Di sabtu penghujung bulan itu. Juni ke-22 kami ara dan agil bos melakukan perjalanan menuju pantai di semenanjung Gunung Kidul, Jogja. Pantai itu bernama Pok Tunggal. Berangkat dari Solo sekitar jam 7 pagi, sampai di pantai sekitar jam 11. Ya, sangat lama memang itu dikarenakan kondisi kendaraan yang kurang fit sehingga rata-rata kecepatan tidak lebih dari 60km/jam. Itupun ditambah sedikit hilang arah dan rute memutar.
Pantai yang berada di antara Pantai Indrayanti dan Pantai Timang itu sebenenarnya mudah untuk dikunjungi. Kita bisa mengikuti tanda penunjuk jalan yang mengarah ke Pantai Baron Kukup dan Krakal. Selanjutnya, kita mencari arah menuju pantai siung dan teman-temannya. Kemudian kita tinggal menyusuri jalan hingga menemukan percabangan tiga. Pilih yang ke kanan, setelah belokan ini sekitar 10km ada papan kecil yang menunjukkan Pantai Pok Tunggal. Pantai yang menawarkan hamparan pasir putih bersih berkilau.
Bau pasir dan khas udara pantai menyambut kami. Terlihat satu dua warga sekitar beraktivitas, namun tidak kami temui pengunjung pantai selain kami. Memang indah, memang bersih dan sepi. Kami dekati bibir pantai, mau bermain ombak tapi masih pasang, kami urungkan dan menunggu surut. Meski tergolong sepi pengunjung, fasilitas umum seperti mck sudah tersedia. Kalu ada yang tidak bawa bekal pun warga sekitar sudah ada yang menggelar dagangannya. Sepertinya memang pantai ini akan menjadi pantai primadona wisatawan, melihat itu pantas rasanya warga berbondong-bondong mempercantik pantai itu dengan melengkapi fasilitas umum. Gubug-gubug penjaja makanan mulai dibangun, ada sekitar 4 bangunan dan satu baru dikerjakan.
Panas tidak kami hiraukan, bergegas momen-momen menarik saat itu kami rekam, indera kita dibantu kamera tentunya. Di pantai itu, waktu seperti berjalan lebih cepat dari biasanya. Gemuruh ombak kian menjauh, berganti kilauan hijau rumput laut. Jadi ingat sebutan negara kita, zamrud khatulistiwa. Hijaunya memang sempurna. Sejalan dengan surutnya sang ombak, perlahan dimulailah aktivitas warga. Tua muda laki-laki perempuan, ada juga anak-anak berduyun menyusur pantai mengambil berkah pemberianNya, rumput laut. Seketika pantai menjadi ramai, tapi hanya kami yang sepertinya benar-benar pendatang.
Saat surut itu, kami mendekati tebing di sisi kanan pantai. Di sana kami menembus bebatuan, lantas kami pun disuguhi kembali keelokan pantai ini. Bebatuan yang tidak rapi, kilauan cahaya matahari, dan suara ombak menepi semakin membuat kami tak ingin beranjak pergi. Jika tadi disuguhi kilauan zamrud yang hijau, sekarang kami melihat bebatuan bernuansa emas.
Senja mulai merona, tandanya kami harus segera bergegas menuju rumah sebenarnya. Waktu menunjuk jam 5, kami pulang membawa sejuta kenangan. Terimakasih ara...
^ momen-momen yang terekam siang itu...
-agil-


0 komentar:
Posting Komentar