Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Sabtu, 30 Maret 2013

Tumbang

Semua ada masanya, ada saatnya kita harus percaya. Meski sekuat apapun, ada waktunya akan menemui kelemahan. Sepandai apapun, akan menemui satu titik ketidak tahuan. Masih banyak lagi kehebatan, kelebihan yang suatu saat akan bertemu ketidakberdayaan.

Sore itu, kapan ya pas nya, hmm yang jelas masih bulan ini, tidak lama setelah tulisan ini mengalir.Memang benar-benar mengerikan, tidak biasanya, angin begitu kencang bertiup dari utara. Mendung gelap merangkak tepat di atas atap rumah sawah. Seketika kabel Sutet belakang rumah beradu dengan angin, menimbulkan suara, nguuungggggg...

Angin dan awan gelap belum reda, lantas disusul tetasan gerimis besar-besar, seperti biasa aku bersiap dalam rumah jaga-jaga siapa tau air hujan itu menerobos genting. Memang musimnya, musim basah, hujan di mana-mana, tapi hari itu tidak biasa. Begitu deras dan angin yang tak beraturan.
Sekian lama, sore berganti malam, hujan mulai reda. Semua dirapikan dan dibersihkan, daun-daun kering yang menerobos langit-langit rumah yang memang tanpa penghalang berserakan menunggu disapu. Tampak sama, namun tidak begitu.

Keesokan harinya, aku keluar rumah menuju utara kota. Lewat jalan biasa, tapi ada yang menarik mata. Sebuah pohon besar itu tumbang. Pohon puluhan tahun yang setia memberi teduh penghuninya, tubuh-tubuh terbujur kaku dalam pusara. Dalam hati, sungguh dahsyat akibat hujan angin tempo hari. Kembali kutafsirkan, memang hari itu saatnya pohon peneduh itu tumbang. Setelah puluhan tahun gagah menghalangi sengatan matahari, memberi kesejukan penghuni di bawahnya.

Perlahan kuhampiri, pusara-pusara itu tertindih pohon tumbang. Orang-orang menggorok, menebang pohon tumbang. Aku berusaha mengenang, merekam semuanya, membekukannya dalam kotak-kotak hitam putih. Ditemani senyum, ditemani tawa aku melanjutkan aktivitasku melompat ke sana kemari, mengitari pusara-pusara.

Kulongokkan mata sejenak, akar pohon tumbang itu tercerabut. Sekitar dua meter-an lebih, menganga. Pohon itu tumbang ke selatan, aku di hadapanya, mungkin juga di belakangnya. Aku bertemu sesosok sederhana. Entah siapa, namanya lupa, padahal sempat bersua saling bertukar nama. Tapi asalnya aku tau, Pondok bukan desa tetangga yang benar sudah beda kota. Sengaja tak kutanya lebih lama, aku hanya punya waktu sebentar lantas pergi bergegas.

Memang waktunya pohon itu tumbang, sekarang.








Agilbos-DianaMini-Lucky BW 100

0 komentar: