Entah kenapa selalu kepikiran dengan kata "harus". Seolah-olah selalu untuk dilawan. Apa kata "harus" itu terkesan otoriter, memaksa, tidak bebas, egois dan yang lainnya. Sampai sekarang, ketika ketemu dengan kata itu, rasanya pengen menerjang arusnya. Apalagi kalau sedang kurang stabil. "Harus", kenapa harus ini harus itu, harus begini, harus begitu. Pokoknya harus. Ini bukan nama olah raga air ekstrim lho, tapi kenyataannya bisa lebih ekstrim dari olahraga "harus jeram" hee kejauhan ya.
"Harus", dia bisa bersahabat saat ketemu mood yang lagi baik.Si "harus" ini bisa beregenerasi menjadi "sebaiknya", atau padanan yang lain yang bisa meredam emosi. Mulai saat ini sih mulai mengganti kata "harus" dengan makna yang lain. Kira-kira bagaimana ya dengan orang-orang diluaran sana, semakin diharuskan kenapa seringnya kita untuk melawannya. Apa itu sejenis imun alami yang melawan suatu ke "harus" an yang masuk kepikiran kita atau memang saya yang tidak mau dikekang. Ah, aku "harus" tidur, "harus" dan sekarang juga.
Memang saya sipil 100%, mungkin beda kali ya, kalau sudah mengenal dunia militer, ah sotoy ni si agil bos. Kembali ke topik, rasa-rasanya memang ada saat-saat si "harus" ini muncul, ada juga si "harus" ini kadang muncul di tempat dan waktu yang salah. Ya kesimpulannya, si "harus" ini perlu dikelola dengan bener. Semoga saya bisa melakukannya. Se"harus"nya tulisan ini belum berhenti di sini. Se "harus" tulisan ini terus berlanjut. Saya "harus" ini dulu "harus" itu dulu. Tapi "harus" ke sini lagi, menulis lagi itu ke"harus"an yang ga bisa dilawan.
Mulai belajar dengan teman lama yang baru aja mulai mengusik lagi si"harus".
1 komentar:
Tapi plis cui, kita harus ..... hahahaaha
Posting Komentar