Sejak kecil rutinitas ini menjadi momok yang menyeramkan bagi anak kecil berambut lurus, tipis dan jarang-jarang bernama agil. Aku, selalu menolak saat diajak ke tempat tukang cukur. Seingatku, sewaktu di Cianjur, masa kecil sakit-sakitan, tempatnya di tengah Pasar Bojongmeron sedikit masuk, menerobos celah toko, itupun kalau tidak salah ingat. Puluhan tahun hingga kini belum ke sana lagi.
Bapak tukan cukurnya kalau tidak salah ada dua, bila yang satu sibuk aku dioper ke tukang cukur sebelahnya, kadang menunggu. Cemas, berkeringat, setiap tiga atau lima bulan berselang, karena aku akan kembali ke tempat itu, melakukan hal yang sama. Mungkin memang anak manja, salah siapa? Ya, pastinya karena dimanja bukan? Kadang dan bisa dibilang sering, setiap mengunjungi tempat di tengah-tengah pasar itu aku diberikan kejutan, awalnya dibujuk, lama-lama aku memilih mau apa nanti.
Potong rambut menjadi perundingan dan perjanjian, entah berapa kali aku melakukannya, pernah mobil-mobilan kecil sampai martabak ketan manis yang nikmat khas jalan sinar, tengah kota. Tapi sebenarnya, hal itu hanya menghilangkan sedikit debarku. Aku terus memacu pikiranku dengan satu bujukan atau pilihanku. Sebenarnya masih sama waktu itu, tanpa atau denga syarat sekalipun, aku selalu tercekat setiap memandang diriku di depan cermin tukang cukur.
Tukang cukur di pasar itu masih menggunakan alat sederhana, kurang tau namanya, namun pada masanya, alat itu dipakai oleh hampir semua tukang cukur. Kadang sakit, bahasaku menyebut clekit-clekit, itu yang mungkin membuatku panik. Tentunya selain aku kehilangan rambut. Bukan apa-apa, tapi dari kecil aku lebih suka rambut yang bebas, berbeda dengan anak seumuranku yang lebih pasrah dengan model rambut pemberian orang tuanya.
Tapi aku tak berdaya, karena perjanjian-perjanjian itu, bujukan dan sering karena pilihanku sendiri, aku terpaksa mengalihkan ketidak pede-an ku yang sebentar itu dan mulai memusatkan pada hal baru pemberian ibu atau bapak, toh rambutku tak lama pasti tumbuh lagi. Masa-masa sulit ya, seminggu pertama. Malu, meski tak ada yang mengejek, malah sebaliknya, banyak yang menyunggingkan senyum sesekali menahan tawa, mungkin terlihat lucu.
Sampai sekarang, tempat cukur masih menyisakan kenangan itu. Sedikit berbeda, tidak ada lagi perjanjian itu, bujukan itu, permintaanku atau semua jenis perjanjian sebelum dan sesudahnya. Sekarang tak hanya ibu yang ngomel kalau rambutku sudah sepanjang rambut boyband, Arabos ikut-ikutan. Tidak ada yang menemani di belakan kursi cukurku, bapak atau ibu, dulu keduanya yang membuatku sedikit tenang, karena aku bisa memutar-mutar mata kecil ku menerobos cermin di depanku yang memantul ke atas dan menjerat bayangan kedua orang tuaku, tidak selalu berdua kadang bergantian. Senang, tapi tetap kaku di depan meja cukur.
Dari meja cukur, pernah kulirik senyummu. Kamu memberi tanda, -belum bagus, masih kepanjangan- iya dalam hati sewot, -digundul aja-. Kalau arabos tersenyum lebar dan mengangguk tandanya aku terbebas dari kursi cukur itu. Saat ini, aku melirik ke sana kemari, di tempat yang sama, meja, kursi, gunting, sisir, sampai tukang cukurnya masih sama, tapi ada ruang yang asing. Aku canggung, menatap kaca di depan meja cukur, kosong mematung.
Kubayangkan, kau tersenyum dan mengangguk di sudut sana. Karena, rambutku sudah tipis, aku tak mau kehabisan rambut, apalagi kehabisan perhatianmu.
Tempat itu tempat cukur, hatiku tersungkur, ingin di dekatmu.
Minggu, 30 September 2012
Tukang cukur
Posted in |
11.28 | by aragilstory
Agil
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar