Sudah janji hari itu, tapi baru akhir pekan ini aku bisa melunasinya. Awal bulan Juli aku baru bisa melihat pipi merahmu lagi, sekarang makin mirip Liong Yen Pasar Gede kesukaanmu. Untuk semua itu, aku mencoba mengulang perjalanan di akhir Januari lalu. Kereta sore, Bengawan mengantar ke tempat yang sama. Tapi dengan orang-orang yang berbeda, menawarkan cerita yang berbeda pula.
Di dalam gerbong tetap seperti dulu, dan akan seperti itu ada degup yang membawa rindu berbulan-bulan, degup jantungku. Kadang membias bersamaan dengan hentakan rel yang beradu melawan roda kereta. Suasana gerbong tak sedingin dahulu, ada canda, tawa, suka tentu tak ketinggalan duka, yaa duka anak kecil yang tak bisa bermain bebas karena terpenjara gerbong kereta.
Entah pertanda apa, setiap singgah di stasiun itu hujan tak pernah reda, bahkan sepagi ini, pagi masih pukul 5. Dingin tak kuhiraukan, malah asik bercengkerama dengan suaramu yang seolah menggelitiki telingaku, aku tersenyum ke sana kemari. Hujan masih juga belum beranjak, masih mengucur pelan tipis-tipis. Aku terpaksa bergegas, berjalan dibawah jejatuhan dingin yang berair, yang menetes masuk perlahan di sela-sela baju yang kupakai.
Memang tak kusangkal, dari dulu hujan adalah teman, teman kita bukan? Pasti kamu tak akan lupa, meski kalau dihitung, rasanya tak terhingga. Mentari di timur masih enggan meninggi, seolah-olah terbenam, dan aku masih menunggu bus berkode tujuh dan enam, berjam-jam tak terasa. Apa artinya hitungan jam, bagiku tak seberapa lama karena tekadku menemuimu.
Di dunia memang serba tak terduga, dari dingin yang menggigil, diteruskan panas yang mencabik menemaniku. Memang sewajarnya begitu, ujian pasti datang pada awalnya, jika berhasil pada akhirnya kita yang akan menuainya.
Iya, aku melihatmu setelah berbulan-bulan berlalu. Girang tak kepalang, mata kita saling tatap, binar-binar bermekaran, rasanya tak terbendung lagi, semua meluap, kamu tatap aku, matamu menggerutu manja, "jahat...kenapa lama sekali datangnya?" Aku terdiam mencubit-cubit pipimu, kudengar suara gaduh, kamu mengaduh, aku tertawa lebar karena ini benar-benar kamu yang ada di depanku.
Maaf, memang terlalu lama, aku janji tak begitu lagi. Sekarang kamu berbeda, tapi hanya membuatku makin sayang aja. Dalam doaku, setiap waktu pertemuan kita, aku ingin saat itu adalah saat-saat bahagia, saat-saat berbagi, berbagi suka, berbagi duka. Secepatnya aku akan menemuimu...
maaf agil pake aku dan kamu...