Sepertinya sebuah kalimat penggalan lirik lagu. Eh..tak terasa tahun sudah berganti. Tahun baru semangat baru, oke lanjut ke topik. Layang-layang, kalau sudah terbang memang bisa membuat kita senang. Terlihat jauh, eh ditarik lagi jadi dekat. Diulur lagi, menjauh lagi. Lenggak lenggok tertiup angin. Ada yang jahat, tukang adu layangan. Padahal, kalau pake senar gelasan atau mungkin gilasan sebutannya, tangan kita bisa tergilas, bahkan berdarah. Tapi jarang terjadi. Sebab mereka melakukannya dengan senang hati, jikalau terjadi, pasti hanya meringis sebentar, sisanya gelak tawa terkembang.
Layang-layangku, kalau di intonasikan seperti lirik lagu besutan trio cewek cantik, dari Republik Cinta. Tapi bukan itu, tapi kamu. Ah kasarnya aku ini, mungkin dikau. Terlalu alay, tapi kan aku bukan anak layangan, hanya kebetulan saja aku sayang dengan layang-layang. Lagi-lagi aku melafalkan kalimat yang sama, layang-layang yang kusayang...
Pagi ini kau berangkat dengan semangat, aku suka, itu memang yang kau perlihatkan setiap hari. Lalu apa benang merahnya dengan layang-layang. Tentu tidak ada, tentu juga ada. Sial jangan bertele-tele. Aku terkekeh diomelin oleh diriku sendiri. Layang-layangku, jangan menggunakan nada penyanyi picisan itu, tapi dibaca dengan biasa. Seperti aku yang tak terlalu spesial, itupun hanya menurutku.
Aku mencoba mengulur waktu, tapi sebaliknya dia menarikku, menarik layang-layangku. Kadang mencekat, perih tapi tiba-tiba saja mengendur sampai jauh seperti titik, tapi masih terlihat, paling tidak masih terasa, ditanganku, menyentuh-nyentuh ujung kulitku dengan senar mu. Seolah aku membayangkan senyummu, yang sedari tadi menari di jauh di ujung senar, ada binar ku impikan.
Hujan tak begitu bersahabat, reda tapi tidak begitu tampak. Masih sesekali turun butiran air lembut. Tapi, layang-layangku masih mengangkasa, sepagi ini, sedingin ini, saat rintik hujan turun. Khawatir iya, tapi layang-layangku dari plastik, ah sial, kata-kata ini juga mirip bait musik, pemusik kesukaanku. Aku tak begitu pintar meletakkan kata demi kata, apalagi bermain, bermesraan dengan layang-layang.
Yang kutau, kan kujaga senar ini, kugenggam erat, aku rela menahan perih gesekannya atau sekedar tergores tajamnya nilon. Terpenting layang-layangku tetaplah terbang, agar kau tetap berbinar, untuk sesekali kulihat dari kejauhan dan suatu kali yang lainnya kudekati dirimu sampai sedekat ini. Aku yakin kita terhubung.
-cerita seorang alay :-p
0 komentar:
Posting Komentar