Siang Juli yang ke-sepuluh saya –agil bos– mengunjungi sebuah bangunan tua nan megah di Solo barat. Warga Solo menyebutnya Omah Lowo, kalau di terjemahkan ke bahasa Indonesia yang baik dan benar rumah kelelawar kadang ada juga yang menamainya Gedung Lowo. Sedikit singup ketika saya menjejakkan kaki di pelataran rumah itu. Pintu-pintu dan jendela tidak menutup sebagaimana mestinya. Bau kotoran kelelawar menyapa.
Menurut sumber hasil dari berselancar di dunia maya, Omah Lowo ini merupakan rumah tinggal bangsawan Belanda. Selanjutnya tahun 1945 bangunan ini dihuni oleh keluarga Djian Ho. Gedung yang terletak di timur-selatan perempatan solo center point itu pernah di pugar besar-besaran pada 1983-1985 dengan tidak merubah bentuk asli.
Untuk mendekati bangunan ini dari
dalam pagar, saya musti minta izin ke bapak (---maaf saya lupa namanya padahal sudah tanya---), selain itu juga bisa langsung menanyakannya ke yang empunya rumah. Nomor alamatnya 33 dekat dengan Omah Lowonya itu.
Selamat menikamati hasil rekaman lensa, Okuma :-)
-----
Berkeliling mata, meraba, menjelma, merekam dibalik lensa kamera. Tertegun sebentar, lantas berlalu, menelusuri sudut-sudut kosong yang sedikit bau. Mungkin dahulu, bangunan ini megah dan mewah. Sekarang, kian tua dan merana. Berbeda, gedung tinggi di sampingnya. Seolah menantang, menunjuki ke bawah, siapa kau, enyahlah !!!
----
-agil-










0 komentar:
Posting Komentar