Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Selasa, 31 Desember 2013

loading

loading

loading...

Rabu, 25 Desember 2013

Malam Natal

Jumat, 13 Desember 2013

Tidak Terasa

Tidak terasa, bulan terakhir ditahun ini hampir habis setengah. Tidak terasa usia kita bertambah. Tidak terasa Januari segera datang. Belum lama benar aku membawa buku warna warni itu. Rasanya waktu mengejar kita. Tahun baru, bulan baru, hari baru semangat baru, hati yang baru semuanya untukmu.
Tidak terasa blog ini terisi setiap bulannya ditahun 13 ini. Isi yang tidak jelas, ada juga yang jayus, kadang memaksa kita untuk lebih menerka, apapun ada. Kapan menulis lagi? Tahun depan sempetin ya, apapun. Sebulan 4 tulisan, boleh lebih, malah itu yang kita pengen kan? Foto, lama tidak berfoto, jalan-jalan apalagi. Bercengkerama dengan tempat yang baru lantas menceritakannya di sini, kangen seperti itu. 
Tidak terasa, tapi sudah berhenti sampai di sini.

Senin, 25 November 2013

pertama dan kedua

Seru memang jika melihatnya, tapi menyeramkan ceritanya
makhluk tak kasat mata ala manca
banyak pasang mata tergoda, kamu juga, apalagi dia
aku? sibuk dengan duniaku, lupa memikirkan maumu
maaf...mungkin bosan kedengarannya, tapi apalagi
cerita itu memang seram, lebih seram lagi kalau masuk ke dalam mimpiku
sudah kubuang ketakutanku, karena itu tak nyata, tak juga maya
samar-samar hanya terdengar keasikan dari ceritamu
aku penasaran, cerita apa itu?
tak lama aku tau, tapi tak sepenuhnya mengerti
maaf untuk yang pertama

fiksi tapi ilmiah, kesukaanku diwaktu-waktu yang lalu
cerita yang menggebu, diselingi drama peperangan
kita menamakannya pilihan, saling melawan, baik dan buruk
lagi-lagi aku tidak tahu, kalau saja kau tak mencerewetiku
banyak yang berkata bagus, kamu juga, mungkin juga dia
aku mengangguk pelan, menelan ludah mengira ira setting dan latarnya
tak terbayangkan, maaf, aku tak bersamamu
maaf untuk yang kedua

sedihmu bingungmu marahmu sukamu atau malah ketidak sukaanmu mungkin muncul kali ini
maaf telah menjadikan kata maaf sebagai dalihku untuk menulis.

si peminta -maaf-

Senin, 18 November 2013

November: harus percaya !!!

Sore, mau protes. Kapan ni Arabos mulai nulis lagi. Curang ah...masa ga pernah ngisi ni sekarang. Sampe kehabisan ide. Tapi ralat deh, yang kata-kata kehabisan ide tadi. Soalnya ide pasti ada, kita bisa jemput ato kadang malah kita yang dihampiri. Asal ada kemauan pasti ide akan selalu mengalir. Asal tulis begini juga nanti bisa melahirkan suatu ide, harus yakin, harus percaya.
Dulu pernah punya ide untuk rajin nulis -apapun-, pokoknya nulis. Satu hari satu tulisan. Awalnya semangat, dan bisa. Tapi minggu kedua dan selanjutnya mulai tidak terkontrol. Malas menyerang, waktu cepat terbuang, sampai-sampai alasan yang tidak masuk akal dan otak kita membenarkan untuk melalaikan perjanjianku diawal, satu hari satu tulisan.
Sampai muncul blog ini, awalnya kita berencana mau menuangkan cerita-cerita kita, jalan-jalan, uneg-uneg pikiran dan lainnya di sini. Lagi-lagi, awalnya berjalan, tapi lambat laun memang berkurang. Bahkan sempat tidak menulis apapun. Terpaksa kosong, padahal sangat disayangkan, waktu tak pernah kembali. Lantas, kita mulai membuat perjanjian yang baru, mulai mei tahun lalu, blog aneh ini minimal ada tulisan baru tiap bulannya. Tidak main-main minimal 4 tulisan. Artinya tiap minggu minimal satu tulisan. Rasanya ringan, tapi prakteknya lumayan berat.
Pernah mengelola blog berisi foto, pengen update dengan foto-foto sendiri siapa tau ada yang buka-buka dan terus suka fotonya kan ntar bisa jadi duit, tapi lagi-lagi alesan ini itu yang ada. Foto-foto ga ada blog lupa kata sandi, lengkap sudah. Lupakan fotoblognya, sekarang kembali ke ruang tulis ini. Setelah lama, akhirnya bisa melanjutkan menulis. Cerita baru, tapi berhubungan. Ah ga jelas gini ga terstruktur tulisan kali ini, coba baca ulang dulu dari atas. Bentar yaa...
Ya..udah konek. Harus percaya, temanya tapi isinya ga nyambung hiihihihi. Gara-gara pikiran bercabang kali ya. Ah nggaklah, lurus arabos doang. Semoga sebaliknya juga gitu ehehehehe. Skip. Ngomongin nulis, ini udah akhir November, kejar deadline artinya. Masih tiga lagi. Iya, bukan niatnya nulis ga bermutu,tapi membiasakan menulis itu berat. Bukan juga ngeles, tapi ini sebuah pembelajaranku tentu juga arabos, rajin nulis rajin motret, ntar moga aja jadi kenangan manis, karena sang waktu itu sangat tak terduga, persis kamu !!!

