Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Sabtu, 14 Juli 2012

Blue + Yellow = Purple Octopus


Hai.. lama tak bersua dengan saya. Setelah Agil bos mentriple hit saya dengan tulisannya yang ciamik, saya mau mencoba ndesel-ndesel dengan tulisan kecil yang ngalor-ngidul.


Kali ini saya mau bercerita tentang 2 anak sekaligus. Siapa? Nama mereka Octo dan Octa. Octo lebih tua beberapa bulan ketimbang Octa dan berbadan lebih gempal. Octo berwana biru muda seperti langit saat tidak ada awan, biru bersih, lazuardi. Sedangkan, Octa berwarna kuning menggoda mata, eye catching sekali.


Octo bernama lengkap Blue Octopus. Dengan Octo kami bertiga bertemu bersama di pertigaan terminal Klaten, di depan sebuah toko penganan anjing. Tidak akan pernah lupa rasanya bertemu dengan Octo. Dia ini dicari-cari banyak kolektor octopus bersaudara, dan kami dapat mengadopsinya dengan harga yang tidak terlampau mahal, meski setelah itu kami berdua harus rela mengencangkan ikat pinggang. Sedangkan Octa tidak perlu berjalan terlalu jauh untuk dapat mengadopsinya, seller nya sendiri yang datang ke Agil Bos yang kemudian ditebus dengan mahar beberapa kali scan gratis (tidak usah kami sebutkan berapa kali-nya).


Mengenai Octo, kelebihannyalah yang menjadikan banyak mata tertarik padanya. Blue Octopus adalah satu dari 3 bersaudara Octopus yang dilengkapi flash, sehingga mengabadikan gambar di malam hari (berpenerangan kurang) tidak menjadi masalah buatnya. Hanya dengan 1 baterai AA saya dan Agil dapat mengabadikan saat-saat yang tidak bisa diabadikan Octa, yang tidak dilengkapi dengan flash.


Pasti selalu ada kelebihan dalam setiap orang, tidak terkecuali Octa (kamera). Octa atau Yellow Octopus punya kelebihan pada masking filmnya. Octa dapat mengambil gambar dengan masking panorama, seperti halnya pendahulunya, Delta 88 (mini top). Meskipun panorama yang dihasilkan adalah “panorama palsu” atau hanya sekedar masking/crop pada film, tetapi hal tersebut menjadikan gambar yang dihasilkan menjadi berbeda dari kamera sejenis yang tidak bermasking panorama. Ada satu hal lagi yang bisa dibanggakan dari Octopus bersaudara ini, ketajaman lensanya! Saya jatuh cinta setengah mati pada ketajaman gambar yang berhasil direkam melalui lensa Octopus bersaudara ini. selain itu keduanya dapat menghasilkan gambar yang bersudut hitam alias vignette. Kesimpulannya saya (Agil juga) bahagia sekali bisa memiliki mereka, dan tidak sabar ingin segera bertemu dan mengadopsi saudara mereka yang tercerai, Purple Octopus. Saat hari itu tiba, saya berjanji akan segera menceritakan kisahnya, karena tanpa purple rumusan octopus tidak akan bisa sempurna. Blue + Yellow means Purple, oleh karenanya diciptakan 3. Semoga sama dengan kami, dua pribadi dengan 1 cinta, menhasilkan bahagia :)


Salam octopus, Ara

hasil jepretan Octo (octopus blue) dengan film lucky shd 100

hasil jepretan Octo (octopus Blue) dengan film fuji Extra 400

ini adalah penampakan blue octopus (diambil menggunakan Ftb +50mm 1.2)

ini adalah penampakan yellow octopus


*untuk hasil dari Octa (yellow octopus) akan segera menyusul :)*


Rabu, 11 Juli 2012

Gedung Lowo, bau tapi merindu...


Gedung Lowo Juli, 2012

Siang Juli yang ke-sepuluh saya –agil bos– mengunjungi sebuah bangunan tua nan megah di Solo barat. Warga Solo menyebutnya Omah Lowo, kalau di terjemahkan ke bahasa Indonesia yang baik dan benar rumah kelelawar kadang ada juga yang menamainya Gedung Lowo. Sedikit singup ketika saya menjejakkan kaki di pelataran rumah itu. Pintu-pintu dan jendela tidak menutup sebagaimana mestinya. Bau kotoran kelelawar menyapa.

Menurut sumber hasil dari berselancar di dunia maya, Omah Lowo ini merupakan rumah tinggal bangsawan Belanda. Selanjutnya tahun 1945 bangunan ini dihuni oleh keluarga Djian Ho. Gedung yang terletak di timur-selatan perempatan solo center point itu pernah di pugar besar-besaran pada 1983-1985 dengan tidak merubah bentuk asli.

Untuk mendekati bangunan ini dari

dalam pagar, saya musti minta izin ke bapak (---maaf saya lupa namanya padahal sudah tanya---), selain itu juga bisa langsung menanyakannya ke yang empunya rumah. Nomor alamatnya 33 dekat dengan Omah Lowonya itu.

Selamat menikamati hasil rekaman lensa, Okuma :-)



-----

Berkeliling mata, meraba, menjelma, merekam dibalik lensa kamera. Tertegun sebentar, lantas berlalu, menelusuri sudut-sudut kosong yang sedikit bau. Mungkin dahulu, bangunan ini megah dan mewah. Sekarang, kian tua dan merana. Berbeda, gedung tinggi di sampingnya. Seolah menantang, menunjuki ke bawah, siapa kau, enyahlah !!!

----

-agil-

Senin, 09 Juli 2012

Ola, rekam setiap momen indah kami...

