Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Minggu, 30 September 2012

Tukang cukur

Sejak kecil rutinitas ini menjadi momok yang menyeramkan bagi anak kecil berambut lurus, tipis dan jarang-jarang bernama agil. Aku, selalu menolak saat diajak ke tempat tukang cukur. Seingatku, sewaktu di Cianjur, masa kecil sakit-sakitan, tempatnya di tengah Pasar Bojongmeron sedikit masuk, menerobos celah toko, itupun kalau tidak salah ingat. Puluhan tahun hingga kini belum ke sana lagi.

Bapak tukan cukurnya kalau tidak salah ada dua, bila yang satu sibuk aku dioper ke tukang cukur sebelahnya, kadang menunggu. Cemas, berkeringat, setiap tiga atau lima bulan berselang, karena aku akan kembali ke tempat itu, melakukan hal yang sama. Mungkin memang anak manja, salah siapa? Ya, pastinya karena dimanja bukan? Kadang dan bisa dibilang sering, setiap mengunjungi tempat di tengah-tengah pasar itu aku diberikan kejutan, awalnya dibujuk, lama-lama aku memilih mau apa nanti.

Potong rambut menjadi perundingan dan perjanjian, entah berapa kali aku melakukannya, pernah mobil-mobilan kecil sampai martabak ketan manis yang nikmat khas jalan sinar, tengah kota. Tapi sebenarnya, hal itu hanya menghilangkan sedikit debarku. Aku terus memacu pikiranku dengan satu bujukan atau pilihanku. Sebenarnya masih sama waktu itu, tanpa atau denga syarat sekalipun, aku selalu tercekat setiap memandang diriku di depan cermin tukang cukur.

Tukang cukur di pasar itu masih menggunakan alat sederhana, kurang tau namanya, namun pada masanya, alat itu dipakai oleh hampir semua tukang cukur. Kadang sakit, bahasaku menyebut clekit-clekit, itu yang mungkin membuatku panik. Tentunya selain aku kehilangan rambut. Bukan apa-apa, tapi dari kecil aku lebih suka rambut yang bebas, berbeda dengan anak seumuranku yang lebih pasrah dengan model rambut pemberian orang tuanya.

Tapi aku tak berdaya, karena perjanjian-perjanjian itu, bujukan dan sering karena pilihanku sendiri, aku terpaksa mengalihkan ketidak pede-an ku yang sebentar itu dan mulai memusatkan pada hal baru pemberian ibu atau bapak, toh rambutku tak lama pasti tumbuh lagi. Masa-masa sulit ya, seminggu pertama. Malu, meski tak ada yang mengejek, malah sebaliknya, banyak yang menyunggingkan senyum sesekali menahan tawa, mungkin terlihat lucu.

Sampai sekarang, tempat cukur masih menyisakan kenangan itu. Sedikit berbeda, tidak ada lagi perjanjian itu, bujukan itu, permintaanku atau semua jenis perjanjian sebelum dan sesudahnya. Sekarang tak hanya ibu yang ngomel kalau rambutku sudah sepanjang rambut boyband, Arabos ikut-ikutan. Tidak ada yang menemani di belakan kursi cukurku, bapak atau ibu, dulu keduanya yang membuatku sedikit tenang, karena aku bisa memutar-mutar mata kecil ku menerobos cermin di depanku yang memantul ke atas dan menjerat bayangan kedua orang tuaku, tidak selalu berdua kadang bergantian. Senang, tapi tetap kaku di depan meja cukur.

Dari meja cukur, pernah kulirik senyummu. Kamu memberi tanda, -belum bagus, masih kepanjangan- iya dalam hati sewot, -digundul aja-. Kalau arabos tersenyum lebar dan mengangguk tandanya aku terbebas dari kursi cukur itu. Saat ini, aku melirik ke sana kemari, di tempat yang sama, meja, kursi, gunting, sisir, sampai tukang cukurnya masih sama, tapi ada ruang yang asing. Aku canggung, menatap kaca di depan meja cukur, kosong mematung.

Kubayangkan, kau tersenyum dan mengangguk di sudut sana. Karena, rambutku sudah tipis, aku tak mau kehabisan rambut, apalagi kehabisan perhatianmu.
Tempat itu tempat cukur, hatiku tersungkur, ingin di dekatmu.