--maaf gaje :-p

Kamis, 31 Oktober 2013

Cemburu

Kapan pertama kali aku menulis tentangmu, tentang kita

Aku tidak begitu ingat waktunya
Tapi, baru kemarin aku tuliskan beberapa kalimat untukmu
Kau bilang, jelek
Aku terkekeh, menertawakan penilaianmu
Ingat apa itu?
Iya, kau mengartikan barisan kalimatku dengan satu kata
Cemburu

Kuingin terus menulis untukmu

loading

.....

Jumat, 25 Oktober 2013

Pasangan Rindu


oktorber ini
menuju kembali ke dekatmu
berbeda jalur satu tujuan, kamu
siang menemani, tapi dingin menyelimuti
duduk terdepan, sendiri
hanya bisa menatap jauh bayangmu dipantulan jendela kereta
pagi berganti senja, mendekatkan aku dengan senyummu

kutapakkan kaki ditanah baru, stasiun gambir
hilir mudik memecah kerinduanku
saat keluar pintu stasiun, langit menjingga
udaranya jauh berbeda, seperti kabut yang bercampur asap knalpot

bergegas aku menuju titik perjanjian, tanahabang
nama stasiun penuh kenangan
kutunggu, kuawasi satu persatu setiap pasang mata yang datang
lama tak ku risaukan, sebab aku menungguimu

aku lihat satu bayangan berkelebat
aku harap dirimu, aku ikuti tapi bayang itu menjauh
aku tersenyum getir, bukan kamu, kuteruskan menunggu
tentu ada waktunya, tak lama setelah itu, aku temukan senyummu
manis, rinduku perlahan meleleh
bertemu hangat pancaran matamu
rinduku perlahan mulai berirama, karena menemukan rindu pasangannya

--kang

Jumat, 06 September 2013

September -katanya- Ceria (Ditelepon Panitia)




Bulan baru... awal September-katanya-Ceria. Kemarin mau nulis tentang keceriaan ini, tapi tertunda. Sempat sampai nulis, tapi akhirnya berganti judul, seperti awal-awal membuat skripsi.  Lanjut...cerita bermula dari hp yang restart dan restart melulu. Ceileee...melulu... 
Di mana cerianya? justru itu, jadi ceria dari restart-restart itu hp berubah jd smart...bukan bermaksud ngiklan ni yaaa... akhirnya ngerasain juga telepon pinter, telat banget padahal. Lanjut...tak hanya itu, kamera-kamera yang sudah masuk -kotak- akhirnya punya bapak angkat, tkp di Jambi. Semoga mereka senang di sana, tapi semoga juga tidak dimutilasi sama bapak angkatnya itu, ih serem. Yang masih tarik ulur ya si sepeda jadul...masih seneng nongkrong di teras belakang mungkin, memang enak tempatnya adem penuh semilir angin, hingga mereka karatan berdiam di situ.
Yang ditunggu-tunggu tapi tidak terlalu, bukan pesimistis tapi realistis. Akhirnya tiba..awalnya tidak tahu, hanya ada seorang teman yang memberi selamat. Kuturut jalan pikiranku, dan memang benar, momen yang sudah lama menghilang, sekarang menghampiriku lagi. Apa itu.. ya ditelepon panitia.

ceria...? ya sedikit.... tapi kurang sempurna tanpamu di sampingku


Kamis, 05 September 2013

Kirab Gerobak Sapi Klaten

Kirab gerobak sapi pagi itu diadakan dlapangan ............. nanti aku editya nama lapangannya. Harinya sabtu, lapangan dipenuhi gerombolan sapi dan pedati. Tampak akur berbaur sapi dan majikannya. Aku datang tepat menjelang acara. Alat aku siapkan. Mata kemana-mana mencari rona yang tidak biasa agar menjadi bidikan istimewa......bersambubg

Kamis, 29 Agustus 2013

Merdeka!!!

Hari kemerdekaan tahun ini begitu spesial. Ada peristiwa unik yang disuguhkan oleh anak-anak bangsa yang cinta tanah air dan bangsa. Tepat tanggal 17 Agustus, Jembatan Bacem, penghubung Kabupaten Sukoharjo dan Kota Surakarta-Solo- menjadi saksi sejarah itu.
Siang yang menyengat tak menyurutkan semangat patriot-patriot tua maupun muda untuk mewujudkan sejarah baru. Sejarah membentangkan bendera Sangsaka merah putih yang membelah sunga Bengawan Solo. Bendera berukuran raksasa, sekitar panjang mencapai 100 meter dan lebar tidak kurang dari 90 meter menjadi sarana pemupuk rasa nasionalisme warga.
Dibantu masyarakat bekerjasama dengan TNI, bendera perlahan membentang dari sisi utara sungai membelah menuju utara. Diiringi lagu Indonesia Raya, semua berjalan sesuai rencana. Bendera terkembang sempurna sesekali menyentuh air kemudian melambai-lambai ditiup angin. Saya tidak bisa membayangkan, dahulu untuk mengibarkan sang merah putih ini tentunya banyak sekali yang dikorbanan, yak hanya harta benda, nyawa jadi taruhannya.
Dengan ini kita pekikkan kata penyemangat...Merdeka !!! Merdeka !!! Merdeka !!!

Selasa, 13 Agustus 2013

Enam Hari Lima Malam

Detik ini kau melayang-layang menuju tempat kesayangan, Pamulang
Terimakasih untuk enam hari lima malam ini
Enam hari, panas meraja
Lima malam, dingin mencekam

Lebaran kali ini terasa beda. Di rumah sawah, di rumah mbah kakung, atau di hatiku. Di rumah sawah masih seperti biasa, di rumah mbah ada Nimas, yang bikin gemas. Sedangkan di hatiku, sumringah karena lekas bertemu siArabos.
Telat sehari, maaf. Soalnya diminta orang-orang ke sana ke sini (H-1 Lebaran). Ga sabar, hari H tiba. Ke lapangan tempat main bola saat SD dulu, bertemu teman lama, bertegur sapa dengan orang lama, tanya kabar dengan mereka. Aku memikirkanmu.
Sampai rumah sawah, berbenah, bersiap, berganti pakaian menuju rumah mbah kung. Mulai panas, bau khas keringat menyengat. Satu rumah berganti, menuju pintu selanjutnya. Terakhir rumah mbah gito, entah siapa, yang jelas aku kenal dia, apalagi si mbah, kenal semuanya. Menuju pulang ke rumah sawah.
Tidak lelah, karena telah kubuang jauh-jauh. Bertemu di rumah barumu, itu keyakinanku. Bergegas, pamit, sampai juga bertemu. Masih terbayang, sampai sekarang. Setiap pertemuan, aku pastikan terekam baik di otaku ini. Sampai otak ini tak berfungsi.
Masuk, salaman satu-satu tukar senyum. Wajah-wajah lama, ada juga yang baru, tapi yang lama masih sama, hangat penuh sapa dan canda. Aku melirik, senyummu.
Perlahan mencair, terbantu udara panas sore itu, sesuai suasana hatiku. Degupnya perlahan berirama, mengikuti liukan bola matamu, yang tak henti bergerak ke sana kemari, tapi terpola. Suasanya remang desa mulai merasuk, lampu-lampu menyala. Sorak sorai anak kecil bernama A masih menggema, tak mereda, makin menjadi, iya.
Mata berpasang-pasangan, mulai meredup, lampu-lampu kamar segera menyusul mengatup. Pelan-pelan suara-suara bermunculan. Dengkuran bercampur nyanyian cicak, krusak krusuk plastik pembungkus kasur bergesekan dengan kulit, seperti jeritan kesakitan.
Pagi datang, pertama kucari pasti siapa. Siapa itu tentu kamu. Siapa lagi kalo bukan dia, dia itu kamu. Bergegas mandi, rapi, wangi, siap menuju ke mana. Motor dikunci, untuk segera diajak mengitari mengunjungi yang jarang didatangi. Saudara tua, saudara lama, saling bertemu bertukar sapa.
Sampai di pertengahan kelaparan, mampir sebentar ke tempat tukang  sate. Tinggal tong dan seng, namun tanpa karat sedikitpun. Siapa sangka di sini juga kita bertemu minuman yang entah bagaimana rasanya, aku belum tahu, dia Saparella. Berbotol seksi mirip gitar spanyol, bersemboyan exlusive drink. Sudah lama rasanya merasakan makan bersama, saling bersampingan.
Pulang, ke rumah baru. Bertemu debu, tapi seru. Kita duduk di beranda menunggu yang lain. Perlahan satu datang, dua menyusul, lama-lama lengkap. Rumah kembali meriah, ada berbagai macam polah tingkah lucu. Sampai pada sore, aku kembali membelakangimu di jalanan kota kecilmu. Kau berpegang di belakang, erat. Malam kembali datang semua terpejam. Hari baru segera tiba, sabtu.
Udara masih sama seperti beberapa hari yang lalu, siang tapi anginnya dingin sedangkan hawanya begitu menyengat. Membuat badan harus bertahan lebih kuat. Hari ini beberapa orang harus pulang, pasti jadi sepi. Tidak kemana-mana, berdiam di rumah, bertahan dari udara tak bersahabat. Kamu masih belum seperti sedia kala, sedikit anget. Obat-obatan sedikit membantu, makanan mulai bisa tercerna. Aku ikut senang, kala sore itu senyummu kembali terkembang, seperti senja saat itu, mempesona. Aku tak jadi pulang.
Sebentar lagi semua akan kembali, kau ke rumah aku juga begitu. Semoga tidak akan lama, kita musti berjumpa lagi. Terimakasih untuk enam hari lima malam ini...



Selasa, 06 Agustus 2013

Dia memang baik

Dia memang baik

Memberiku waktu untuk menemuimu
Meski sebentar, tapi sangat nyata
Kadang malah seperti cerita drama
Pernah sampai hampir lupa, karena terlalu panjang dan lama
Pernah juga pendek-pendek mirip iklan baris
Dia memang baik
Masih memberiku kesempatan bertemu
Menawarkan cerita, seringnya memang sangat nyata

Aku selalu ditunjuk sebagai aktornya, kau tentu saja pasangannya
Melenceng dari pakem, bukan berarti aneh
Sebab satu sama lainnya selalu ada hubungan
Seperti cerita ini, tidak melulu menampilkan peran pembantu yang kita tahu
Seringnya malah sebaliknya, tak kenal
Dia memang baik
Kita selalu dipasangkan bersamaan
Kita saling menguatkan
Kita saling menyematkan senyuman
Dan benar, kita terpisah ruang dan waktu
Tapi, Dia memang baik

Cerita sesaat setelah terjaga

Senin, 05 Agustus 2013

Belalai Kupu-kupu

Belalai kupu-kupu
Teman mimpi tidurmu
Belalai kupu-kupu
Kata mesra untukmu
Belalai kupu-kupu
Semoga ingat selalu

Jangan pergi jauh-jauh

Waduk Mulur Pagi Hari-SuperHeadz UWS


Menunggu pagi
Mengharap cepat menjalar
Mata tak berteman, bebas menerawang
Pagi ini sepertinya pagi tak bertuan
Ku tunggu pagi
Kuharap cepat, tapi apa
Seperti tak bergerak
Sepagi ini aku merenungimu
Semua berdebar tapi diam
Menambah beku pagi ini
Mata mata ku mengembara
Lepas tak berarah
Cepatlah kembali, buka binar kelopak matamu
Kembali ke dadaku
Tak rela kau pergi jauh-jauh dariku

Kamis, 01 Agustus 2013

Empat Datang Empat Pergi


Empat datang empat pergi
Belum genap sehari, satu pergi
Berganti hari, Empat datang empat pergi
Anak inci tak ada lagi :-(


Ibu inci, tidak beranjak lalu menatap diam

Selasa, 23 Juli 2013

Balon warna-warni (Permintaan tentangmu)

Balon warna-warni (Permintaan tentangmu)

Bulan ini selalu terulang, setiap perulangan itu sepertinya biasa saja. Tapi tidak demikian, sejak balon-balon warna-warnimu mengisi degup jantung ini. Rasanya membumbung tinggi, setinggi balon-balon warna-warnimu. Kau minta tujuh keajaiban, tujuh-tujuhnya kutulis persis keinginanku saat itu, tulus penuh harap.

Sekian lama, aku ingat-ingat lagi tapi hanya satu yang masih teringat di kepalaku. Aku ingin lebih lekat dengan senyumu. Perlahan semuanya berjalan. Kau beri aku senyum, hingga kini. Aku masih terus mencari yang enam, tapi maaf, saat itu aku begitu khusuk meminta sampai-sampai aku lupa saat kau tanyakan yang sebenarnya. Aku tersenyum mencoba mengingat, kau merona penuh semangat.

Mungkin penting bagimu untuk tahu apa yang sebenarnya aku minta saat itu, tapi yang jelas semoga kamu mengerti, Tuhan telah mengabulkan satu dari tujuh permintaanku, permintaan tentangmu.

Balon warna warni membumbung tinggi, setinggi anganku tentangmu

Senin, 22 Juli 2013

Menunggu Purnama

Menunggu purnama

Malam berlanjut kelam
Padahal aku berharap terang rembulan
Suara angin, dingin menerpa mukaku
Yang terpaku, membisu tiada kawan
Melainkan hanya gerombolan awan tepat di hadapan
Kulihat sekeliling, seolah-olah berpaling
Masih kelam, semakin dingin, awan hitam menggumpal
Aku berdiri, aku terpaku, aku terdiam, di tempat ini, karena
Aku masih menunggu purnama

Entah malam ini atau lusa...purnama itu

Kamis, 11 Juli 2013

Pusara-pusara saudara


Awal bulan ini aku diajak untuk mengunjungi saudara-saudara dari Mbah Kung Kromo. Tidak biasa, aku diajak ke tempat saudara tua Mbah Kung, ke rumah masing-masing. Tidak membawa buah tangan atau makanan untuk dihadiahkan, melainkan menenteng bebungaan tujuh rupa dan kemenyan. Tradisi jawa lama, saat berkunjung ke tempat saudara tua, tempat peristirahatan terakhir mereka.



Motor diparkir depan gerbang, tampak banyak yang khusuk berdoa menghadap pusara-pusara. Komat-kamit kepanasan, cuaca terik siang itu. Anak-anak kampung berjejer rapi sambil menebar senyum karena tempat pusara-pusara itu ramai pengunjung. Kami bergegas, tapi aku tak tau mana yang dituju, tentunya kecuali tempat yang paling aku tahu, tempatnya Mbok'e, sebutan untuk istrinya Mbah Kung. 


Dan benar saja, pusara pertama memang belum familiar, baru pertama malah, lekas buru-buru aku membidik perlahan, tentunya sesegera mungkin berdoa. Mulut Mbah Kung turun naik, tangan perlahan mengambil sejumput menyan bercampur minyak seketika api disulut dan menyambar udara yang panas di area pusara itu. Bebauan tercium, bukan mistis melainkan khusuk. Mata menatap jauh perlahan usai, berjalan berganti pusara lainnya.


