Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Kamis, 31 Januari 2013

Kertas Warna-Warni

Setelah tertunda, saatnya melanjutkan. Cerita akhir pekan, awal bulan di tahun baru. Seperti empat tahunan yang lalu, dan tiap-tiap tahun berikutnya hingga kini. Awal tahun menjadi sesuatu yang spesial. Sedikit menguras otak dan memacu adrenalin, karena setiap detiknya berjalan lebih cepat, seolah mengejar tanpa sedikitpun hiba melihatku, yang selalu memikirkanmu.

Bulan ini, awal tahun, kuberharap cemas bisa memberikanmu sesuatu kejutan atau seperti biasa berlalu dengan ceria, dengan cerita. Memang semuanya membantu, segalanya sudah disiapkan. Sampai akhir pekan bulan ini, semua berjalan lancar.

Kertas warna-warni, belum siap benar. Lantaran baru terpikir beberapa hari mungkin malah kurang. Entah terlalu senang atau terlalu berangan-angan bagaimana nanti, bagaimana semua direncanakan. Kertas warna-warni baru benar-benar jadi di penghujung hari, sedikit senyum, kusimpulkan di ujung-ujung perekatnya. Kukemas, tak begitu rapi, tangan lelaki mungkin, yang jelas tidak terbiasa, dan hanya untukmu-arabos-.

Saatnya tiba, detak dada di kiri mulai meninggi menandakan grogi atau sejenisnya. Mungkin juga terlalu bersemangat, aku pun mulai berangkat. Menumpang senja, Jebres perlahan buram di mataku. Lamat-lamat aku berucap, kuharap sampai tujuan dengan selamat. Sengaja tidak pamit, mungkin itu membuat langit sedih. Senja perlahan berjalan, gerimis mengucur menusuki dinding-dinding gerbong. Seperti gontai, aku tak berani berkata, hanya berani melihat, tidak ada anak kecil yang melambai atau sekedar melihat dengan girang di palang rel biasanya. Semua tertunduk saat aku lewat, di dalam gerbong yang dingin. Mulai miring ke kiri, pertanda lokomotif mengarah ke sudut yang sama. Tak begitu lama sebaliknya, gerbong berhenti, di Stasiun Purwosari.

Samar merangsek, tidak berdesakan, bukan musim mudik pikirku. Belum terlalu malam tapi sudah gelap, gerbong kembali bergerak, suara khas. Getar di dadaku  belum berhenti juga, malah semakin mendebar. Rencana-rencanaku, belum tentu berhasil. Meski sudah kupikirkan, tapi semua bisa terjadi begitu saja, dan menggagalkan semuanya.

Sekarang gelap benar-benar di depan mata, meski gerbongku menuju arah cahaya. Air pun benar-benar menghujam, tidak segan-segan seperti tadi yang hanya menusuk-nusuk. Sekarang mengguyur. Di dalam gerbong aku mematung, memikirikan senyummu ketika bertemu esok, seperti apa. Senyum yang manis pastinya, atau senyum kecil malu-malu yang kadang kucuri pandang saat engkau iyakan rekaanku.

Gerbong masih kuyup, suara penjaja makanan tak mereda. Setiap pemberhentian selalu ada, tidak bosan tapi tidak senekat dahulu, saat kita pernah naik di suatu gerbong yang sama. Seperti itu terulang-ulang tiap kali mataku kaget, tiap kali di pemberhentian.

Dering seluler menemaniku, itu darimu ya hanya darimu siapa lagi. Kau tanya aku di mana, sedang apa seperti biasanya. Memang sudah dari sananya tidak pandai bermain kata, kujawab seadanya. Kudengar suara yang di sana sedikit girang tapi, juga cemas. Kau tanyakan bagaimana aku, bagaimana ini, itu dan di mana, sampai kau tercucur air mata.

Siapa yang tega, siapa yang menduga, akulah yang membuatnya begitu. Aku egois, ya. Kubuang rasa itu, rasa-rasa yang lain. Kutetapkan tekat, sekitar setengah lima lewat kujejakkan kaki di Senen.

Senen pagi di hari sabtu. Kubawa cerita, untuk kita. Kulihat sekeliling semua serba pertama, Blok-M, Taman Suropati, Panglima Polim jalan-jalan beraspal yang belum ku kenal. Sudut-sudut tinggi menjulang. Semua samar, dengan kantukku. Kendaraan Patas ber-ac yang kutumpangi sudah di penghujung jalan, aku turun berputar dan melompat ke angkot yang mengantarkan ke benda barat tapat di angka 9.

Belum siang benar, tapi pagi itu sudah sedikit gerah. Aku percepat langkah ke Blok D, di ujungnya yang aku selalu ingat, itu rumahmu.

Lega, masih kulihat senyummu, rencana-rencanku gagal, tapi digantikan dengan begitu cepat dan luar biasa. Aku di sampingmu, di dekatmu, bisa meraihmu. Lekas ku ulurkan tangan, merogoh dalam-dalam. Kusunggingkan bibir, berucap selamat ulang tahun...semoga panjang umur sehat selalu bahagia selalu. Kusodorkan Kertas warna-warni, seisi rumah tampak berpadu padan, senangnya.

-Agilbos-


0 komentar: