Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Selasa, 29 Mei 2012

Kamera sejuta umat fm10... :-)

Perkenalanku dengan kamera memang cukup berkesan. Namun, kenangan itu seolah-olah beku begitu saja. Aku jadi sangat jarang bermain cahaya, merekamnya bahkan menjamahnya pun tak pernah. Antara usia seragam putih merah hingga putih abu-abu cukup lama waktu itu. Memang di sela-sela waktu panjang itu, hanya dua waktu yang kuingat. Pertama, merekam suasana bali bareng temen smp dan kedua menjerat deburan pangandaran dengan rombongan abu-abu putih ke dalam frame ukuran 4R.


Sampai saatnya aku dipertemukan kembali dengan dunia yang beku tapi penuh kehangatan makna, fotografi. Yah...awal baru itu awal masuk kuliah. Entah karena bujukan massa atau memang sudah garis hidup, aku di suguhi hamaparan frame memanjang yang hijau, hamparan kebun teh kemuning. Pertamanya aku masuk sekre Bapema (persnya kampus tercinta fe uns) langsung jatuh hati mengagumi hasil rekaman lensa optik dan jendela bidik.


Foto panoramic, foto yang membawa anganku berkelana. Sampai aku ingat kembali memori-memoriku bersama Rico. Mulai saat itu muncul kembali keinginan untuk merekam waktu-waktuku yang berjalan maju.


Pertengahan tahun 2007, aku bisa mengalungkan kamera di leherku, ya kamera pertamaku. Kamera sejuta umat Nikon FM 10 plus Nikkor 35-70mm nya. Momen pertama yang kurekam, wisuda teteh. Selanjutnya, hanting suka-ria solo-jogja. Lanjut naik ke New Selo, mampir ke pasar gawok. Lantas sempat tersesat di Pananjakan.


Niko, kupanggil dia yang kedua. Sampai saat ini masih setia menemani. Meski sudah jarang diisi namun belaian sayang tetap untukmu Niko. Maaf, terpaksa kugadai, kini kau tak berdaya tanpa optikmu. Tapi aku janji, akan kuganti yang lebih baik, itu pasti.



-agil-

Selasa, 22 Mei 2012

Janji untuk Rico...

Pertama kali kenal dengan kamera kira-kira sejak TK nol besar. Namun saat itu Aku (agil bos) masih keseringan di depan lensa. Belum berani main main di balik lensa. Pose ini pose itu sampai pose menegangkan di cisarua bareng harimau. Bapak adalah orang yang paliing berjasa karena telah mengenalkan Aku dengan kamera. Kamera yang pertama Aku kenal sejenis kamera rangefinder.


Ini wajah Rico+Onal :-)

Kamera ini bernama Ricoh GX-1. Tapi dia akrab dipanggil Rico aja. Kata Bapak, Si Rico ini masuk dalam kategori rangefinder, kalau secara acak bisa diartikan –kamera ini jika menentukan titik fokus harus mencari jarak tertentu. Tak lupa juga Aku kenalkan Onal. Sejak awal Rico sudah akrab dengan lampu kilat National –selanjutnya kami memanggilnya onal. Si Rico ini cukup mumpuni untuk diajak bertualang. Lensa Rikenon 40mm f 2,8-16 nya cukup handal merekam detail wajah imut Aku sejak TK sampai SD, dengan syarat feeling penjepretnya tepat. Tentunya salah satu daya tarik lain dari Rico ini ialah modus MX (Multiple eXposure) nya. Rico semakin lengkap dengan adanya fitur self timer dan shutter speed yang bisa di setting dari 1/500-8 hingga bulb. Namun sejak pertama kali bertemu Rico hingga sekarang, mode bulb ini belum pernah digunakan.


Ini MX nya itu hehehehe...:-p


Tidak sebentar Rico menempati ruang-ruang berdebu, mulai dari gubuk di cianjur, rumah mbah kung, hingga saat ini hawa lembab pinggiran sawah. Aku bulatkan tekad, ingin mengajaknya jalan-jalan bareng teman-temannya yang lain. Bersama adik-adiknya yang lain, merekam, melukiskan dan membekukan waktu beberapa kedipan rana agar menjadi momen yang tak akan terlupa. Janji...

Foto jadul mirip instangram



-agil-

Kamis, 10 Mei 2012

Ingat ku


Saat kantuk tidak kunjung datang di dini hari, jadi ingat hal-hal di masa lampau yang jika diingat sekarang jadi hal-hal yang manis, apapun itu..


Ingat? Ketika aku lari saat melihat teman-temanmu datang? Saat itu aku dan kamu sedang duduk berhadapan di dekat tangga sekolah. Saat aku menjadi pencerita kisah hidupku sendiri dan kamu memperhatikan dan mendengarkanku dengan tekun. Atau 30 menit sebelumnya, saat kita, kamu dan aku, menyusuri lorong-lorong depan kelas yang kosong karena tak akan ada kelas hingga esok Senin, dua hari mendatang? Menempel lembaran-lembaran pamflet pementasan dengan tiga warna yang berbeda, merah muda; hijau; dan biru. Seingatku saat itu kita pun banyak bicara dan aku meminta maafmu karena menyusahkanmu dengan kekacauan gosip akan mu yang kusebar di media maya. Ah. Ini pasti kau ingat kan? 60 menit sesudahnya, saat aku tak mau kau antar pulang dan lebih memilih jalan kaki karena hendak memikirkan hal yang 30 menit sebelumnya kuceritakan padamu, tentang hidupku. Kau menitipkan motor kesayanganmu saat itu pada teman sekotamu. Kau pilih berjalan bersamaku, menyusuri jalan yang mulai teduh, entah karena senja atau karena mendung yang memang kemudian disusul hujan deras. Aku yakin kau ingat saat ini. Kau dan aku berlari menghindari hujan yang pekat. Kau berlari lebih dulu, kemudian aku. Sesaat sesudah butiran air mereda yang kemudian menyisakan genangan air di tanah dan kilasan cahaya dan gemuruh di langit, kamu dan aku berjalan lagi menuju rumah sementaraku di kota ini, meninggalkan atap tempat kita berteduh tadi. Tadi kita masih melewatinya, saat sebelum aku menulis ini, dan aku ingat. Masihkah kau?

Aku tertidur sebentar. Kantuk rupanya sudah diam-diam datang baru saja, tapi kini sudah pergi main. Hilang lagi rasanya. Aku lanjutkan.

Ingatku masih terkurung di sekolah. Ingatkah? Saat itu aku duduk di depan ruang di bawah tangga. Menanti rapat yang seperti karet gelang. Molor. Sekejap sesal, kesal, dan lelah berganti total. Saat itu kau datang, duduk bersama, dan kita bicara banyak hal sampai satu per satu mereka datang yang sekejap mampu mengganti raut mukaku. Aku ingat, rautku berganti kembali, dipenghujung acara hari itu. Kau mengundangku datang ke pameran buku di akhir senja hari itu. Kau antar aku pulang sebentar untuk berkemas. Aku melompat kegirangan di rumah sementaraku, hal ini pasti tak kau ingat, hanya aku, sebab kau tak lihat, kau tak boleh lihat. Kita berputar di gedung pameran itu, aku membeli sebuah buku, Edensor, ketiga dari empat. Kau pulang dengan tangan kosong saat itu. Aku ingat betul, kita naik motor yang berbeda. Kau sebut motor ini: Jet. Jet yang dulu berjaya, saat itu harus menerima nasibnya berjalan dengan kecepatan 40km/jam. Ini harus kau baca dan harus kau ingat betul. Aku sangat senang kala itu!

Setelah motor, aku mengingat kereta. Pasundan. Kereta itu membawa kita menuju Tasikmalaya. Padat. Penuh sesak. Sampai pada akhirnya aku mendapatkan tempat duduk untukmu. Aku gagah. Berdiri. Dan tertidur. Persis dini hari seperti ini. Aku ingat betul, belakangan kau memintaku untuk tidak lagi gagah saat ada kau. Kau minta aku untuk bersandar pada bahumu. Dan aku tersenyum, lihatkah kau? Baru sekian ingatan dan aku selalu ingat alasan aku mencintaimu. Tenanglah, kau.. Setelah membubuhkan titik akhir di halaman ini, aku akan tidur di kasur yang empuk, menjaga agar mataku tidak seperti panda seperti katamu, kata yang kuingat. Dan saat matahari menyingsing setelah ini, kita akan bertemu kembali dan akan kuingat setiap yang kujalani denganmu. Saat dini hari seperti saat ini, saat kantuk tidak cepat kunjungi aku, aku tulis kembali yang aku ingat. Tentang kau, tentang aku, tentang kita dan cinta.

-ara-

Sabtu, 05 Mei 2012

Lovely Panoramic, Delta 88

Mendahului Mr. Agil bos yang masih meriset tentang sejarah Rico (Ricoh) saya, Ara, akan mulai lebih dahulu mengenalkan salah satu anak perempuan kami (hehehehe). Well, not a real daughter. Kami punya beberapa kamera dan aksesorisnya yang amat kami sayangi, jadi mengapa tidak menganggap mereka anak sendiri. Banyak orang bilang, kalau kita menyayangi benda yang kita miliki (dengan kerja keras ), barang itu akan awet dan tahan lama karena dia juga balik menyayangi kita. Yah.. it’s a dull think. Dilihat dari sisi realistisnya saja, kalau kita care dengan benda yang kita miliki (terlebih camera seperti yang akan saya bahas ini), maka benda itu akan terjaga yang otomatis akan awet dan tahan lama.

Oke, anak perempuan pertama kami ini bernama lengkap Delta 88. Delta 88, yah nama yang unik untuk sebuah kamera. Delta 88 ini kami panggil dengan sebutan Eta, sebuah nama sederhana yang imut kedengarannya. Si Eta ini termasuk kedalam kamera poket analog sederhana yang keseluruhan bagiannya, kecuali dudukan flash, terbuat dari kamera plastik. Oleh karena itu, Eta ini seringkali menemani saya sewaktu saya hunting bareng bersama komunitas kamera plastik solo (KAPLASO). Sebenarnya Eta ini sudah menemani saya selama hampir 12 tahun.


Saya pertama kali berkenalan dengan Eta ini waktu saya duduk di kelas satu SMP. Saya ajak dia menemani perjalanan karya wisata ke Taman Mini Indonesia Indah, sementara anak SMP lain melakukan wisata ke Pulau Dewata (hahahaha). First experience saya dengan Eta menjadi hal yang menyedihkan. Dari 36 frame yang saya jepret, hanya menghasilkan sekitar 6 frame, selebihnya putih bersih. Mengapa demikian? Eta memiliki karakteristik tidak bisa memotret dalam ruangan dan sore-malam hari apabila tidak disertai dengan flash karena Eta ini memiliki speed yang terbatas. Si Eta ini bakalan ngambek ga mau motret (hasilnya ga jadi) kalau ga ditemani flash atau motret di bawah matahari yang terang benderang. Saya pikir-pikir, Si Eta ini bisa saya juluki “kamera terang” ya? (hehe). Setelah kejadian itu mulai lah Eta berduet dengan Evo,flash kecil dan cantik yang kemudian memungkinkan Eta untuk menangkap gambar di waktu malam, dalam ruangan, dan segala macam tempat yang terhalang dari sinar.


Bentuk Eta ini sangat sederhana. Berukuran panjang kurang lebih 15 cm dan lebar kurang lebih 6-7cm, Eta menjadi barang imut yang unik kalau diajak hunting foto, apalagi warnanya gold (ahhhh elegant!). Eta memiliki banyak kelebihan yang tidak ada dalam keluarga kamera poket plastik lain. Eta bisa diatur modus pengambilan gambarnya ke dalam modus panorama atau modus biasa. Modus panorama yang ditawarkan Eta memang bukan “the real” panorama. Modus panorama yang ditawarkan hanya sebatas memberikan cropping hitam di atas dan dibawah frame sehingga foto tampak panorama. Mr. Agil bos sangat tidak menyukai modus ini. Dia selalu bilang “Agil ga suka ah panorama-panorama. Cuma di krop atas bawah doang! Udah, ga usah dipake!” Tetapi, saya membandel. Buat apa tidak suka dan tidak sesekali dipakai? Menurut saya, justru disinilah keunikan dari kamera ini. Baru saja kemarin kami (saya dan Mr.Agil) bertemu dengan anak anggota komunitas kamera analog jogja yang menceritakan kalau tidak hanya kamera-kamera sejenis eta (bukan merek terkenal) yang menggunakan teknologi panorama “palsu” pada kameranya. Beliau menceritakan, bahkan merek sekelas NIK*N, yang notabene merupakan produsen kamera berkelas dari dulu hingga sekarang, menggunakan teknologi panorama “palsu” ini. Beliau menambahkan, teknologi panorama “palsu” ini memang menjadi trend di kala itu. Jadi saya akan sesekali menggunakan modus panorama itu, walaupun “palsu” karena dengan saya menggunakannya, saya akan mengingatkan kembali tentang wabah panorama “palsu” yang terjadi di masa lampau .



Selain modus panoramanya, Eta juga memiliki kelebihan lain yang menurut saya jarang ditemui di kamera-kamera sejenis. Eta punya lensa yang ukurannya cukup lebar, 28mm. Dengan ukuran itu Eta dapat menangkap obyek dengan tampilan lebih luas dibanding kamera lain yang biasanya berkisar 35an ke atas. Jadi sangat menyenangkan sekali membawa Eta untuk hunting landscape dan bangunan yang lebar. So.. kesimpulan saya untuk Eta ini, saya makin sayang Eta karena kelebihan dan keunikannya yang mengingatkan saya akan kejayaan kamera poket analog plastik di era lampau.

Hidup Delta 88 "Two Way Camera"! Hidup kamera plastik! Hidup lo-fi Photography!

Salam jepret,
-Ara-