Tak hanya seperti kami, bocah-bocah polos juga ikut berpartisipasi. Tidak ikut mendoakan, tapi mendekati kami. Matanya penuh harap, sebenarnya bisa ditebak, tapi dari awal memang aku sudah tau mau apa mereka. Tidak seperti anak yang lain, ada satu anak yang sepertinya begitu familiar dengan tempat ini. Tentu saja, memang rumahnya bersebelahan dengan pusara-pusara ini. 


Tiba di pusara Mbo'e, sudah berapa lama aku tidak ke sini. Tapi aku tentu tau, bukan itu yang beliau mau, hanya untaian doa lah yang diharapkan. Perlahan kenangan kembali mengantarku ke masa-masa dulu. Saat aku begitu sering mengeluhkan keadaan. Entah belum mengerti atau terlalu dini usiaku, tapi kalau ingat sekarang ingin aku pulang ke masa itu, dan kembali membantumu mengambil pisang untuk minum obat, mengantri beli bubur untuk syarat minum obat, atau mengantar ke tempat praktek dokter spesialis penyakit dalam. Dulu memang aku terlalu pengeluh, saat bunyi kentongan itu bernyanyi padahal aku baru asik menyanyikan lagu-lagu bersama kawan-kawanku. Atau teriakan-teriakan itu saat aku terpaku di depan layar biru. Ah...sepertinya semua begitu indah. Maaf kalau aku dulu terlalu mengeluh....

Sambil berdoa, kubisikkan kata rindu ini...




Api membara, asap mengepul hampir bersamaan dengan datangnya bau kemenyan. Aku diam saja, yang jelas memang satu yang mereka pinta. Yaitu doa yang tulus dari anak cucu mereka. Sejak saat itu, aku jadi tahu, mana-mana saja keluargaku. Terimakasih atas kesempatan siang itu, aku sedikit tahu semua ada saatnya di sini, terpaku di pusara, sendiri, hanya manusia-manusia tertentu yang peduli.



Selasa, 09 Juli 2013

Menemuimu

Sudah janji hari itu, tapi baru akhir pekan ini aku bisa melunasinya. Awal bulan Juli aku baru bisa melihat pipi merahmu lagi, sekarang makin mirip Liong Yen Pasar Gede kesukaanmu. Untuk semua itu, aku mencoba mengulang perjalanan di akhir Januari lalu. Kereta sore, Bengawan mengantar ke tempat yang sama. Tapi dengan orang-orang yang berbeda, menawarkan cerita yang berbeda pula.

Di dalam gerbong tetap seperti dulu, dan akan seperti itu ada degup yang membawa rindu berbulan-bulan, degup jantungku. Kadang membias bersamaan dengan hentakan rel yang beradu melawan roda kereta. Suasana gerbong tak sedingin dahulu, ada canda, tawa, suka tentu tak ketinggalan duka, yaa duka anak kecil   yang tak bisa bermain bebas karena terpenjara gerbong kereta.

Entah pertanda apa, setiap singgah di stasiun itu hujan tak pernah reda, bahkan sepagi ini, pagi masih pukul 5. Dingin tak kuhiraukan, malah asik bercengkerama dengan suaramu yang seolah menggelitiki telingaku, aku tersenyum ke sana kemari. Hujan masih juga belum beranjak, masih mengucur pelan tipis-tipis. Aku terpaksa bergegas, berjalan dibawah jejatuhan dingin yang berair, yang menetes masuk perlahan di sela-sela baju yang kupakai.

Memang tak kusangkal, dari dulu hujan adalah teman, teman kita bukan? Pasti kamu tak akan lupa, meski kalau dihitung, rasanya tak terhingga. Mentari di timur masih enggan meninggi, seolah-olah terbenam, dan aku masih menunggu bus berkode tujuh dan enam, berjam-jam tak terasa. Apa artinya hitungan jam, bagiku tak seberapa lama karena tekadku menemuimu.

Di dunia memang serba tak terduga, dari dingin yang menggigil, diteruskan panas yang mencabik menemaniku. Memang sewajarnya begitu, ujian pasti datang pada awalnya, jika berhasil pada akhirnya kita yang akan menuainya.

Iya, aku melihatmu setelah berbulan-bulan berlalu. Girang tak kepalang, mata kita saling tatap, binar-binar bermekaran, rasanya tak terbendung lagi, semua meluap, kamu tatap aku, matamu menggerutu manja, "jahat...kenapa lama sekali datangnya?" Aku terdiam mencubit-cubit pipimu, kudengar suara gaduh, kamu mengaduh, aku tertawa lebar karena ini benar-benar kamu yang ada di depanku.

Maaf, memang terlalu lama, aku janji tak begitu lagi. Sekarang kamu berbeda, tapi hanya membuatku makin sayang aja. Dalam doaku, setiap waktu pertemuan kita, aku ingin saat itu adalah saat-saat bahagia, saat-saat berbagi, berbagi suka, berbagi duka. Secepatnya aku akan menemuimu...

maaf agil pake aku dan kamu...

Minggu, 23 Juni 2013

StreetPhoto

Mulai nulis lagi. Mulai bercerita lagi. Hasil mampir dari acaranya temen pegiat fotografi di Solo. Srawung Fotografi, nama gerakannya (kalau salah tolong diralat). Malam tanggal 20 Juni '13 pas banget yang dibahas tentang street photografi, fotografi jalanan, terjemahan kasar, hehehehe.

Seru memang, disuguhi foto2 dengan kualitas tinggi, foto dengan daya imaji dan gaya tutur yang mengusik nurani. Foto jalanan yang tak sekedar objek di jalan, atau manusia dan bangunan. Tak sekedar rekaman autentik kejadian suatu masa, suatu fakta peradaban manusia. Melainkan ungkapan fotografer memaknai sang waktu yang misterius, yang tak pernah berputar balik, semuanya maju.

Di sini sudut-sudut pandang itu terbentuk. Akibat dari waktu yang berjalan maju, semua tampak sempurna, aktivitas membeku pada satu detik tertentu, dilanjutkan detik berikutnya begitu seterusnya. Menarik genre foto ini, sejarah, fakta perjalanan waktu, saksi hidup, bukti autentik, semua itu kita cipatakan sendiri, melalui satu jari telunjuk kita, ayo kapan lagi. Sebelum detik berganti kedetik berikutnya, tekan rana dan jadikan satu detik yang berarti. Saatnya menjadi bagian dari sejarah.

#Jadi pengen jalan2 cui...

Senin, 03 Juni 2013

Cod -- Cerita Orang Dagang

Cost On Delivery, memang itu kepanjangannya. Tapi kali ini bukanlah yang itu, tahu apa?
Memang sih ngarang sendiri, semoga yang baca jadi penasaran, atau kalaupun nggak bisa bikin penasaran sudah bisa menuangkan ide dalam otak ini.

Cerita Orang Dagang, itu yang saya maksud hehehehe... Cerita memang sumbernya banyak sekali. Salah satunya ya ini, dari seorang pedagang. Kebetulan saya baru belajar jualan via pasar online. Nah dari sini muncul ide menceritakan kisah-kisah saat saya bertransaksi. Seringnya kirim via jasa kurir, tapi tidak jarang juga yang ketemu langsung.
Dari transaksi satu ke transaksi yang lain, makin menambah khasanah cerita, hingga pengen banget aku tulisin di sini.

Pertama...
Sebenarnya bukan transaksi pertama, tapi ini transaksi lumayan konyol yang pertama. Awalnya nggak ada yang janggal, aku anggap biasa walau sms pembukanya ane,
"jualan kamera ya?"
Aku jawab "iya, tp kamera jadul masih pake roll film harga udah tertera silakan ajukan penawaran, misal cocok saya lepas".
Bahasa pemasar, dalam hati...yaiyalah di lapak udah tertera jual kamera, eh masih sms tanya jual kamera? Hadehhhh...

Dari situ memang udah aneh, tapi ujungnya memang deal, setelah saya hampir putus asa karena nomor si buyer udah aku oper ke temen, kali aja ada kamera yang sesuai dengan si buyer. Tapi kalau rejeki memang ga kemana, akhirnya aku deal sama si buyer, aku ajak ketemuan di daerah yang gampang aksesnya, eh ga mau dia. Akhirnya disepakati ketemu di sekolahannya. Karena masih smp, dia ga bisa bawa hp ke sekolah, so sebelumnya aku kasih tau ciri-ciriku mulai dari motor sampe pakaian yang aku kenakan besok.

Hari H tiba, aku berangkat lebih awal 15 menit. Jam 15 janji ketemu depan sekolahnya, kasak kusuk lama. 30 menit udah lewat, buset diliatin satpam. Maklum nongkrong lama depan sekolahan elit. Satpamnya aja tak kurang dari tiga, sekali jaga.

Mulai muncul anak-anak dari dala, tapi tak ada tanda yang nengak nengok polah nyari orang. Lalu keluar seorang anak, tengak tengok ke arahku, aku mencoba mengkontraskan diri dari tempatku berharapmdilihat, tapi apa, nihil. Si anak mlengos belok ke tukang dawet. Untung kemaren aku kasih tau, pokoknya aku deket di sekolahanmu jadi cari sampe ketemu lho ya...

Si bocah balik lagi, masih tengak tengok, ya pasti itu orangnya. Mau aku panggil tapi takut salah, diem aja makian mencurigakan hadeh. Aneh bener, anak itu masuk lagi ke dalam sekolah. Tapi ga lama keluar lagi, tengak-tengok lagi, kali ini matanya ke arahku, disusul langkahnya menuju mendekat ke tempat berdiriku.
Mukanya polos, masih tengak-tengok, kali ini nengok satpam, gawat makin mencurigakan aja ni kesannya. Aku cuek buang muka, jangan liat satpam, perintahku pada sepasang indera lihatku.

