Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Minggu, 24 Februari 2013

Phantom...

Namanya seperti tokoh superhero layar kaca. Tapi tampangnya tidak keliatan sangar, malah sedikit menggemaskan. Kudekati, lehernya terjerat rantai, dia mengibaskan ekor, tanda persahabatan, kutahu dari tetangga depan rumahku dulu. Katanya, kibasan ekor berarti manja. Padahal aku baru sekali itu bertemu, ku gelitik kepalanya, dibalasnya dengan air liur.

Beberapa menit belaianku menerpa badanya, kepalanya, kupingnya, dagunya. Ceria, manja, tapi terpaksa kujauhi, aku pergi pulang menjauh. Phantom, kembali tertunduk, meringkuk, kibasannya mereda. Kisah anjing penjaga, anggota tim SAR Sukoharjo. Lain kali, kita main lagi.




agil- lcwide

Minggu, 10 Februari 2013

Hysteria



Dulu, waktu jaman sekolah dulu, saya sempat merasa iri saat melihat teman-teman mendapat hadiah boneka dari teman laki-laki. Dalam hati saya bertekad kalau suatu hari nanti saya juga akan menemui saat mendapat boneka.

Dan saya punya pacar. Pacar yang saya sayang sampai ke dalam tulang *biar dibilang lebay*.

Dan ternyata harapan yang bisa dibilng tekad itu belum pernah kesampaian sampai sekarang. Sampai saya menginjak 1/4 abad. Tetapi, saya tak merasa kecewa sama sekali. Mengapa? Begini ceritanya.
Kami terpisah 600km. 600 kilo itu sejarak dengan 12 jam dengan bus, 11 jam dengan kereta, 55menit dengan pesawat, dan tidak bisa dilakukan dengan kapal laut karena memang tidak wajar. Setelah sebulan penuh air mata karena lama tidak bertemu, stress pekerjaan yang menumpuk, dan kangen yang tidak terbendung, tibalah hari ulang tahun saya. Jujur keinginan akan boneka tidak muncul saat itu. Sama sekali tidak. Saya hanya ingin bertemu, bicara-bicara dan bicara. Dan dia datang mewujudkan keinginan itu. Iya. Dia, si Agil bos datang ke Pamulang.

Awalnya saya tidak tahu sama sekali. Saya hanya menelponnya ditengah ritme pekerjaan yang tidak ada jedanya setelah lembur di hari libur nasional. Its really suck! Saat saya menelpon suaranya dilatarbelakangi suara deru kereta. Saya penasaran. Saya tanya. Saya pikir dia sedang hunting foto seperti biasanya. Dia jawab: Klaten|hunting kok jauh sekali|mau hunting ke Pamulang|dan saya terdiam histeris.

Histeris saya mereda. Setelah semalam penuh air mata, yang tidak perlu dijelaskan disini, rahasia kehidupan rumah tangga *hahahaha*. Berganti dengan tarikan di ujung bibir sepanjang hari penuh walau sabtu-sabtu tetap masuk kantor yang tidak melakukan apapun karena ibu manajer punya janji yang lebih penting dibanding janji dengan tim saya (sia-sia meninggalkan pacar yang bela-belain datang ke Pamulang).
Saya mendapat hadiah yang super duper istimewa. Kangen terobati. Sudah tidak low bat lagi. Boneka jauh tidak berarti dibanding kehadiran ucui marucui. Setelah kejutan yang menggembirakan yang sangat jauh lebih berharha dibanding boneka. Dia bawa satu lagi kejutan. Ditambah satu hysteria.

Agil mengeluarkan album foto yang difoto, didisain, dijilid, dan diberi puisi. Semua dilakukannya sendiri. Bukan hiperbola, saya berderai-derai seperti habis mengiris bawang Bombay. Terharu-biru. Jatuh cinta yang luar biasa.

Setelah puas menyiksa saya dengan derai air mata. Dikeluarkannya sebuah bungkusan lagi dari kantong hitamnya. Dan saya disuguhi hysteria. Betapa tidak. Kamera plastic canggih keluaran brand ternama dengan lensa yang bisa berputar 180 derajat yang dapat menghasilkan foto panorama yang luar biasa, cita-cita saya! Dan bagaimana saya menolak untuk tidak histeris.
Ya, agil bos telah mewujudkan cita-cita disaat saya sedang asik menabung untuk membelinya. Amazing banget kan. Disaat yang sama juga meluruhkan cita-cita saya akan boneka. Satu diwujudkan, disaat yang lain dilenyapkan. Happy ending yang pasti.

neo||LCwide

n.b. kemampuan menulis dan gaya bahasa saya jadi ga asik setelah berkutat dengan working paper

-Ara-

Sabtu, 09 Februari 2013

Tinggi pohon tinggi, setia melindungi

Belum lama ini, Aku -agilbos- nemuin tempat, pas nya sih seratusan meter jalan yang di pagari pohon randu raksasa. Tidak sengaja melewatinya karena jalan yang biasa baru ada proyek. Katanya proyek underpass, semacam jalan di bawah jalan, jalan yang lain itu sepertinya jalur kereta alias rel. Di daerah Jalan Pajang, selatannya, cerobohnya tidak sempat menuliskan nama desa atau jalan kecil itu.

