Panggilannya Zahra, sebelum fasih dia menyebut namanya haha. Membuat senyum orang sekitarnya. Sedikit pintar, selalu ingin tahu, itu Zahra kecil, haha. Selalu bertanya apa...apa...apa. Sampai Agil dan Ara bos kadang terdiam, memikirikan jawaban pertanyaannya yang singkat, apa.
Apa kabarmu sekarang, tentunya baik dan ceria. Terakhir, pagi itu kami mengajaknya jalan-jalan. Pagi sudah dandan, gaun putih bersih berpadu padan dengan Ara bos yang juga berseragam putih. Main ke ujung desa, samping bantaran yang di sulap menjadi taman. Kreatif memang, yang tadinya mungkin digunakan sebagai pemukiman, atau sekedar tempat menimbun sampah. Sekarang menjadi taman bermain hampir seluas setengah lapangan sepak bola.
Senyum penasaran tergambar jelas di mata Zahra, merasakan asiknya main bebas jauh dari ibunya. Pengalaman yang pertama mungkin, bagi kami juga. Untuk tempat menyenangkan itu. Hari sudah meninggi, langit-langit terlalu cerah pagi itu. Sengatnya tajam, peluh cepat meluncur dari ujung-ujung rambutnya, kami juga hampir kuyup dibuatnya.
Main jungkat jungkit, dia terungkit naik mukanya kaget. Pecah senyumnya menjadi tawa, tawa sambil berpegang erat besi-besi jungkat-jungkit. Ayunan besi berderit, Zahra duduk berseberangan udara. Aku sibuk menghiburnya, untuk mendapatkan ekspresi senyumnya. Tapi senyum tak dapat ditolak, dia terombang-ambing seperti riak di tengah lautan. Aku minta Zahra duduk, tapi malah loncat beringas sambil ketawa nakal, menghindar beralih ke tempat yang lain, bermain pasir panas, sengat matahari pagi.
Naik tangga, terengah-engah tapi tetap ceria meluncur bebas, sekarang menguasai -prosotan-. Tidak ada kata capek. Kami saling memandang, kewalahan sedangkan hari semakin meninggi. Kami terpaksa membujuk berhenti, yang ada hanyalah senyuman manja. Meluncur dengan muka tegang, naik dengan semangat, tidak peduli panas semakin menyengat. Berulang dan terus, beberapa menit ke depan. Kami menunggui siapa tau bosan, tapi tidak. Di taman itu ada banyak, berhanti ayunan, meluncur ke prosotan, lalu melangkah ke jungkat jungkit.
Tak kalah akal, kami membujuk berhenti, takut kepanasan, panas yang semakin tidak sehat. Takut ibu was-was menunggu di rumah. Tidak berhasil membujuk, namun sedikit akal dan berhasil. Permainan yang menyenangkan itu kami akhiri dengan minum juice stobei, asam tapi jadi tidak terlalu terasa, karena tercampur kenangan, kenangan manis pagi itu.
Sekarang, kami rindu haha, tapi waktu terus berjalan, yang sekarang kami hanya bisa bertanya-tanya dan menerka, sebesar apa sekarang Zahra. Entah kapan bisa bertemu, mungkin bermain ke taman ujung kali lagi.
Rabu, 26 September 2012
Zahra
Posted in |
18.37 | by aragilstory
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





0 komentar:
Posting Komentar