Pada dinding hijau muram ada bercak darah nyamuk mati ditepuk
Disampingnya berjajar kliping koran yang menguning, lupa dibaca.
Disudut buku (pun) saat pak guru asik berlagu,
tentang PABU,
yang ganti nama tanpa menggelar selamatan.
sempat merasa belum mengenal yang sebelumnya, tapi terlambat. sudah ganti lagi.
K(a)u lihat tomcat yang fenomenal mendarat pada buku,
mengangkat pantat hitam yang lancip.
Pukul - gerus - biar mampus!
Sial! ada bekasnya tepat di tulisan nama baru si PABU...
K(a)u tinggalkan, ambil kamera
Bidik - jepret - cuci - scan -,
iseng-iseng cetak.
Aih! Ada lembaran putih di baliknya!
K(a)u bosan.
Ganti tatap peluh yang membuat wajah mengilap, gelap.
K(a)u ingat: yang tipis tapi manis, persis seperti aroma punggung(mu)
Rupanya saat itulah!
Jumat, 22 Juni 2012
kapan k(a)u tulis s'bait puisi?
Senin, 11 Juni 2012
Twins kuma, the magical camera...
Kami aragil baru aja mendapatkan dua kamera mungil yang charming. Kamera kembar yang menggemaskan ini kami panggil Kuma. Kuma bersaudara ini masuk ke dalam jajaran kamera lo-fi yang dicari-cari. Bentuknya yang kecil mudah dibawa kemana-mana dan spesifikasinya yang luar biasa karena dipersenjatai lensa wide angles 22mm.
Bagi aku (agil bos) kamera keluaran Superheadz Tokyo ini cukup kecil dalam genggaman. Pertama aku mengalami sedikit kesulitan untuk membuka film chamber. Maklum jari lelaki terlalu besar untuk kamera ini. Namun setelah diajak jalan-jalan nge-roll, jari yang besar tak akan jadi soal.
Secara teknis kamera ini didesain untuk mereka yang suka motret landscape, pas banget buat aku. Lensa 22mm dengan bukaan aperture f/11 akan memanjakan seorang yang hobi menangkap momen-momen indah di belahan bumi Indonesia. Jarak terdekat sekitar 1,2 meter hingga infinity. Untuk shutter speed, kamera ini hanya ada satu pilihan 1/125.
Si mungil kuma memang sangat minim fitur. Mulai dari tidak adanya pengaman lensa, dan tidak dilengkapi pengunci tombol shutter menjadikan kamera ini kurang sempurna. Untuk dibawa ke pantai misalnya, kita harus hati-hati menggunakannya. Kucoba mengakali dengan membuat lens cap dari tutup bekas tempat roll film. Tinggal diberi doubletape lensa aman dari debu yang mengganggu. Untuk menghindari shutter tertekan secara tidak sengaja, tips yang aku saranin yakni janganlah mengokang film sebelum benar-benar mau dijepretkan. Terakhir kita musti hati-hati dengan jari tangan kita, bisa-bisa masuk frame.
Kami menamai mereka kumako dan okuma. Samapai sekarang kami masih mencoba mengeksplorasi kuma bersaudara ini berdua, mengabadikan momen dan tempat yang indah selebar mata memandang.
Wide lens with you—ara
kumako dan okuma
-agil-
Jumat, 01 Juni 2012
Tragedi jepit...
Persiapan dan persiapa menjadi sebuah awal kesuksesan dalam proses pengambilan gambar. Seingatku(Agil bos), sudah dua kali keteledoran itu aku alami. Keteledoranku dengan pergi motret tanpa persiapan yang matang. Artinya gagal total. Baru saja aku alami, senin malam kemaren 28 Mei.
Begini pelajaran yang bisa aku ambil...
Bersama ara, berdua kami menghampiri sebuah pertunjukan seni. Pertunjukan di Teater Besar ISI Surakarta itu bertajuk Erasmus Huis presents INTRODANS. Sebuah karya pertunjukan tari balet yang memerkan lenggak lenggok ekspatriat negeri kincir angin. Pasti menarik, karena selain momen-momen indah akan tercipta, masuknya pun cuma-cuma.
Sampai di tkp, baru kubuka perlengkapan jepretku. Sedikit kaget...batere tinggal setitik kecil mungil. Senyum sedikt lalu kumasukkan lagi. Dalam hati, semoga cukup untuk 10 jepretan. Tap...tap...tap...sekitar waktu hampir mendekati pukul delapan malam, para penonton mulai merangsek ke dalam gedung pertunjukan. Aku sedikit melupakan batere yang mlompong, melangkah mencari kursi kosong untuk kami jajah.
Masih belum berubah, suasana adem, riuh di sana sini namun tak gaduh sampai pekat remang masuk ke dalam ruangan pertunjukan. Habislah kira-kira waktu seperdua jam di tempat itu. Aku menunggu dengan bisu, berpikir “setitik” bisa jadi berapa detik frame. Aku buang jauh-jauh pikiran itu dan kembali menikmati alunan sajian tari balet yang segera disajikan.
Terdengar, pengarah acara membacakan aturan tata krama di gedung pertunjukan. Katanya, “penonton tak berhak bertepuk tangan sebelum pertunjukan usai, tak berhak pula merokok, makan dan minum. Tak dihalalkan berbuat gaduh, memotret dengan pertolongan kilat lampu, dan terakhir yang membuatku hampir sekarat, para kaki-kaki di bawah sana haruslah tak berbungkus jepit.”
Setelah pembacaan keputusan aturan sepihak itu, pertunjukan dimulai. Gelap mendekat namun sepersekian detik berganti lampu sorot menampilkan tarian warna-warni pembuka acara.
Aku sedikit bergerak, merogoh sekat berisi kamera, kubidik lalu kusimpan kembali ke dalamnya. Malam itu aku sebut tragedi jepit, aku terhimpit tanpa batere dan menindih sandal. Semoga jadi petuah berharga. :-) see u next time teater besar...
ini satu-satunya gambar yang berhasil terekam, selebihnya masih tersimpan di kepala
-Agil-