Segar, nuansanya damai, memaksaku berhenti menyiapkan kamera. Setelah melihat sekeliling, dan akhirnya cekrek, cekrek, beberapa frame terlontar dari bidikan kameraku. Sekian detik rasa gelisah karena nyasar pun pudar, berganti gemuruh mata yang meloncat-loncat mencari sudut-sudut untuk dibidik.

Hari, ini terbayar lunas, rekaman itu jadi seperti yang kulihat dulu, mungkin beda tapi tidak berkurang sedikitpun untuk bergerak kembali melewati setapak yang pernah kulalui tanpa sengaja, lain kali akan kutengok, sejuknya, rindangnya, sayup-sayupnya, tentu segarnya udara.






agilbos-neo

Kamis, 07 Februari 2013

Langsir itu mundur sedikit, lalu maju melesat

Saat kita pergi ke tempat baru, tentunya itu menjadi pengalaman yang sangat mengesankan. Kurang puas rasanya jika kita hanya mengingatnya di kepala, mungkin suatu saat karena keterbatasannya akan lupa. Makanya Agil bos selalu bawa kamera kemanapun, minimal kamera hp.

Kebetulan Agil bos sering bawa kamera berbahan bakar film. Orang-orang dulu menyebutnya klise. Ya...kamera lama itu yang sering dibawa-bawa Agil bos. Seperti kemaren waktu beberapa jam terdampar di Stasiun Jenar, Purworejo.

Sambil nunggu kereta yang datang jam 6 sore, maka Agil bos segera merencanakan modus operandi jeprat-jepretnya. Kamera disiapkan, roll film dipasang. Dari sini belum ada yang janggal. Semua momen tak terlewatkan, terekam sempurna...mungkin.

Sore tiba, kereta menghampiri, prameks jurusan kutoarjo-solo kutumpangi. Sedikit curang, kereta yang lewat dari timur menuju Kutoarjo kucegat dan kumasuki. Tau alasannya? Ya, karena iseng dan memang kereta itulah yang nanti datang dari barat mengarah ke kota yang kutuju.
Bukan yang pertama naik kereta, namun pengalaman ini yang pertama. Istilah baru, langsir. Kereta seketika senyap penumpang keluar, dan tak sedikit yang berjejal masuk. Dalam hitungan menit semua lampu gelap. Dipojok-pojokan berderet sinar membias muka-muka, sinar hp. Cukup memberikan nuansa kunang-kunang di hamparan sawah, seperti dulu saat aku SD. Masih terkenang, dan dengan cepat buyar, nyala lampu menggantikan terang kunang-kunang. Mesin meraung, kereta berderik, mata meliha ke samping. Lalu bertanya, yang bergerak keretaku atau yang di pinggir, yang menuju jakarta?

Kupastikan kereta berjalan mundur, decak girang keluar melalui bibirku, terkembang. Langsir, belum lama melihat, baru sekarang bisa merasakan. Pertama berjalan pelan, mundur seperti mengambil ancang-ancang, kemudian beberapa saat meluncur ke depan.

Tidak ada salahnya menengok ke belakang untuk melanjutkan tujuan ke masa depan, seperti sekarang ini. Film sudah habis, detik yang berjalan hari ini berhasil aku rekam. Kugulung balik, kumasukkan alat cuci nya, proses, tunggu sebentar bilas, liat hasilnya...

Astaga, hilang, gelap, hanya tersisa di kepala, aku kurang suka, semua yang dikepala ada batasnya aku tau itu. Langsir, berpikir ke belakang, aku pasang roll yang terlampau usang, dan aku begitu girangnya dan yakin bisa membantu ku mereka ulang kejadian siang hingga sore itu. Sialnya, kemujuranku habis, ihwalku film yang sama pernah aku pakai, dan memunculkan kebanggaan saat melihatnya, bak seorang ayah yang melihat anaknya yang baru lahir, --mengambil istilahnya ara bos--

Tidak apalah, menghibur diri, setidaknya rekaman itu berhasil aku copy ke ara bos, sedikit mungkin secuil, dan sepotong lagi masih bersisa di kepalaku, sisa yang lain hilang bersama film kedaluwarsa pemberian orang.

Wah malah jadi cerpen...intinya mulai saat ini Agil bos dan Ara bos musti make film yang ideal buat motret momen spesial, maen aman. Film kedaluwarsa dipake buat eksperimen atau acara yang bisa di ulang aja.

Tips motret pake film
-- cek fungsi kamera
-- gunakan film fresh
-- film expired dipake saat acara yang kurang spesial atau saat eksperimen saja
-- sekian..jika ada tambahan nanti di update

agil bos--with jenar station