Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Minggu, 31 Maret 2013

Penghujung Maret -Berbenah atau Musnah-

Baru terpikirkan, satu ide yang baru aja meledak di otakku. Penghujung Maret ini akan menjadi awalan tiap tulisan selanjutnya, bulan berikutnya. Ya, mulai penghujung hari ini satu tulisan tertata untuk memulai awal hari esoknya. Cerita-cerita baru inginku tuangkan, seperti cerita penghujung bulan Maret.

Kotaku berbenah, lokasi-lokasi mulai musnah, suatu konsekuensi untuk memulai babak baru, tapi apakah harus?
Mulai Omah Lowo yang segera tergantikan, sampai stasiun radio kenangan juga ikut digusur. Proliman Sukoharjo, kehilangan maskotnya. Omah Lowo dan Stasiun Radio Top sudah sirna entah berganti tempat di mana. Syukurnya, aku sempat merekam sisa-sisa puing dua bangunan itu. Semoga bisa menjadi kenangan, menjadi tanda, menjadi bahan cerita untuk anak cucu warga kota ku, Sukoharjo bahwa dulu, di situ ada dua bangunan yang satu memanjakan suara-suara penyiar radio, sampingnya lagi bangunan berisi suara riuh kelelawar berbarengan dengan bau anyir tainya.

Hanya sebagai pengingat, dan semoga bermanfaat.














Agil--DianaMini--Lucky BW 100

Sabtu, 30 Maret 2013

Tumbang

Semua ada masanya, ada saatnya kita harus percaya. Meski sekuat apapun, ada waktunya akan menemui kelemahan. Sepandai apapun, akan menemui satu titik ketidak tahuan. Masih banyak lagi kehebatan, kelebihan yang suatu saat akan bertemu ketidakberdayaan.

Sore itu, kapan ya pas nya, hmm yang jelas masih bulan ini, tidak lama setelah tulisan ini mengalir.Memang benar-benar mengerikan, tidak biasanya, angin begitu kencang bertiup dari utara. Mendung gelap merangkak tepat di atas atap rumah sawah. Seketika kabel Sutet belakang rumah beradu dengan angin, menimbulkan suara, nguuungggggg...

Angin dan awan gelap belum reda, lantas disusul tetasan gerimis besar-besar, seperti biasa aku bersiap dalam rumah jaga-jaga siapa tau air hujan itu menerobos genting. Memang musimnya, musim basah, hujan di mana-mana, tapi hari itu tidak biasa. Begitu deras dan angin yang tak beraturan.
Sekian lama, sore berganti malam, hujan mulai reda. Semua dirapikan dan dibersihkan, daun-daun kering yang menerobos langit-langit rumah yang memang tanpa penghalang berserakan menunggu disapu. Tampak sama, namun tidak begitu.

Keesokan harinya, aku keluar rumah menuju utara kota. Lewat jalan biasa, tapi ada yang menarik mata. Sebuah pohon besar itu tumbang. Pohon puluhan tahun yang setia memberi teduh penghuninya, tubuh-tubuh terbujur kaku dalam pusara. Dalam hati, sungguh dahsyat akibat hujan angin tempo hari. Kembali kutafsirkan, memang hari itu saatnya pohon peneduh itu tumbang. Setelah puluhan tahun gagah menghalangi sengatan matahari, memberi kesejukan penghuni di bawahnya.

Perlahan kuhampiri, pusara-pusara itu tertindih pohon tumbang. Orang-orang menggorok, menebang pohon tumbang. Aku berusaha mengenang, merekam semuanya, membekukannya dalam kotak-kotak hitam putih. Ditemani senyum, ditemani tawa aku melanjutkan aktivitasku melompat ke sana kemari, mengitari pusara-pusara.

Kulongokkan mata sejenak, akar pohon tumbang itu tercerabut. Sekitar dua meter-an lebih, menganga. Pohon itu tumbang ke selatan, aku di hadapanya, mungkin juga di belakangnya. Aku bertemu sesosok sederhana. Entah siapa, namanya lupa, padahal sempat bersua saling bertukar nama. Tapi asalnya aku tau, Pondok bukan desa tetangga yang benar sudah beda kota. Sengaja tak kutanya lebih lama, aku hanya punya waktu sebentar lantas pergi bergegas.

Memang waktunya pohon itu tumbang, sekarang.








Agilbos-DianaMini-Lucky BW 100

Jumat, 29 Maret 2013

Pintu Air Tirtonadi

Siang yang begitu menyala, penuh kegairahan menyambutku di Pintu Air Tirtonadi. Airnya masih cokelat dengan arus tidak beraturan di sana sini ada sangkutan sampah, sedangkan hampir di tengah-tengah ada sejengkal pulau, sedimen. Pendangkalan sepertinya dibiarkan, atau memang itu kerja alam.

Kuamati, beberapa pekerja menata batubata, membetuk dinding pembatas kali dan jalur pejalan kaki, yang lain hilir mudik manusia meniti jembatan sempit pintu air. Kutelusuri, kuikuti, sampai di kotakan bangunan berdiri sejajar gerigi-gerigi besar sepertinya salah satu alat buka tutup pintu air.
Tuas kemudi tergembok, minyak pelumas masih basah, pertanda sering dipakai dan berfungsi. Tapi, keadaan sekeliling sepertinya kurang terurus, tepatnya tidak diurus. Di sana sini penuh coretan, seperti judul lagunya Bang Iwan Fals, coretan dinding hehehe. Pintu-pintu tertutup rapat, mungkin memang tidak bisa dibuka. Bebauan sedikit menyengat, semacam pesing tapi seketika berganti aroma tiap angin bergema menerpaku.

Dalam posisi ini aku berhenti sejenak, mencari aroma-aroma tak terduga, berharap ada orang yang menyapa. Aku menunggu, tak berapa lama muncul sesosok kecil, cuek berjalan seadanya, menatapku lekat seolah bertanya, kamu siapa?
Jalannya perlahan tapi seperti berlari, menjauh membelah jebatan sempit sekitar semeter lebarnya. Tak lama, memang sengaja aku tunggu, dan benar saja orang yang sama lewat, sekarang sedikit ada senyum, tapi tertutup malu, dan bergegas melintas menerabas lensa mata dan kameraku.
Penasaran denga jembatan sempit di pintu air itu, aku mengikuti arah lurus menuju barat. Langkah pertama mantab, perlahan tersengat panas membuat kucuran keringat di dahi. Kulongokkan badan ke bawah, tanpa sengaja tangan langsung merespon erat memegang pipa besi bulat pengaman jembatan. Angin menerpa, mencoba mengusap keringat, tetap saja was-was. Aku di ketinggian, yang sempit dan di bawah ada arus air yang cukup mudah menyeret badan ringanku.
Di pertengahan aku berhenti lagi, tertarik dengan sampah yang terperangkap tidak bisa hanyut mengalir ikut ke muara. Kurekam perlahan, sedikit berpegangan bulatan besi lagi, dan ternyata masuk frame hehehehe.
Sedikit gemetar tapi harus aku taklukkan rasa itu. Tentunya bukan apa-apa bagi yang lain, bahkan anak kecil yang tadi lewat, berbeda denganku yang tampak gugup dengan jembatan sempit di pintu air dekat terminal Tirtonadi itu.


Sampai di seberang lega menyerang kegugupan hilang, kembali mengabadikan cerita siang itu. Pekerja perbaikan pintu air masih riuh mengerjakan tugasnya, di bawah. Ku abadikan, sambil mengumpulkan konsentrasi untuk kembali.
Kembali ke seberang sudah barang tentu, tanpa menunggu komando sebelum tubuh basah dengan keringat, aku segera melangkah kembali ke tempat semula. lebih cepat tapi tidak buru-buru. Kuamati, tanpa melihat ke bawah, kurasakan angin panas yang menerpa kulit, sempurna menjadikan kulitku mengkilat dengan keringat.
Hampir dekat ke pinggir, kembali kulihat aktivitas siang itu dari atas jembatan. Entah pencari ikan, atau pekerja, atau entah apa. Jalannya sedikit tergesa, di antara batuan licin dan air cukup deras gontai berjalan, kadang hilang keseimbangan dan sedikit terpeleset, namun bangun lagi dengan cepat. Sampai di jarak tangkap lensaku, sewajarnya aku mulai merekam perjalanan mereka.





Cukup lama siang itu aku berdiri di pintu air Tirtonadi, sayonara tentunya terucap, tapi  mustinya bisa berjumpa lagi. Sebelum pulang, kuabadikan wajah pintu air itu dari depan, ironi. Ya, cuma itu, bangunan dengan fungsi yang strategis, tapi tidak terawat. Pesing, kumuh, hunian liar, tak terurus, sepertinya lekat dengan Pintu Air Tirtonadi. Semoga berubah...

agil --neo & lucky bw100

Jumat, 22 Maret 2013

Hati-hati

Hati-hati..kata ulang yang maknanya sangat dalam. Waspada, kata lainnya. Pagi itu sebenarnya kehati-hatian itu sudah saya patri dari jauh-jauh hari hingga jadi kebiasaan pribadi. Helm, satu benda yang sangat penting dalam berkendara. Entah apa yang ada dalam benak saya, helm saya tenteng tenteng.
Alasan mengunjungi pameran para penghobi kamera plastik Solo, rame, soalnya barengan sama CFD-carfreeday-. Di dekat jembatan sriwedari, si helm saya taruh di spion motor--saya pikir motor teman-teman yang pameran--

Dan saya salah, pameran selesai, CFD bubar, kami bergegaas, foto keluarga, saya tertarik mengabadikan momen itu. Kehati-hatian saya lemah, tak terpikirkan beberapa menit tentang helm. Tersadar, sudah raib sempat terfoto, ya hanya foto, toh tidak ada yang mengaku, hanya kelengahan yang terbayar dengan kehilangan. Sangat berarti, tapi sudah terjadi, diingat dan jangan sampai terulang.

Foto mungkin bisa merekam, tapi memaafkan dan mengiklaskan menjadi pelajaran.






Jumat, 01 Maret 2013

Omah Lowo -Sukoharjo-

Sukoharjo, kota kelahiranku juga mempunyai gedung tua yang dihuni mungkin ribuan kelelawar. Letaknya tepat di depan gedung budi sasono, sebelah barat proliman Sukoharjo itu. Cukup mudah di temui, memang tidak berpagar tapi memang sengaja tidak bisa dibuka. Ketika musim hujan, kalau lewat dekat situ akan tercium bau khas.

Sekarang, tidak tahu harus senang atau sebaliknya. Gedung bekas komplek milik pemerintah Sukoharjo itu kemungkinan akan dipugar. Lowo-lowonya tertulis sudah dipindahkan, padahal belum sempat merekam lalu-lalang kelelawar keluar atau masuk gedung itu. Lantas, hari Minggu sore kemaren, 24 bulan ke dua, kusempatkan, merekam sisa-sisa bangunan itu.

Genting, sudah tidak di tempatnya, di turunkan sehingga cahaya-cahaya siang yang panas langsung menerkam lantai gedung tua itu. Bau khas masih tercium, sampai keluar meski semua jalan masuk ditutup rapat. Ya hanya sisa-sisa yang kudapat, dari omah lowo -sukoharjo-







agil-lcw