Siang yang begitu menyala, penuh kegairahan menyambutku di Pintu Air Tirtonadi. Airnya masih cokelat dengan arus tidak beraturan di sana sini ada sangkutan sampah, sedangkan hampir di tengah-tengah ada sejengkal pulau, sedimen. Pendangkalan sepertinya dibiarkan, atau memang itu kerja alam.
Kuamati, beberapa pekerja menata batubata, membetuk dinding pembatas kali dan jalur pejalan kaki, yang lain hilir mudik manusia meniti jembatan sempit pintu air. Kutelusuri, kuikuti, sampai di kotakan bangunan berdiri sejajar gerigi-gerigi besar sepertinya salah satu alat buka tutup pintu air.
Tuas kemudi tergembok, minyak pelumas masih basah, pertanda sering dipakai dan berfungsi. Tapi, keadaan sekeliling sepertinya kurang terurus, tepatnya tidak diurus. Di sana sini penuh coretan, seperti judul lagunya Bang Iwan Fals, coretan dinding hehehe. Pintu-pintu tertutup rapat, mungkin memang tidak bisa dibuka. Bebauan sedikit menyengat, semacam pesing tapi seketika berganti aroma tiap angin bergema menerpaku.
Dalam posisi ini aku berhenti sejenak, mencari aroma-aroma tak terduga, berharap ada orang yang menyapa. Aku menunggu, tak berapa lama muncul sesosok kecil, cuek berjalan seadanya, menatapku lekat seolah bertanya, kamu siapa?
Jalannya perlahan tapi seperti berlari, menjauh membelah jebatan sempit sekitar semeter lebarnya. Tak lama, memang sengaja aku tunggu, dan benar saja orang yang sama lewat, sekarang sedikit ada senyum, tapi tertutup malu, dan bergegas melintas menerabas lensa mata dan kameraku.
Penasaran denga jembatan sempit di pintu air itu, aku mengikuti arah lurus menuju barat. Langkah pertama mantab, perlahan tersengat panas membuat kucuran keringat di dahi. Kulongokkan badan ke bawah, tanpa sengaja tangan langsung merespon erat memegang pipa besi bulat pengaman jembatan. Angin menerpa, mencoba mengusap keringat, tetap saja was-was. Aku di ketinggian, yang sempit dan di bawah ada arus air yang cukup mudah menyeret badan ringanku.
Di pertengahan aku berhenti lagi, tertarik dengan sampah yang terperangkap tidak bisa hanyut mengalir ikut ke muara. Kurekam perlahan, sedikit berpegangan bulatan besi lagi, dan ternyata masuk frame hehehehe.
Sedikit gemetar tapi harus aku taklukkan rasa itu. Tentunya bukan apa-apa bagi yang lain, bahkan anak kecil yang tadi lewat, berbeda denganku yang tampak gugup dengan jembatan sempit di pintu air dekat terminal Tirtonadi itu.
Sampai di seberang lega menyerang kegugupan hilang, kembali mengabadikan cerita siang itu. Pekerja perbaikan pintu air masih riuh mengerjakan tugasnya, di bawah. Ku abadikan, sambil mengumpulkan konsentrasi untuk kembali.
Kembali ke seberang sudah barang tentu, tanpa menunggu komando sebelum tubuh basah dengan keringat, aku segera melangkah kembali ke tempat semula. lebih cepat tapi tidak buru-buru. Kuamati, tanpa melihat ke bawah, kurasakan angin panas yang menerpa kulit, sempurna menjadikan kulitku mengkilat dengan keringat.
Hampir dekat ke pinggir, kembali kulihat aktivitas siang itu dari atas jembatan. Entah pencari ikan, atau pekerja, atau entah apa. Jalannya sedikit tergesa, di antara batuan licin dan air cukup deras gontai berjalan, kadang hilang keseimbangan dan sedikit terpeleset, namun bangun lagi dengan cepat. Sampai di jarak tangkap lensaku, sewajarnya aku mulai merekam perjalanan mereka.
Cukup lama siang itu aku berdiri di pintu air Tirtonadi, sayonara tentunya terucap, tapi mustinya bisa berjumpa lagi. Sebelum pulang, kuabadikan wajah pintu air itu dari depan, ironi. Ya, cuma itu, bangunan dengan fungsi yang strategis, tapi tidak terawat. Pesing, kumuh, hunian liar, tak terurus, sepertinya lekat dengan Pintu Air Tirtonadi. Semoga berubah...
agil --neo & lucky bw100