Persiapan dan persiapa menjadi sebuah awal kesuksesan dalam proses pengambilan gambar. Seingatku(Agil bos), sudah dua kali keteledoran itu aku alami. Keteledoranku dengan pergi motret tanpa persiapan yang matang. Artinya gagal total. Baru saja aku alami, senin malam kemaren 28 Mei.
Begini pelajaran yang bisa aku ambil...
Bersama ara, berdua kami menghampiri sebuah pertunjukan seni. Pertunjukan di Teater Besar ISI Surakarta itu bertajuk Erasmus Huis presents INTRODANS. Sebuah karya pertunjukan tari balet yang memerkan lenggak lenggok ekspatriat negeri kincir angin. Pasti menarik, karena selain momen-momen indah akan tercipta, masuknya pun cuma-cuma.
Sampai di tkp, baru kubuka perlengkapan jepretku. Sedikit kaget...batere tinggal setitik kecil mungil. Senyum sedikt lalu kumasukkan lagi. Dalam hati, semoga cukup untuk 10 jepretan. Tap...tap...tap...sekitar waktu hampir mendekati pukul delapan malam, para penonton mulai merangsek ke dalam gedung pertunjukan. Aku sedikit melupakan batere yang mlompong, melangkah mencari kursi kosong untuk kami jajah.
Masih belum berubah, suasana adem, riuh di sana sini namun tak gaduh sampai pekat remang masuk ke dalam ruangan pertunjukan. Habislah kira-kira waktu seperdua jam di tempat itu. Aku menunggu dengan bisu, berpikir “setitik” bisa jadi berapa detik frame. Aku buang jauh-jauh pikiran itu dan kembali menikmati alunan sajian tari balet yang segera disajikan.
Terdengar, pengarah acara membacakan aturan tata krama di gedung pertunjukan. Katanya, “penonton tak berhak bertepuk tangan sebelum pertunjukan usai, tak berhak pula merokok, makan dan minum. Tak dihalalkan berbuat gaduh, memotret dengan pertolongan kilat lampu, dan terakhir yang membuatku hampir sekarat, para kaki-kaki di bawah sana haruslah tak berbungkus jepit.”
Setelah pembacaan keputusan aturan sepihak itu, pertunjukan dimulai. Gelap mendekat namun sepersekian detik berganti lampu sorot menampilkan tarian warna-warni pembuka acara.
Aku sedikit bergerak, merogoh sekat berisi kamera, kubidik lalu kusimpan kembali ke dalamnya. Malam itu aku sebut tragedi jepit, aku terhimpit tanpa batere dan menindih sandal. Semoga jadi petuah berharga. :-) see u next time teater besar...
ini satu-satunya gambar yang berhasil terekam, selebihnya masih tersimpan di kepala
-Agil-
0 komentar:
Posting Komentar