Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Selasa, 23 Juli 2013

Balon warna-warni (Permintaan tentangmu)

Balon warna-warni (Permintaan tentangmu)

Bulan ini selalu terulang, setiap perulangan itu sepertinya biasa saja. Tapi tidak demikian, sejak balon-balon warna-warnimu mengisi degup jantung ini. Rasanya membumbung tinggi, setinggi balon-balon warna-warnimu. Kau minta tujuh keajaiban, tujuh-tujuhnya kutulis persis keinginanku saat itu, tulus penuh harap.

Sekian lama, aku ingat-ingat lagi tapi hanya satu yang masih teringat di kepalaku. Aku ingin lebih lekat dengan senyumu. Perlahan semuanya berjalan. Kau beri aku senyum, hingga kini. Aku masih terus mencari yang enam, tapi maaf, saat itu aku begitu khusuk meminta sampai-sampai aku lupa saat kau tanyakan yang sebenarnya. Aku tersenyum mencoba mengingat, kau merona penuh semangat.

Mungkin penting bagimu untuk tahu apa yang sebenarnya aku minta saat itu, tapi yang jelas semoga kamu mengerti, Tuhan telah mengabulkan satu dari tujuh permintaanku, permintaan tentangmu.

Balon warna warni membumbung tinggi, setinggi anganku tentangmu

Senin, 22 Juli 2013

Menunggu Purnama

Menunggu purnama

Malam berlanjut kelam
Padahal aku berharap terang rembulan
Suara angin, dingin menerpa mukaku
Yang terpaku, membisu tiada kawan
Melainkan hanya gerombolan awan tepat di hadapan
Kulihat sekeliling, seolah-olah berpaling
Masih kelam, semakin dingin, awan hitam menggumpal
Aku berdiri, aku terpaku, aku terdiam, di tempat ini, karena
Aku masih menunggu purnama

Entah malam ini atau lusa...purnama itu

Kamis, 11 Juli 2013

Pusara-pusara saudara


Awal bulan ini aku diajak untuk mengunjungi saudara-saudara dari Mbah Kung Kromo. Tidak biasa, aku diajak ke tempat saudara tua Mbah Kung, ke rumah masing-masing. Tidak membawa buah tangan atau makanan untuk dihadiahkan, melainkan menenteng bebungaan tujuh rupa dan kemenyan. Tradisi jawa lama, saat berkunjung ke tempat saudara tua, tempat peristirahatan terakhir mereka.



Motor diparkir depan gerbang, tampak banyak yang khusuk berdoa menghadap pusara-pusara. Komat-kamit kepanasan, cuaca terik siang itu. Anak-anak kampung berjejer rapi sambil menebar senyum karena tempat pusara-pusara itu ramai pengunjung. Kami bergegas, tapi aku tak tau mana yang dituju, tentunya kecuali tempat yang paling aku tahu, tempatnya Mbok'e, sebutan untuk istrinya Mbah Kung. 


Dan benar saja, pusara pertama memang belum familiar, baru pertama malah, lekas buru-buru aku membidik perlahan, tentunya sesegera mungkin berdoa. Mulut Mbah Kung turun naik, tangan perlahan mengambil sejumput menyan bercampur minyak seketika api disulut dan menyambar udara yang panas di area pusara itu. Bebauan tercium, bukan mistis melainkan khusuk. Mata menatap jauh perlahan usai, berjalan berganti pusara lainnya.


Tak hanya seperti kami, bocah-bocah polos juga ikut berpartisipasi. Tidak ikut mendoakan, tapi mendekati kami. Matanya penuh harap, sebenarnya bisa ditebak, tapi dari awal memang aku sudah tau mau apa mereka. Tidak seperti anak yang lain, ada satu anak yang sepertinya begitu familiar dengan tempat ini. Tentu saja, memang rumahnya bersebelahan dengan pusara-pusara ini. 


