Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Kamis, 29 Agustus 2013

Merdeka!!!

Hari kemerdekaan tahun ini begitu spesial. Ada peristiwa unik yang disuguhkan oleh anak-anak bangsa yang cinta tanah air dan bangsa. Tepat tanggal 17 Agustus, Jembatan Bacem, penghubung Kabupaten Sukoharjo dan Kota Surakarta-Solo- menjadi saksi sejarah itu.
Siang yang menyengat tak menyurutkan semangat patriot-patriot tua maupun muda untuk mewujudkan sejarah baru. Sejarah membentangkan bendera Sangsaka merah putih yang membelah sunga Bengawan Solo. Bendera berukuran raksasa, sekitar panjang mencapai 100 meter dan lebar tidak kurang dari 90 meter menjadi sarana pemupuk rasa nasionalisme warga.
Dibantu masyarakat bekerjasama dengan TNI, bendera perlahan membentang dari sisi utara sungai membelah menuju utara. Diiringi lagu Indonesia Raya, semua berjalan sesuai rencana. Bendera terkembang sempurna sesekali menyentuh air kemudian melambai-lambai ditiup angin. Saya tidak bisa membayangkan, dahulu untuk mengibarkan sang merah putih ini tentunya banyak sekali yang dikorbanan, yak hanya harta benda, nyawa jadi taruhannya.
Dengan ini kita pekikkan kata penyemangat...Merdeka !!! Merdeka !!! Merdeka !!!

Selasa, 13 Agustus 2013

Enam Hari Lima Malam

Detik ini kau melayang-layang menuju tempat kesayangan, Pamulang
Terimakasih untuk enam hari lima malam ini
Enam hari, panas meraja
Lima malam, dingin mencekam

Lebaran kali ini terasa beda. Di rumah sawah, di rumah mbah kakung, atau di hatiku. Di rumah sawah masih seperti biasa, di rumah mbah ada Nimas, yang bikin gemas. Sedangkan di hatiku, sumringah karena lekas bertemu siArabos.
Telat sehari, maaf. Soalnya diminta orang-orang ke sana ke sini (H-1 Lebaran). Ga sabar, hari H tiba. Ke lapangan tempat main bola saat SD dulu, bertemu teman lama, bertegur sapa dengan orang lama, tanya kabar dengan mereka. Aku memikirkanmu.
Sampai rumah sawah, berbenah, bersiap, berganti pakaian menuju rumah mbah kung. Mulai panas, bau khas keringat menyengat. Satu rumah berganti, menuju pintu selanjutnya. Terakhir rumah mbah gito, entah siapa, yang jelas aku kenal dia, apalagi si mbah, kenal semuanya. Menuju pulang ke rumah sawah.
Tidak lelah, karena telah kubuang jauh-jauh. Bertemu di rumah barumu, itu keyakinanku. Bergegas, pamit, sampai juga bertemu. Masih terbayang, sampai sekarang. Setiap pertemuan, aku pastikan terekam baik di otaku ini. Sampai otak ini tak berfungsi.
Masuk, salaman satu-satu tukar senyum. Wajah-wajah lama, ada juga yang baru, tapi yang lama masih sama, hangat penuh sapa dan canda. Aku melirik, senyummu.
Perlahan mencair, terbantu udara panas sore itu, sesuai suasana hatiku. Degupnya perlahan berirama, mengikuti liukan bola matamu, yang tak henti bergerak ke sana kemari, tapi terpola. Suasanya remang desa mulai merasuk, lampu-lampu menyala. Sorak sorai anak kecil bernama A masih menggema, tak mereda, makin menjadi, iya.
Mata berpasang-pasangan, mulai meredup, lampu-lampu kamar segera menyusul mengatup. Pelan-pelan suara-suara bermunculan. Dengkuran bercampur nyanyian cicak, krusak krusuk plastik pembungkus kasur bergesekan dengan kulit, seperti jeritan kesakitan.
Pagi datang, pertama kucari pasti siapa. Siapa itu tentu kamu. Siapa lagi kalo bukan dia, dia itu kamu. Bergegas mandi, rapi, wangi, siap menuju ke mana. Motor dikunci, untuk segera diajak mengitari mengunjungi yang jarang didatangi. Saudara tua, saudara lama, saling bertemu bertukar sapa.
Sampai di pertengahan kelaparan, mampir sebentar ke tempat tukang  sate. Tinggal tong dan seng, namun tanpa karat sedikitpun. Siapa sangka di sini juga kita bertemu minuman yang entah bagaimana rasanya, aku belum tahu, dia Saparella. Berbotol seksi mirip gitar spanyol, bersemboyan exlusive drink. Sudah lama rasanya merasakan makan bersama, saling bersampingan.
Pulang, ke rumah baru. Bertemu debu, tapi seru. Kita duduk di beranda menunggu yang lain. Perlahan satu datang, dua menyusul, lama-lama lengkap. Rumah kembali meriah, ada berbagai macam polah tingkah lucu. Sampai pada sore, aku kembali membelakangimu di jalanan kota kecilmu. Kau berpegang di belakang, erat. Malam kembali datang semua terpejam. Hari baru segera tiba, sabtu.
Udara masih sama seperti beberapa hari yang lalu, siang tapi anginnya dingin sedangkan hawanya begitu menyengat. Membuat badan harus bertahan lebih kuat. Hari ini beberapa orang harus pulang, pasti jadi sepi. Tidak kemana-mana, berdiam di rumah, bertahan dari udara tak bersahabat. Kamu masih belum seperti sedia kala, sedikit anget. Obat-obatan sedikit membantu, makanan mulai bisa tercerna. Aku ikut senang, kala sore itu senyummu kembali terkembang, seperti senja saat itu, mempesona. Aku tak jadi pulang.
Sebentar lagi semua akan kembali, kau ke rumah aku juga begitu. Semoga tidak akan lama, kita musti berjumpa lagi. Terimakasih untuk enam hari lima malam ini...



Selasa, 06 Agustus 2013

Dia memang baik

Dia memang baik

Memberiku waktu untuk menemuimu
Meski sebentar, tapi sangat nyata
Kadang malah seperti cerita drama
Pernah sampai hampir lupa, karena terlalu panjang dan lama
Pernah juga pendek-pendek mirip iklan baris
Dia memang baik
Masih memberiku kesempatan bertemu
Menawarkan cerita, seringnya memang sangat nyata

Aku selalu ditunjuk sebagai aktornya, kau tentu saja pasangannya
Melenceng dari pakem, bukan berarti aneh
Sebab satu sama lainnya selalu ada hubungan
Seperti cerita ini, tidak melulu menampilkan peran pembantu yang kita tahu
Seringnya malah sebaliknya, tak kenal
Dia memang baik
Kita selalu dipasangkan bersamaan
Kita saling menguatkan
Kita saling menyematkan senyuman
Dan benar, kita terpisah ruang dan waktu
Tapi, Dia memang baik

Cerita sesaat setelah terjaga

Senin, 05 Agustus 2013

Belalai Kupu-kupu

Belalai kupu-kupu
Teman mimpi tidurmu
Belalai kupu-kupu
Kata mesra untukmu
Belalai kupu-kupu
Semoga ingat selalu

Jangan pergi jauh-jauh

Waduk Mulur Pagi Hari-SuperHeadz UWS


Menunggu pagi
Mengharap cepat menjalar
Mata tak berteman, bebas menerawang
Pagi ini sepertinya pagi tak bertuan
Ku tunggu pagi
Kuharap cepat, tapi apa
Seperti tak bergerak
Sepagi ini aku merenungimu
Semua berdebar tapi diam
Menambah beku pagi ini
Mata mata ku mengembara
Lepas tak berarah
Cepatlah kembali, buka binar kelopak matamu
Kembali ke dadaku
Tak rela kau pergi jauh-jauh dariku

Kamis, 01 Agustus 2013

Empat Datang Empat Pergi


Empat datang empat pergi
Belum genap sehari, satu pergi
Berganti hari, Empat datang empat pergi
Anak inci tak ada lagi :-(


Ibu inci, tidak beranjak lalu menatap diam