Kucoba mencairkan suasana, tanya-tanya ga penting, dia jawab, "buruan mas, saya ditunggu mobil jemputan", walah iya...aku bergegas ambil kamera sama filmnya,sekalian aku pasangin. Sambil nenteng dawet plastikan dia meminta masukin langsung kamera ke tasnya sambil nyodorin uangnya. Haduh, macem transaksi apaan aja ni. Tanpa babibu, dia balik badan menuju mobil jemputan. Eh.. belum ada semeter dia balik lagi, dawetnya ketinggalan.

Hikmahnya, kalo ketemuan buat transaksi pilih tempat yang tidak mencurigakan biar ga disangka yang nggak nggak. Trus, sabar itu memang membawa berkah, buktinya deal tu transaksi. Terakhir, memang pembeli yang jadi raja, yang terakhir ini yang banyak menguras tenaga dan pikiran hehehehe
So...lanjut COD selanjutnya daaaa..


Jumat, 31 Mei 2013

Otak berangan, jari menari: Menulis


Seru memang menulis. Apalagi menulis apa yang kita suka. Apa yang kita alami. Sekarang menulis jadi hobi yang makin jarang, itu sih menurutku. Mungkin malah sebaliknya. Kemudahan fasilitas pendukung untuk menulis mungkin jadi salah satu kegiatan ini menjadi tambah asik.

Dulu setidaknya perlu kertas dan pensil untuk menuangkan ide tulisan kita. Kalau mau lebih canggih dikit, kita musti mantengin layar 14inchi, alias komputer. Berbeda dengan sekarang. Menulis bisa dikerjakan kapan saja dan dimama saja. Mulai dari yang tradisional hingga make smartphone. Semuanya sangat membantu mempercepat mengalirkan ide di otak menjadi sebuah tulisan.

Seperti sekarang ini, aku hanya membiarkan jari-jariku memainkan tuts di layar benda kotak berdimensi 7in. Tak ada kerangka yang runtut seperti teori bahasa seperti ketika aku SD. Semua kubiarkan berjalan. Otak berangan, jari menari, kuharap suasana seperti ini selalu terjadi.

Keluarga Inci (Bertambah)


Pagi ini jadi pagi yang beda dari pagi-pagi yang kemaen. Keluarga inci bertambah, menjadi 8. Anak inci masih merah, belum paham appun. Gerak-gerak mereka lucu, sedikit geli hampir mirip anakan tikua. Belum berbulu, rentan predator dan penyakit. Ketakutanku terjadi, satu anak inci berdarah-darah. Kakinya luka, aku evakuasi, keesokan harinya inalillahi. Lima bersaudara, berkurang jadi empat saudara. Akan kujaga, tekadku bulat, tapi apa daya. Indukan yang baru sekali melahirkan jadi satu sebab anak-anak inci kurang kuat beradaptasi, tentunya aku juga, baru sekali ini.

Sampailah saat dimana si anak inci dalam kesendirian, 2 minggu tumbuh rambut dan mulai membuka mata, melihat realita. Semoga cepat besar anak inciku.



Pukul satu

Dulu sering kita bertemu suara
Selain kita ada juga teman lain
Pasti tak kau kira mereka siapa
Tentunya rona rembulan, parade jangkrik, bahkan loncatan turun naik melodi katak
Pagi buta, kadang menjelang tengah petang kita bercengkerama
Mondar-mandir tak jelas obrolan kita
Kadang kalah dengan mata yang semakin redup
Hingga dari kita terpejam dan diam
Pukul satu kita bersatu dalam malam


Barisan Kata

Katamu kau rindu puisi-puisiku
Aku hanya tersenyum
Dari mulutmu perlahan berucap
Berkilah tentang puluhan kata yang pernah kujejerkan rapi untukmu
Aku hanya berpikir
Kau bertanya, sudah ingat?
Aku kembali tersenyum
Kau lanjutkan bercerita, tapi yang kudengar kata-kata manja
Dalam hati, aku ingin sekali berjumpa

Rabu, 01 Mei 2013

Inspirasiku



Jariku mulai mengeja
Kata demi kata
Kubayangkan, aku sedang mendekapmu malam ini
Bau rambutmu sangat menggoda
Sesekali sepertinya kamu hendak meronta
Dalam malam aku tersenyum
Mengembara bersama inspirasiku
Ya, hanya dirimu

Selasa, 30 April 2013

Keluarga Inci


Hari itu 14 April, inci-inci datang. Satu cowok yang tiga cewek. Warna pirang yang cewek dua, satunya mirip cowoknya. Selang beberapa hari manjanya makin keliatan. Sekamar ada yang berdua, sempit desak-desakan. Hobi makan, dan gemar tidur. Beberapa hari begitu terus.

Seminggu berlalu, kangkung jadi makanan favorit mereka. Tingkahnya makin lucu. Namun si cowok kasian. Mata kanannya sakit, mungkin gara-gara kandangnya ga aku bersihin tiap hari. Positif sakit mata kelinciku, obatnya seperti obatku kata sumber dari dunia maya. Beli yang murah ga mempan, setelah dikasih yang mahal ternyata manjur. Berangsur sembuh, hingga kini.

Kebersihan dan menjaga makanan menjadi kunci berteman dengan mereka. Katanya, cewek yang warna abu-abu lagi hamil. Artinya sekitar 3 minggu lagi maksimal, keluarga inci ku akan bertambah...horeee.


