Selamat membaca kumpulan cerita kamii....:-)
RSS

Senin, 31 Desember 2012

Pergantian yang sama

Air tetap sama, turun seperti dulu
Waktu juga tetap berjalan maju
Angin masih sedingin jalan di puncak Pananjakan
Lantas apa yang berbeda, pun yang sama
Pergantian waktu ini yang berubah
Apapun itu rasanya akan sama

--agilbos

Selasa, 25 Desember 2012

Desember datang lagi

Desember sudah di akhir
Masih mengeluarkan basah, namun kehangatan selalu ada
Dekat dengan awal dan akhir, aku tahu
Kuingat-ingat kembali, kutersenyum-senyum sendiri
Kubayangkan lagi, gemas menjadi takjub tak terkira

Aku masih ingat, ketika berada di waktu itu, antara awal dan akhir
Semuanya riuh, melebur
Aku mencoba mengingatnya, mencoba merasakan

Kita merencana, bersiap, lalu hap...tiba di suatu malam yang dingin
Mengikuti cahaya tak tentu, kagum, akhirnya bertemu tujuan
Hilang rasa beban berat, sampai tersadar suara gemelegar di langit hitam

Cerita itu berlanjut hingga kini, cerita kepala berpangku paha

--Kang--

Sabtu, 08 Desember 2012

jarak

Enam ratus Kilometer:
Tiga belas jam, kadang empat belas jam dengan bus;
Dua belas setengah jam bila kereta;
Satu lebih empat puluh lima dengan kapal udara;
tidak bisa kutempuh dengan kapal laut, terlalu aneh;
terlampau berisiko dengan motor roda dua;
tak terbayangkan lelahnya dengan sepeda;
dan tak akan mencoba dengan bajaj walau Bajuri yang membawa.
















Hanya enam ratus Kilometer:
Hanya tiga belas jam, kadang empat belas jam dengan bus;
Hanya dua belas setengah jam bila kereta;
Hanya satu lebih empat puluh lima dengan kapal udara;
Hanya akan aneh bila ditempuh dengan kapal laut;
Hanya akan jauh lebih berisiko dengan motor roda dua;
Hanya akan jauh lebih lelah dengan sepeda;
Hanya akan bergetar, mengalami gangguan pendengaran,
dan diekspos banyak orang bila dengan bajaj dan Bajuri.















Sebatas itu.
Aku akan tenang.
Aku akan bersabar.
Aku akan kuat, karena ada kau yang hebat.

Kita akan saling menjangkau dan merengkuh.
Aku percaya, kita mampu menghadapi semua;
bukan karena kita, tapi karena ada kekuatan Maha dasyat yang menopang kita.


(dengan cinta)
20:12 8Desember2012

Jumat, 30 November 2012

November akhir

Hee..utang lagi..

Kamis, 29 November 2012

Pasar Gawok Pasar Kenangan...


Pasar kenangan itu bernama Pasar Gawok. Lokasinya di Desa Geneng, Kecamatan Gatak Kabupaten Sukoharjo. Pertama ke pasar ini saat itu sengaja mau praktek motret bareng Niko. Saat itu masih seru-serunya sama Niko, hampir kemana-mana dia ikut. Jepret sana jepret sini...hasilnya seperti ini.

Setelah sekian waktu, saya kembali mampir ke Pasar Pon ini, lengkapnya Pasar Pon Gawok-ngarang sendiri-. Nama itu disandang karena memang pasarannya tiap pon. Untuk yang kedua kalinya ini Agilbos bareng ara dong. Rame seperti pas pertama datang. Tak terasa, hampir semua sudut pasar kami sasar. Pedagang baju, celana, HP, alat rumah tangga, sampai racun tikus pun ada. Mulai dari burung, kambing, ayam, bebek, bahkan ikan juga ada. Tidak kalah sama mal di tengah kota, tentunya dengan harga yang sangat berbeda.
Tujuan memang tetap sama, membekukan waktu untuk disimpan, entah sampai kapan, atau seperti sekarang, untuk dituangkan bersama barisan tulisan. Saat itu, yang paling aneh dan berkesan, dari sekian banyak barang yang dijual, kami memilih membeli kangkung dua ikat. Murah dan dapat banyak. Hahahaha...Waktu menjelang siang, kami pulang.

Cerita itu terus berlanjut, sampai pekan kemaren, saya mencoba kembali ke waktu pertama itu. Kurekam, seolah kuulang mereka-reka waktu lampau. Jejak-jejak ingatan kembaliku cari. Kutemukan satu persatu, mulai dari tempat berdiri motor-motor pengiring, kemudian penjaja pangkas rambut. Sepertinya tidak ada yang beda, namun memang terasa kurang. Kurang sama, dan tidak terlalu beda, hanya sudut-sudutnya yang asing tiap aku berpaling.
Satu persatu pecahan-pecahan kenangan dulu kembali terkumpul. Lapak bubu-buku kertas berjajar, polah anak kecil kegirangan, dan tukang sabung yang sombong meneriaki ayam aduannya. Sungguh, belum banyak yang berubah, sampai-sampai tidak terasa lebih dari sekedar setengah dasawarsa setelah hari pertama itu. Semoga pasar itu terus melahirkan kenangan-kenangan, Pasar Gawok.

--Agilbos


Jumat, 09 November 2012

Koyo Mimi lan Mintuno...






Koyo mimi lan mintuno -seperti mimi dan mintuno- kata-kata itu yang keinget tiap liat Mbah Joyo kakung putri. Mulai dari pagi, bangun tidur sampe tidur lagi, selalu berdua sampe saat ini. Mimi, Mintuno merupakan nama jenis hewan laut yang selalu hidup berpasangan, makanga digunakan orang jawa untuk lambang kebersamaan, kesetiaan pasangan. Mimi sang jantan dan Mintuno si betina, konon setiap ada mimi pasti ada mintuno. Ya, walau saya sendiri belum pernah melihat dengan mata kepasa sendiri mereka berdua. Tapi, sepertinya jiwa mimi-mintuno ini sangat dekat dengan Agilbos.

Lanjut ke Mbag Joyo kakung-putri,  pagi ini, seperti pagi yang sebelumnya, beliau berdua bangun tidur. Biasanya Mbah Joyo Kakung yang duluan, Mbah Putri menyusul kemudian. Tidak lama, teh manis menyapa, tak berselang lama lanjut sarapan berdua. Waktu menurut beliau berdua mungkin terasa lama, atau mungkin sebaliknya, karena tak terasa makan siang sudah di depan mata. Berdua lahap dengan apa adanya. Sampai sore sampai malam terpejam, terus berdua.

Ara...kang ni
pengen

Agilbos

Rabu, 31 Oktober 2012

Sulaman Bintang

--ara--

Jumat, 19 Oktober 2012

Cara tolak bala serangan nomor misterius... ex-> 083899500046

Belum lama ini Agilbos dihubungi via telepon. Nomornya asing, belum terekam di phonebook. Seperti biasa, jika menerima sambungan dengan nomor baru selalu melakukan kebiasaan seperti ini.

--Pertama:
Kalau pas tau mendapat telpon, ya diterima. Tapi tunggu sampe suara dari seberang sana terdengar. Analisis, beberapa detik. Misal suaranya kenal katakan "halo", sembari menanyakan ini siapa.
Kadang cara ini gagal, ya..soalnya suara ditelepon itu kadang tidak sama dengan suara aslinya, alhasil kita salah duga. Sering Agil bos melakukan hal bodoh ini.

--Kedua:
Masih dengan menerima telepon. Tapi jangan sampe mengeluarkan suara apapun. Setelah terdengar suara...perhatikan baik-baik ada tanda-tanda si Penelpon kenal Anda atau tidak. Tahan sampai paling tidak menyebut nama Anda. Kalau cuma "halo..halloooowww..halo...". Abaikan...setelah beberapa detik pasti telepon terputus.

--Ketiga
Angkat telepon cepat-cepat. Jawab teleponnya "halo...". Nah ini jangan ditiru lantaran Agilbos kurang konsen. Kalau sudah begini...kudu musti pinter-pinter alesan. Bilang lagi nyetir, lagi di perjalanan, sampai taroh HP nya di deket mesin pompa air.

--Keempat
Setelah terlanjur menerima telepon dan terlanjur bilang "iya..iya..benar..benar...belum..sudah..iya...". So..jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Simpan nomor telepon itu untuk kenang-kenangan.

