Awal bulan ini aku diajak untuk mengunjungi saudara-saudara dari Mbah Kung Kromo. Tidak biasa, aku diajak ke tempat saudara tua Mbah Kung, ke rumah masing-masing. Tidak membawa buah tangan atau makanan untuk dihadiahkan, melainkan menenteng bebungaan tujuh rupa dan kemenyan. Tradisi jawa lama, saat berkunjung ke tempat saudara tua, tempat peristirahatan terakhir mereka.
Motor diparkir depan gerbang, tampak banyak yang khusuk berdoa menghadap pusara-pusara. Komat-kamit kepanasan, cuaca terik siang itu. Anak-anak kampung berjejer rapi sambil menebar senyum karena tempat pusara-pusara itu ramai pengunjung. Kami bergegas, tapi aku tak tau mana yang dituju, tentunya kecuali tempat yang paling aku tahu, tempatnya Mbok'e, sebutan untuk istrinya Mbah Kung.
Dan benar saja, pusara pertama memang belum familiar, baru pertama malah, lekas buru-buru aku membidik perlahan, tentunya sesegera mungkin berdoa. Mulut Mbah Kung turun naik, tangan perlahan mengambil sejumput menyan bercampur minyak seketika api disulut dan menyambar udara yang panas di area pusara itu. Bebauan tercium, bukan mistis melainkan khusuk. Mata menatap jauh perlahan usai, berjalan berganti pusara lainnya.
Tak hanya seperti kami, bocah-bocah polos juga ikut berpartisipasi. Tidak ikut mendoakan, tapi mendekati kami. Matanya penuh harap, sebenarnya bisa ditebak, tapi dari awal memang aku sudah tau mau apa mereka. Tidak seperti anak yang lain, ada satu anak yang sepertinya begitu familiar dengan tempat ini. Tentu saja, memang rumahnya bersebelahan dengan pusara-pusara ini.
Tiba di pusara Mbo'e, sudah berapa lama aku tidak ke sini. Tapi aku tentu tau, bukan itu yang beliau mau, hanya untaian doa lah yang diharapkan. Perlahan kenangan kembali mengantarku ke masa-masa dulu. Saat aku begitu sering mengeluhkan keadaan. Entah belum mengerti atau terlalu dini usiaku, tapi kalau ingat sekarang ingin aku pulang ke masa itu, dan kembali membantumu mengambil pisang untuk minum obat, mengantri beli bubur untuk syarat minum obat, atau mengantar ke tempat praktek dokter spesialis penyakit dalam. Dulu memang aku terlalu pengeluh, saat bunyi kentongan itu bernyanyi padahal aku baru asik menyanyikan lagu-lagu bersama kawan-kawanku. Atau teriakan-teriakan itu saat aku terpaku di depan layar biru. Ah...sepertinya semua begitu indah. Maaf kalau aku dulu terlalu mengeluh....
Sambil berdoa, kubisikkan kata rindu ini...
Api membara, asap mengepul hampir bersamaan dengan datangnya bau kemenyan. Aku diam saja, yang jelas memang satu yang mereka pinta. Yaitu doa yang tulus dari anak cucu mereka. Sejak saat itu, aku jadi tahu, mana-mana saja keluargaku. Terimakasih atas kesempatan siang itu, aku sedikit tahu semua ada saatnya di sini, terpaku di pusara, sendiri, hanya manusia-manusia tertentu yang peduli.








0 komentar:
Posting Komentar