Ceritaku

Kejadian ini entah kapan terjadi, aku kurang inget pasti. Tapi kalau diinget-inget lumayan konyol juga.
Jadi rumahku itu deket rel kereta api. Dulu sih waktu masih SD rel itu menjadi primadona anak-anak sekitar. Kalau terdengar klakson kereta yang menggelegar itu, pasti pada keluar rumah sambil nunjuk-nunjuk, ke kereta yang berjalan sambil berkata "sepur". Sekarang setelah besar aku pikir-pikir aneh juga, jelas-jelas kereta masih juga ditunjuk sambil bilang "sepur" yang tak lain dan tak bukan adalah kereta api.

Tapi ceritanya bukan itu, jadi setelah bertahun-tahun rel itu sekarang sebenarnya masih berfungsi, namun sekarang masih belum digunakan 100%, baru tahap perbaikan diberbagai titik. Nah tak sengaja saat itu melintas di rel yang belum dipake itu. Di depan saya melintas motor mendahului sambil memberi kode pake klaksonnya, seketika itu juga saya bengong. Nah, kalo kereta api emang cukup dengan klakson hadeh...

Jadi kalo di perlintasan kereta jangan sekedar kasih tanda klakson ya,, baik motor ato mobil. Ntar kalo udah jadi kebiasaan bisa jadi bahaya

Amin

Saat kau terberkati itu,
tidak hanya Langit yang gembira.
Aku pun juga.
Aku akan loncat.
Aku akan teriak.
Bersorak!
Aku bisa bantu kau pilih-pilah nama:
Agustinus, Yohanes, Aloysius, Petrus, bahkan Matius.
Ada sederet buku yang bisa jadi acuan,
atau orang-orang terpandang yang sukses di hadapan Langit.
Aku menulis yang baik, agar berakhir baik.
Amin = Aku percaya.

-aragil-


Minggu, 21 April 2013

Jendela Dunia, itu buku...

Buku, entah sejak kapan mulai gandrung dengan benda ini. Apalagi kalau ada kata fotografi, photografy, fotography, photography bermacam-macam generasi ejaan. Muncul begitu aja, sekarang semakin keranjingan, ekstrimnya ketagihan.
Bahasa belanda, bahasa Indonesia lama, baru, sampai yang sekarang ada di almari. Buku foto, ato kerennya photobook jadi target, seru memelototi karya-karya orang ternama, bahkan yang biasa pun -karya sendiri pun kadang dikagumi-.

Semua genre, praktek, teori, sampai hanya berisi foto berjejer pun masuk hintungan. Harga, sama halnya, mulai dari tiga ribu, kalau ingin tahu. Lusuh, bau debu, wangi kertas yang kadang aku pegang. Tak jarang juga ada yang bau cina heee, istilah bau barang baru kata orang-orang begitu.

Target bulan ini, minimal satu bukufoto. Amin

Agilbos ---habis dari klitian

Senin, 01 April 2013

Awal Hari --sesek and prau project

Tepat tanggal satu, pembuka hari bulan ketiga tahun ini. Semangat tinggi, kujejaki jalan yang jarang kulewati. Menuju tempat yang memang dari kemarin aku rencanakan. Badanku seolah di bawa roda-roda berputar di bawahku menuju pinggiran bengawan. Kabut putih begitu pekat saat aku lewat. Butuh tiga puluh menit, mungkin lebih, aku berhasil mendekati aliran cokelat pembelah daratan. Kumulai membuka obrolan, kepada prau dan penunggunya pagi itu.



Proyek ini akan berat, tapi aku yakin harus dikerjakan dan hanya bisa maju untuk satu kata, berhasil.

Agil-DianaMini-Lucky BW 100

Minggu, 31 Maret 2013

Penghujung Maret -Berbenah atau Musnah-

Baru terpikirkan, satu ide yang baru aja meledak di otakku. Penghujung Maret ini akan menjadi awalan tiap tulisan selanjutnya, bulan berikutnya. Ya, mulai penghujung hari ini satu tulisan tertata untuk memulai awal hari esoknya. Cerita-cerita baru inginku tuangkan, seperti cerita penghujung bulan Maret.

Kotaku berbenah, lokasi-lokasi mulai musnah, suatu konsekuensi untuk memulai babak baru, tapi apakah harus?
Mulai Omah Lowo yang segera tergantikan, sampai stasiun radio kenangan juga ikut digusur. Proliman Sukoharjo, kehilangan maskotnya. Omah Lowo dan Stasiun Radio Top sudah sirna entah berganti tempat di mana. Syukurnya, aku sempat merekam sisa-sisa puing dua bangunan itu. Semoga bisa menjadi kenangan, menjadi tanda, menjadi bahan cerita untuk anak cucu warga kota ku, Sukoharjo bahwa dulu, di situ ada dua bangunan yang satu memanjakan suara-suara penyiar radio, sampingnya lagi bangunan berisi suara riuh kelelawar berbarengan dengan bau anyir tainya.

Hanya sebagai pengingat, dan semoga bermanfaat.














Agil--DianaMini--Lucky BW 100