Kamera Instan, satu jenis kamera yang pernah melegenda pada tahun 80 sampai 90-an. Brand yang termashyur hingga penjuru dunia yakni Polaroid. Saking termahsyurnya, Polaroid menjadi ikon dan menjadi istilah untuk kamera langsung jadi ini. Kamera Polaroid menurut saya sangat menarik. Setelah saya ingat-ingat, saat itu tahun 90-an para juru foto banyak yang menggunakannya, terutama di daerah-daerah wisata. Saya punya satu frame merekam om saya di Pantai Parangtritis. Sayang sekali keterangan foto tidak tertulis komplit.

Mengingat sejarah kamera polaroid yang demikian hebatnya, lantas timbul pikiran untuk memilikinya. Saat ini kamera polaroid sudah menjadi barang yang langka, kalaupun ada terkadang harganya di luar nalar mahasiswa :-). Tapi, mungkin jodoh atau apa, saat kami jalan-jalan kemudian mampir di sebuah studio foto kenangan. Studio foto yang mengabadikan wajah saya untuk rupa buku rapor SD. Setelah bernostalgia, mata kami tertuju pada sebuah benda berbentuk kotak dan hitam legam. Kami meraihnya dan menemukan kamera polaroid jenis business edition tak berpikir lama, kami langsung mengadopsinya. Wajahnya imut, hitam manis komplit dengan kardusnya bahkan buku manual serta kartu garansi. Uang tebusannya pun tidak jauh berbeda dengan harga persalinannya dulu, yang 200 ribu. Saya tahu, karena masih tertera di situ.


Kami memberinya nama Ola. Saat tulisan ini terekam di sini, ola belum telah menemani kami ke Magelang dengan alam waisaknya, Keraton Kasunanan di Solo, dan terakhir Pantai Pok Tunggal Gunung Kidul. Tentunya masih banyak tempat yang belum dikunjungi kami dan Ola. Selama masih ada tempat untuk disinggahi, selama itu juga Ola akan menemani.


Setiap selesai perjalanan dan tiba di rumah. Ketika kami kembali membelai anak-anak. Satu bisikan untuk mu Ola, “rekam setiap momen indah kami”.


-Agil-

Kamis, 05 Juli 2012

Kilauan zamrud Pantai Pok Tunggal

Di sabtu penghujung bulan itu. Juni ke-22 kami ara dan agil bos melakukan perjalanan menuju pantai di semenanjung Gunung Kidul, Jogja. Pantai itu bernama Pok Tunggal. Berangkat dari Solo sekitar jam 7 pagi, sampai di pantai sekitar jam 11. Ya, sangat lama memang itu dikarenakan kondisi kendaraan yang kurang fit sehingga rata-rata kecepatan tidak lebih dari 60km/jam. Itupun ditambah sedikit hilang arah dan rute memutar.


Pantai yang berada di antara Pantai Indrayanti dan Pantai Timang itu sebenenarnya mudah untuk dikunjungi. Kita bisa mengikuti tanda penunjuk jalan yang mengarah ke Pantai Baron Kukup dan Krakal. Selanjutnya, kita mencari arah menuju pantai siung dan teman-temannya. Kemudian kita tinggal menyusuri jalan hingga menemukan percabangan tiga. Pilih yang ke kanan, setelah belokan ini sekitar 10km ada papan kecil yang menunjukkan Pantai Pok Tunggal. Pantai yang menawarkan hamparan pasir putih bersih berkilau.


Bau pasir dan khas udara pantai menyambut kami. Terlihat satu dua warga sekitar beraktivitas, namun tidak kami temui pengunjung pantai selain kami. Memang indah, memang bersih dan sepi. Kami dekati bibir pantai, mau bermain ombak tapi masih pasang, kami urungkan dan menunggu surut. Meski tergolong sepi pengunjung, fasilitas umum seperti mck sudah tersedia. Kalu ada yang tidak bawa bekal pun warga sekitar sudah ada yang menggelar dagangannya. Sepertinya memang pantai ini akan menjadi pantai primadona wisatawan, melihat itu pantas rasanya warga berbondong-bondong mempercantik pantai itu dengan melengkapi fasilitas umum. Gubug-gubug penjaja makanan mulai dibangun, ada sekitar 4 bangunan dan satu baru dikerjakan.


Panas tidak kami hiraukan, bergegas momen-momen menarik saat itu kami rekam, indera kita dibantu kamera tentunya. Di pantai itu, waktu seperti berjalan lebih cepat dari biasanya. Gemuruh ombak kian menjauh, berganti kilauan hijau rumput laut. Jadi ingat sebutan negara kita, zamrud khatulistiwa. Hijaunya memang sempurna. Sejalan dengan surutnya sang ombak, perlahan dimulailah aktivitas warga. Tua muda laki-laki perempuan, ada juga anak-anak berduyun menyusur pantai mengambil berkah pemberianNya, rumput laut. Seketika pantai menjadi ramai, tapi hanya kami yang sepertinya benar-benar pendatang.


Saat surut itu, kami mendekati tebing di sisi kanan pantai. Di sana kami menembus bebatuan, lantas kami pun disuguhi kembali keelokan pantai ini. Bebatuan yang tidak rapi, kilauan cahaya matahari, dan suara ombak menepi semakin membuat kami tak ingin beranjak pergi. Jika tadi disuguhi kilauan zamrud yang hijau, sekarang kami melihat bebatuan bernuansa emas.


Senja mulai merona, tandanya kami harus segera bergegas menuju rumah sebenarnya. Waktu menunjuk jam 5, kami pulang membawa sejuta kenangan. Terimakasih ara...



^ momen-momen yang terekam siang itu...

-agil-