Agil

Rabu, 26 September 2012

Zahra

Panggilannya Zahra, sebelum fasih dia menyebut namanya haha. Membuat senyum orang sekitarnya. Sedikit pintar, selalu ingin tahu, itu Zahra kecil, haha. Selalu bertanya apa...apa...apa. Sampai Agil dan Ara bos kadang terdiam, memikirikan jawaban pertanyaannya yang singkat, apa.

Apa kabarmu sekarang, tentunya baik dan ceria. Terakhir, pagi itu kami mengajaknya jalan-jalan. Pagi sudah  dandan, gaun putih bersih berpadu padan dengan Ara bos yang juga berseragam putih. Main ke ujung desa, samping bantaran yang di sulap menjadi taman. Kreatif memang, yang tadinya mungkin digunakan sebagai pemukiman, atau sekedar tempat menimbun sampah. Sekarang menjadi taman bermain hampir seluas setengah lapangan sepak bola.

Senyum penasaran tergambar jelas di mata Zahra, merasakan asiknya main bebas jauh dari ibunya. Pengalaman yang pertama mungkin, bagi kami juga. Untuk tempat menyenangkan itu. Hari sudah meninggi, langit-langit terlalu cerah pagi itu. Sengatnya tajam, peluh cepat meluncur dari ujung-ujung rambutnya, kami juga hampir kuyup dibuatnya.

Main jungkat jungkit, dia terungkit naik mukanya kaget. Pecah senyumnya menjadi tawa, tawa sambil berpegang erat besi-besi jungkat-jungkit. Ayunan besi berderit, Zahra duduk berseberangan udara. Aku sibuk menghiburnya, untuk mendapatkan ekspresi senyumnya. Tapi senyum tak dapat ditolak, dia terombang-ambing seperti riak di tengah lautan. Aku minta Zahra duduk, tapi malah loncat beringas sambil ketawa nakal, menghindar beralih ke tempat yang lain, bermain pasir panas, sengat matahari pagi.

Naik tangga, terengah-engah tapi tetap ceria meluncur bebas, sekarang menguasai -prosotan-. Tidak ada kata capek. Kami saling memandang, kewalahan sedangkan hari semakin meninggi. Kami terpaksa membujuk berhenti, yang ada hanyalah senyuman manja. Meluncur dengan muka tegang, naik dengan semangat, tidak peduli panas semakin menyengat. Berulang dan terus, beberapa menit ke depan. Kami menunggui siapa tau bosan, tapi tidak. Di taman itu ada banyak, berhanti ayunan, meluncur ke prosotan, lalu melangkah ke jungkat jungkit.

Tak kalah akal, kami membujuk berhenti, takut kepanasan, panas yang semakin tidak sehat. Takut ibu was-was menunggu di rumah. Tidak berhasil membujuk, namun sedikit akal dan berhasil. Permainan yang menyenangkan itu kami akhiri dengan minum juice stobei, asam tapi jadi tidak terlalu terasa, karena tercampur kenangan, kenangan manis pagi itu.

Sekarang, kami rindu haha, tapi waktu terus berjalan, yang sekarang kami hanya bisa bertanya-tanya dan menerka, sebesar apa sekarang Zahra. Entah kapan bisa bertemu, mungkin bermain ke taman ujung kali lagi.






Jumat, 14 September 2012

Solo, Riwayatmu dulu...*

keraton kasunanan Surakarta|| super headz||fuji extra 400

6 tahun sudah saya tinggal dan menuntut ilmu di kota batik ini. Bukan Pekalongan, tapi Solo. Banyak hal yang saya dapat di sini, di luar pelajaran dalam kelas.Lebih dari itu, pelajaran akan kehidupan. Pelajaran mengenai keberagaman manusia. Entah itu sifatnya, latar belakang sosialnya, dan lain sebagainya. Saya secara sadar dan mengakui, kehidupan di kota Solo ini mengubah saya. Saya rasa ke arah yang lebih baik, semoga saja benar adanya.


Banyak hal baru pula yang saya dapat di kota ini. Mulai dari pengalaman ikut klub touring, main teater, mengendarai sepeda motor sendiri, donor darah, dan tentu saja, yang paling membekas adalah PUNYA PACAR.


Berat rasanya harus meninggalkan kota ini. Sebenarnya yang paling berat adalah meninggalkan Si Pacar. Rasanya ingin saya packing Si Pacar, saya ajak pulang kampung. Tapi rasanya hanya sebatas keinginan.


Well, see you soon, SOLO!


Pacar, sering-seringlah main ke Tangerang!


Kos Putri Anggrek, Jl KH Dewantara 66, Jebres, Solo

-Ara-


*dari lagu bengawan solo, gesang