Detik ini kau melayang-layang menuju tempat kesayangan, Pamulang
Terimakasih untuk enam hari lima malam ini
Enam hari, panas meraja
Lima malam, dingin mencekam
Lebaran kali ini terasa beda. Di rumah sawah, di rumah mbah kakung, atau di hatiku. Di rumah sawah masih seperti biasa, di rumah mbah ada Nimas, yang bikin gemas. Sedangkan di hatiku, sumringah karena lekas bertemu siArabos.
Telat sehari, maaf. Soalnya diminta orang-orang ke sana ke sini (H-1 Lebaran). Ga sabar, hari H tiba. Ke lapangan tempat main bola saat SD dulu, bertemu teman lama, bertegur sapa dengan orang lama, tanya kabar dengan mereka. Aku memikirkanmu.
Sampai rumah sawah, berbenah, bersiap, berganti pakaian menuju rumah mbah kung. Mulai panas, bau khas keringat menyengat. Satu rumah berganti, menuju pintu selanjutnya. Terakhir rumah mbah gito, entah siapa, yang jelas aku kenal dia, apalagi si mbah, kenal semuanya. Menuju pulang ke rumah sawah.
Tidak lelah, karena telah kubuang jauh-jauh. Bertemu di rumah barumu, itu keyakinanku. Bergegas, pamit, sampai juga bertemu. Masih terbayang, sampai sekarang. Setiap pertemuan, aku pastikan terekam baik di otaku ini. Sampai otak ini tak berfungsi.
Masuk, salaman satu-satu tukar senyum. Wajah-wajah lama, ada juga yang baru, tapi yang lama masih sama, hangat penuh sapa dan canda. Aku melirik, senyummu.
Perlahan mencair, terbantu udara panas sore itu, sesuai suasana hatiku. Degupnya perlahan berirama, mengikuti liukan bola matamu, yang tak henti bergerak ke sana kemari, tapi terpola. Suasanya remang desa mulai merasuk, lampu-lampu menyala. Sorak sorai anak kecil bernama A masih menggema, tak mereda, makin menjadi, iya.
Mata berpasang-pasangan, mulai meredup, lampu-lampu kamar segera menyusul mengatup. Pelan-pelan suara-suara bermunculan. Dengkuran bercampur nyanyian cicak, krusak krusuk plastik pembungkus kasur bergesekan dengan kulit, seperti jeritan kesakitan.
Pagi datang, pertama kucari pasti siapa. Siapa itu tentu kamu. Siapa lagi kalo bukan dia, dia itu kamu. Bergegas mandi, rapi, wangi, siap menuju ke mana. Motor dikunci, untuk segera diajak mengitari mengunjungi yang jarang didatangi. Saudara tua, saudara lama, saling bertemu bertukar sapa.
Sampai di pertengahan kelaparan, mampir sebentar ke tempat tukang sate. Tinggal tong dan seng, namun tanpa karat sedikitpun. Siapa sangka di sini juga kita bertemu minuman yang entah bagaimana rasanya, aku belum tahu, dia Saparella. Berbotol seksi mirip gitar spanyol, bersemboyan exlusive drink. Sudah lama rasanya merasakan makan bersama, saling bersampingan.
Pulang, ke rumah baru. Bertemu debu, tapi seru. Kita duduk di beranda menunggu yang lain. Perlahan satu datang, dua menyusul, lama-lama lengkap. Rumah kembali meriah, ada berbagai macam polah tingkah lucu. Sampai pada sore, aku kembali membelakangimu di jalanan kota kecilmu. Kau berpegang di belakang, erat. Malam kembali datang semua terpejam. Hari baru segera tiba, sabtu.
Udara masih sama seperti beberapa hari yang lalu, siang tapi anginnya dingin sedangkan hawanya begitu menyengat. Membuat badan harus bertahan lebih kuat. Hari ini beberapa orang harus pulang, pasti jadi sepi. Tidak kemana-mana, berdiam di rumah, bertahan dari udara tak bersahabat. Kamu masih belum seperti sedia kala, sedikit anget. Obat-obatan sedikit membantu, makanan mulai bisa tercerna. Aku ikut senang, kala sore itu senyummu kembali terkembang, seperti senja saat itu, mempesona. Aku tak jadi pulang.
Sebentar lagi semua akan kembali, kau ke rumah aku juga begitu. Semoga tidak akan lama, kita musti berjumpa lagi. Terimakasih untuk enam hari lima malam ini...
Pagi datang, pertama kucari pasti siapa. Siapa itu tentu kamu. Siapa lagi kalo bukan dia, dia itu kamu. Bergegas mandi, rapi, wangi, siap menuju ke mana. Motor dikunci, untuk segera diajak mengitari mengunjungi yang jarang didatangi. Saudara tua, saudara lama, saling bertemu bertukar sapa.
Sampai di pertengahan kelaparan, mampir sebentar ke tempat tukang sate. Tinggal tong dan seng, namun tanpa karat sedikitpun. Siapa sangka di sini juga kita bertemu minuman yang entah bagaimana rasanya, aku belum tahu, dia Saparella. Berbotol seksi mirip gitar spanyol, bersemboyan exlusive drink. Sudah lama rasanya merasakan makan bersama, saling bersampingan.
Pulang, ke rumah baru. Bertemu debu, tapi seru. Kita duduk di beranda menunggu yang lain. Perlahan satu datang, dua menyusul, lama-lama lengkap. Rumah kembali meriah, ada berbagai macam polah tingkah lucu. Sampai pada sore, aku kembali membelakangimu di jalanan kota kecilmu. Kau berpegang di belakang, erat. Malam kembali datang semua terpejam. Hari baru segera tiba, sabtu.
Udara masih sama seperti beberapa hari yang lalu, siang tapi anginnya dingin sedangkan hawanya begitu menyengat. Membuat badan harus bertahan lebih kuat. Hari ini beberapa orang harus pulang, pasti jadi sepi. Tidak kemana-mana, berdiam di rumah, bertahan dari udara tak bersahabat. Kamu masih belum seperti sedia kala, sedikit anget. Obat-obatan sedikit membantu, makanan mulai bisa tercerna. Aku ikut senang, kala sore itu senyummu kembali terkembang, seperti senja saat itu, mempesona. Aku tak jadi pulang.
Sebentar lagi semua akan kembali, kau ke rumah aku juga begitu. Semoga tidak akan lama, kita musti berjumpa lagi. Terimakasih untuk enam hari lima malam ini...
0 komentar:
Posting Komentar