Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Sabtu, 05 Mei 2012

Lovely Panoramic, Delta 88

Mendahului Mr. Agil bos yang masih meriset tentang sejarah Rico (Ricoh) saya, Ara, akan mulai lebih dahulu mengenalkan salah satu anak perempuan kami (hehehehe). Well, not a real daughter. Kami punya beberapa kamera dan aksesorisnya yang amat kami sayangi, jadi mengapa tidak menganggap mereka anak sendiri. Banyak orang bilang, kalau kita menyayangi benda yang kita miliki (dengan kerja keras ), barang itu akan awet dan tahan lama karena dia juga balik menyayangi kita. Yah.. it’s a dull think. Dilihat dari sisi realistisnya saja, kalau kita care dengan benda yang kita miliki (terlebih camera seperti yang akan saya bahas ini), maka benda itu akan terjaga yang otomatis akan awet dan tahan lama.

Oke, anak perempuan pertama kami ini bernama lengkap Delta 88. Delta 88, yah nama yang unik untuk sebuah kamera. Delta 88 ini kami panggil dengan sebutan Eta, sebuah nama sederhana yang imut kedengarannya. Si Eta ini termasuk kedalam kamera poket analog sederhana yang keseluruhan bagiannya, kecuali dudukan flash, terbuat dari kamera plastik. Oleh karena itu, Eta ini seringkali menemani saya sewaktu saya hunting bareng bersama komunitas kamera plastik solo (KAPLASO). Sebenarnya Eta ini sudah menemani saya selama hampir 12 tahun.


Saya pertama kali berkenalan dengan Eta ini waktu saya duduk di kelas satu SMP. Saya ajak dia menemani perjalanan karya wisata ke Taman Mini Indonesia Indah, sementara anak SMP lain melakukan wisata ke Pulau Dewata (hahahaha). First experience saya dengan Eta menjadi hal yang menyedihkan. Dari 36 frame yang saya jepret, hanya menghasilkan sekitar 6 frame, selebihnya putih bersih. Mengapa demikian? Eta memiliki karakteristik tidak bisa memotret dalam ruangan dan sore-malam hari apabila tidak disertai dengan flash karena Eta ini memiliki speed yang terbatas. Si Eta ini bakalan ngambek ga mau motret (hasilnya ga jadi) kalau ga ditemani flash atau motret di bawah matahari yang terang benderang. Saya pikir-pikir, Si Eta ini bisa saya juluki “kamera terang” ya? (hehe). Setelah kejadian itu mulai lah Eta berduet dengan Evo,flash kecil dan cantik yang kemudian memungkinkan Eta untuk menangkap gambar di waktu malam, dalam ruangan, dan segala macam tempat yang terhalang dari sinar.


Bentuk Eta ini sangat sederhana. Berukuran panjang kurang lebih 15 cm dan lebar kurang lebih 6-7cm, Eta menjadi barang imut yang unik kalau diajak hunting foto, apalagi warnanya gold (ahhhh elegant!). Eta memiliki banyak kelebihan yang tidak ada dalam keluarga kamera poket plastik lain. Eta bisa diatur modus pengambilan gambarnya ke dalam modus panorama atau modus biasa. Modus panorama yang ditawarkan Eta memang bukan “the real” panorama. Modus panorama yang ditawarkan hanya sebatas memberikan cropping hitam di atas dan dibawah frame sehingga foto tampak panorama. Mr. Agil bos sangat tidak menyukai modus ini. Dia selalu bilang “Agil ga suka ah panorama-panorama. Cuma di krop atas bawah doang! Udah, ga usah dipake!” Tetapi, saya membandel. Buat apa tidak suka dan tidak sesekali dipakai? Menurut saya, justru disinilah keunikan dari kamera ini. Baru saja kemarin kami (saya dan Mr.Agil) bertemu dengan anak anggota komunitas kamera analog jogja yang menceritakan kalau tidak hanya kamera-kamera sejenis eta (bukan merek terkenal) yang menggunakan teknologi panorama “palsu” pada kameranya. Beliau menceritakan, bahkan merek sekelas NIK*N, yang notabene merupakan produsen kamera berkelas dari dulu hingga sekarang, menggunakan teknologi panorama “palsu” ini. Beliau menambahkan, teknologi panorama “palsu” ini memang menjadi trend di kala itu. Jadi saya akan sesekali menggunakan modus panorama itu, walaupun “palsu” karena dengan saya menggunakannya, saya akan mengingatkan kembali tentang wabah panorama “palsu” yang terjadi di masa lampau .



Selain modus panoramanya, Eta juga memiliki kelebihan lain yang menurut saya jarang ditemui di kamera-kamera sejenis. Eta punya lensa yang ukurannya cukup lebar, 28mm. Dengan ukuran itu Eta dapat menangkap obyek dengan tampilan lebih luas dibanding kamera lain yang biasanya berkisar 35an ke atas. Jadi sangat menyenangkan sekali membawa Eta untuk hunting landscape dan bangunan yang lebar. So.. kesimpulan saya untuk Eta ini, saya makin sayang Eta karena kelebihan dan keunikannya yang mengingatkan saya akan kejayaan kamera poket analog plastik di era lampau.

Hidup Delta 88 "Two Way Camera"! Hidup kamera plastik! Hidup lo-fi Photography!

Salam jepret,
-Ara-

0 komentar: