Saat kantuk tidak kunjung datang di dini hari, jadi ingat hal-hal di masa lampau yang jika diingat sekarang jadi hal-hal yang manis, apapun itu..
Ingat? Ketika aku lari saat melihat teman-temanmu datang? Saat itu aku dan kamu sedang duduk berhadapan di dekat tangga sekolah. Saat aku menjadi pencerita kisah hidupku sendiri dan kamu memperhatikan dan mendengarkanku dengan tekun. Atau 30 menit sebelumnya, saat kita, kamu dan aku, menyusuri lorong-lorong depan kelas yang kosong karena tak akan ada kelas hingga esok Senin, dua hari mendatang? Menempel lembaran-lembaran pamflet pementasan dengan tiga warna yang berbeda, merah muda; hijau; dan biru. Seingatku saat itu kita pun banyak bicara dan aku meminta maafmu karena menyusahkanmu dengan kekacauan gosip akan mu yang kusebar di media maya. Ah. Ini pasti kau ingat kan? 60 menit sesudahnya, saat aku tak mau kau antar pulang dan lebih memilih jalan kaki karena hendak memikirkan hal yang 30 menit sebelumnya kuceritakan padamu, tentang hidupku. Kau menitipkan motor kesayanganmu saat itu pada teman sekotamu. Kau pilih berjalan bersamaku, menyusuri jalan yang mulai teduh, entah karena senja atau karena mendung yang memang kemudian disusul hujan deras. Aku yakin kau ingat saat ini. Kau dan aku berlari menghindari hujan yang pekat. Kau berlari lebih dulu, kemudian aku. Sesaat sesudah butiran air mereda yang kemudian menyisakan genangan air di tanah dan kilasan cahaya dan gemuruh di langit, kamu dan aku berjalan lagi menuju rumah sementaraku di kota ini, meninggalkan atap tempat kita berteduh tadi. Tadi kita masih melewatinya, saat sebelum aku menulis ini, dan aku ingat. Masihkah kau?
Aku tertidur sebentar. Kantuk rupanya sudah diam-diam datang baru saja, tapi kini sudah pergi main. Hilang lagi rasanya. Aku lanjutkan.
Ingatku masih terkurung di sekolah. Ingatkah? Saat itu aku duduk di depan ruang di bawah tangga. Menanti rapat yang seperti karet gelang. Molor. Sekejap sesal, kesal, dan lelah berganti total. Saat itu kau datang, duduk bersama, dan kita bicara banyak hal sampai satu per satu mereka datang yang sekejap mampu mengganti raut mukaku. Aku ingat, rautku berganti kembali, dipenghujung acara hari itu. Kau mengundangku datang ke pameran buku di akhir senja hari itu. Kau antar aku pulang sebentar untuk berkemas. Aku melompat kegirangan di rumah sementaraku, hal ini pasti tak kau ingat, hanya aku, sebab kau tak lihat, kau tak boleh lihat. Kita berputar di gedung pameran itu, aku membeli sebuah buku, Edensor, ketiga dari empat. Kau pulang dengan tangan kosong saat itu. Aku ingat betul, kita naik motor yang berbeda. Kau sebut motor ini: Jet. Jet yang dulu berjaya, saat itu harus menerima nasibnya berjalan dengan kecepatan 40km/jam. Ini harus kau baca dan harus kau ingat betul. Aku sangat senang kala itu!
Setelah motor, aku mengingat kereta. Pasundan. Kereta itu membawa kita menuju Tasikmalaya. Padat. Penuh sesak. Sampai pada akhirnya aku mendapatkan tempat duduk untukmu. Aku gagah. Berdiri. Dan tertidur. Persis dini hari seperti ini. Aku ingat betul, belakangan kau memintaku untuk tidak lagi gagah saat ada kau. Kau minta aku untuk bersandar pada bahumu. Dan aku tersenyum, lihatkah kau? Baru sekian ingatan dan aku selalu ingat alasan aku mencintaimu. Tenanglah, kau.. Setelah membubuhkan titik akhir di halaman ini, aku akan tidur di kasur yang empuk, menjaga agar mataku tidak seperti panda seperti katamu, kata yang kuingat. Dan saat matahari menyingsing setelah ini, kita akan bertemu kembali dan akan kuingat setiap yang kujalani denganmu. Saat dini hari seperti saat ini, saat kantuk tidak cepat kunjungi aku, aku tulis kembali yang aku ingat. Tentang kau, tentang aku, tentang kita dan cinta.
-ara-

0 komentar:
Posting Komentar