagaimana nanti, bagaimana semua direncanakan. Kertas warna-warni baru benar-benar jadi di penghujung hari, sedikit senyum, kusimpulkan di ujung-ujung perekatnya. Kukemas, tak begitu rapi, tangan lelaki mungkin, yang jelas tidak terbiasa, dan hanya untukmu-arabos-.

Saatnya tiba, detak dada di kiri mulai meninggi menandakan grogi atau sejenisnya. Mungkin juga terlalu bersemangat, aku pun mulai berangkat. Menumpang senja, Jebres perlahan buram di mataku. Lamat-lamat aku berucap, kuharap sampai tujuan dengan selamat. Sengaja tidak pamit, mungkin itu membuat langit sedih. Senja perlahan berjalan, gerimis mengucur menusuki dinding-dinding gerbong. Seperti gontai, aku tak berani berkata, hanya berani melihat, tidak ada anak kecil yang melambai atau sekedar melihat dengan girang di palang rel biasanya. Semua tertunduk saat aku lewat, di dalam gerbong yang dingin. Mulai miring ke kiri, pertanda lokomotif mengarah ke sudut yang sama. Tak begitu lama sebaliknya, gerbong berhenti, di Stasiun Purwosari.

Samar merangsek, tidak berdesakan, bukan musim mudik pikirku. Belum terlalu malam tapi sudah gelap, gerbong kembali bergerak, suara khas. Getar di dadaku  belum berhenti juga, malah semakin mendebar. Rencana-rencanaku, belum tentu berhasil. Meski sudah kupikirkan, tapi semua bisa terjadi begitu saja, dan menggagalkan semuanya.

Sekarang gelap benar-benar di depan mata, meski gerbongku menuju arah cahaya. Air pun benar-benar menghujam, tidak segan-segan seperti tadi yang hanya menusuk-nusuk. Sekarang mengguyur. Di dalam gerbong aku mematung, memikirikan senyummu ketika bertemu esok, seperti apa. Senyum yang manis pastinya, atau senyum kecil malu-malu yang kadang kucuri pandang saat engkau iyakan rekaanku.

Gerbong masih kuyup, suara penjaja makanan tak mereda. Setiap pemberhentian selalu ada, tidak bosan tapi tidak senekat dahulu, saat kita pernah naik di suatu gerbong yang sama. Seperti itu terulang-ulang tiap kali mataku kaget, tiap kali di pemberhentian.

Dering seluler menemaniku, itu darimu ya hanya darimu siapa lagi. Kau tanya aku di mana, sedang apa seperti biasanya. Memang sudah dari sananya tidak pandai bermain kata, kujawab seadanya. Kudengar suara yang di sana sedikit girang tapi, juga cemas. Kau tanyakan bagaimana aku, bagaimana ini, itu dan di mana, sampai kau tercucur air mata.

Siapa yang tega, siapa yang menduga, akulah yang membuatnya begitu. Aku egois, ya. Kubuang rasa itu, rasa-rasa yang lain. Kutetapkan tekat, sekitar setengah lima lewat kujejakkan kaki di Senen.

Senen pagi di hari sabtu. Kubawa cerita, untuk kita. Kulihat sekeliling semua serba pertama, Blok-M, Taman Suropati, Panglima Polim jalan-jalan beraspal yang belum ku kenal. Sudut-sudut tinggi menjulang. Semua samar, dengan kantukku. Kendaraan Patas ber-ac yang kutumpangi sudah di penghujung jalan, aku turun berputar dan melompat ke angkot yang mengantarkan ke benda barat tapat di angka 9.

Belum siang benar, tapi pagi itu sudah sedikit gerah. Aku percepat langkah ke Blok D, di ujungnya yang aku selalu ingat, itu rumahmu.

Lega, masih kulihat senyummu, rencana-rencanku gagal, tapi digantikan dengan begitu cepat dan luar biasa. Aku di sampingmu, di dekatmu, bisa meraihmu. Lekas ku ulurkan tangan, merogoh dalam-dalam. Kusunggingkan bibir, berucap selamat ulang tahun...semoga panjang umur sehat selalu bahagia selalu. Kusodorkan Kertas warna-warni, seisi rumah tampak berpadu padan, senangnya.

-Agilbos-


Selasa, 29 Januari 2013

Kosakata

Perbedaharaan kata
Bendahara, kekayaan
Perbendaharaan, kekayaaan
Ya...banyaknya kata yang kita miliki

Sering mendengar, membaca, atau menuliskannya tetapi lupa, kurang tahu kadang tidak mengerti sama sekali. coba kita mulai

--tersaput: tertutu, biasanya bulan atau awan
--mencangkung: duduk dng lutut dinaikkan, memeluk lutut
--gulana: letih, lesu
--menguar: mengulurkan (tongkat dsb) untuk meraba-raba untuk mencari jalan
--membusai: kalau busai, berati tersebar
--kapiran:  tidak terurus, telantar, tidak beroleh apa-apa, sia-sia
--

masih berlanjut...semakin ke bawah semakin mirip teka-teki silang

Senin, 28 Januari 2013

Sekaten

Sekaten hitam putih
Bianglala warna-warni
Arum manis merah jambu
Deburan ombak banyu
Raungan tong setan
Jeritan rumah hantu
Sirine kereta mini
Dan penjaja lainnya
Sepertinya hilang senyap
Meski begitu, kuminta tetaplah berwarna
Tetap ceria

Ingatlah...suatu malam cerah
Ketika kita sengaja mengurung diri
Di sudut ketinggian Sekaten
Gemerlap warna-warni menemani
Saat semuanya berhenti
Saat itu kau tersenyum puas
Aku was-was mendongak ke atas
Saat perlahan menepi, gemuruh dada mulai surut
Aku larut dalam senyummu, aku selalu ingin lagi, saat ini juga




Sekaten 2013-Oi
Nyium Naga-Oi

Rumah Hantu-Oi

Maen Sendiri-Oi

Naik Kereta Api Tut tut tutttt-Oi

Tong Setan-Oi



-Agil-