Tiba di pusara Mbo'e, sudah berapa lama aku tidak ke sini. Tapi aku tentu tau, bukan itu yang beliau mau, hanya untaian doa lah yang diharapkan. Perlahan kenangan kembali mengantarku ke masa-masa dulu. Saat aku begitu sering mengeluhkan keadaan. Entah belum mengerti atau terlalu dini usiaku, tapi kalau ingat sekarang ingin aku pulang ke masa itu, dan kembali membantumu mengambil pisang untuk minum obat, mengantri beli bubur untuk syarat minum obat, atau mengantar ke tempat praktek dokter spesialis penyakit dalam. Dulu memang aku terlalu pengeluh, saat bunyi kentongan itu bernyanyi padahal aku baru asik menyanyikan lagu-lagu bersama kawan-kawanku. Atau teriakan-teriakan itu saat aku terpaku di depan layar biru. Ah...sepertinya semua begitu indah. Maaf kalau aku dulu terlalu mengeluh....

Sambil berdoa, kubisikkan kata rindu ini...




Api membara, asap mengepul hampir bersamaan dengan datangnya bau kemenyan. Aku diam saja, yang jelas memang satu yang mereka pinta. Yaitu doa yang tulus dari anak cucu mereka. Sejak saat itu, aku jadi tahu, mana-mana saja keluargaku. Terimakasih atas kesempatan siang itu, aku sedikit tahu semua ada saatnya di sini, terpaku di pusara, sendiri, hanya manusia-manusia tertentu yang peduli.



Selasa, 09 Juli 2013

Menemuimu

Sudah janji hari itu, tapi baru akhir pekan ini aku bisa melunasinya. Awal bulan Juli aku baru bisa melihat pipi merahmu lagi, sekarang makin mirip Liong Yen Pasar Gede kesukaanmu. Untuk semua itu, aku mencoba mengulang perjalanan di akhir Januari lalu. Kereta sore, Bengawan mengantar ke tempat yang sama. Tapi dengan orang-orang yang berbeda, menawarkan cerita yang berbeda pula.

Di dalam gerbong tetap seperti dulu, dan akan seperti itu ada degup yang membawa rindu berbulan-bulan, degup jantungku. Kadang membias bersamaan dengan hentakan rel yang beradu melawan roda kereta. Suasana gerbong tak sedingin dahulu, ada canda, tawa, suka tentu tak ketinggalan duka, yaa duka anak kecil   yang tak bisa bermain bebas karena terpenjara gerbong kereta.

Entah pertanda apa, setiap singgah di stasiun itu hujan tak pernah reda, bahkan sepagi ini, pagi masih pukul 5. Dingin tak kuhiraukan, malah asik bercengkerama dengan suaramu yang seolah menggelitiki telingaku, aku tersenyum ke sana kemari. Hujan masih juga belum beranjak, masih mengucur pelan tipis-tipis. Aku terpaksa bergegas, berjalan dibawah jejatuhan dingin yang berair, yang menetes masuk perlahan di sela-sela baju yang kupakai.

Memang tak kusangkal, dari dulu hujan adalah teman, teman kita bukan? Pasti kamu tak akan lupa, meski kalau dihitung, rasanya tak terhingga. Mentari di timur masih enggan meninggi, seolah-olah terbenam, dan aku masih menunggu bus berkode tujuh dan enam, berjam-jam tak terasa. Apa artinya hitungan jam, bagiku tak seberapa lama karena tekadku menemuimu.

Di dunia memang serba tak terduga, dari dingin yang menggigil, diteruskan panas yang mencabik menemaniku. Memang sewajarnya begitu, ujian pasti datang pada awalnya, jika berhasil pada akhirnya kita yang akan menuainya.

Iya, aku melihatmu setelah berbulan-bulan berlalu. Girang tak kepalang, mata kita saling tatap, binar-binar bermekaran, rasanya tak terbendung lagi, semua meluap, kamu tatap aku, matamu menggerutu manja, "jahat...kenapa lama sekali datangnya?" Aku terdiam mencubit-cubit pipimu, kudengar suara gaduh, kamu mengaduh, aku tertawa lebar karena ini benar-benar kamu yang ada di depanku.

Maaf, memang terlalu lama, aku janji tak begitu lagi. Sekarang kamu berbeda, tapi hanya membuatku makin sayang aja. Dalam doaku, setiap waktu pertemuan kita, aku ingin saat itu adalah saat-saat bahagia, saat-saat berbagi, berbagi suka, berbagi duka. Secepatnya aku akan menemuimu...

maaf agil pake aku dan kamu...