--Kelima
Tahap ini kita tinggal ada beberapa pilihan. Biasanya nomor sudah tertera di layar HP plus namanya. Kita tinggal mau angkat dan diemin, direject, kita terima tapi terus di masukin ke saku celana, atau mungkin malah kita terima, karena ga ada yang telepon kita. :hammer.

Setelah langkah kelima ini Agilbos harap kita akan terbebas dengan serangan-serangan nomor misterius yang tak dikenal. Ini Agilbos sertakan lampiran daftar nomor-nomor yang kadang sedikit menguras waktu kita:

-083899500046 (sepertinya terkait insurens)
-085642029897 (nmr penting salah satu orang di kampus negeri di Solo :-p)
-081578412733 (sda pass)
-0271655452 (sda)
-085799990698 (sda jg)
-081294392191 (motif beli pulsa)
-081333415786 (motif beli pulsa)
-082125667372 (motif beli pulsa)
-082123700462 (motif beli pulsa)
-081281610516 (motif beli pulsa)
-087879727495 (motif beli pulsa)
-now loading...





Agilbos
terinspirasi saat iseng ditelepon nomor asing, tiba-tiba dapat wangsit dari "mbah".

Kamis, 04 Oktober 2012

Hujan kita...

Sekiranya sudah lama aku tidak berkejaran dengan hujan. Padahal tidak terlampau lama tapi dulu, sering aku diburu hujan. Ketika pulang dari mana, bergerak ke tempat baru, atau menyengaja bepergian, bahkan berangkat ke mana pun sering kali dihujani.

Sekarang rintik-rintik itu jarang sekali menyapaku, ada sedikit rindu, karena disetiap hujanku sangat kaya dengan cerita-cerita yang tidak gampang untuk sirna. Masih terekam, sempurna. Ya...hujan pernah mengantar kami ke puncak jawa dwipa. Hujan pula yang menggiring kami ke pertunjukan tengah kota. Pernah juga, kami di kuntit awan kelam hujan, sampai berputar-putar lima kota.

Awan dan hujan katanya sering berdua, ya benar kita sering bertemu dengan mereka kan? Saat di ujung hari tahun itu hingga babak baru tahun berikutnya kita dibuat tak berdaya, namun senyum kecil kita tetap tersungging. 

Tapi hujan juga pernah jadi petaka, ingatkah kala itu...ahh lupakan. Toh buat apa diingat, sedikit bolehlah untuk direnungkan. Tidak baik menyalahkan hujan, apalagi benci. Karena hujan selalu dekat dengan kita, hujan setia menyapa kita.
Hujan di kota lama, hujan di bis kota, hujan di sepeda, hujan di tempat gulita, di manapun kita tak bisa menghindar darinya.Sekarang, apa kau rindu padanya...?




Minggu, 30 September 2012

Tukang cukur

Sejak kecil rutinitas ini menjadi momok yang menyeramkan bagi anak kecil berambut lurus, tipis dan jarang-jarang bernama agil. Aku, selalu menolak saat diajak ke tempat tukang cukur. Seingatku, sewaktu di Cianjur, masa kecil sakit-sakitan, tempatnya di tengah Pasar Bojongmeron sedikit masuk, menerobos celah toko, itupun kalau tidak salah ingat. Puluhan tahun hingga kini belum ke sana lagi.

Bapak tukan cukurnya kalau tidak salah ada dua, bila yang satu sibuk aku dioper ke tukang cukur sebelahnya, kadang menunggu. Cemas, berkeringat, setiap tiga atau lima bulan berselang, karena aku akan kembali ke tempat itu, melakukan hal yang sama. Mungkin memang anak manja, salah siapa? Ya, pastinya karena dimanja bukan? Kadang dan bisa dibilang sering, setiap mengunjungi tempat di tengah-tengah pasar itu aku diberikan kejutan, awalnya dibujuk, lama-lama aku memilih mau apa nanti.

Potong rambut menjadi perundingan dan perjanjian, entah berapa kali aku melakukannya, pernah mobil-mobilan kecil sampai martabak ketan manis yang nikmat khas jalan sinar, tengah kota. Tapi sebenarnya, hal itu hanya menghilangkan sedikit debarku. Aku terus memacu pikiranku dengan satu bujukan atau pilihanku. Sebenarnya masih sama waktu itu, tanpa atau denga syarat sekalipun, aku selalu tercekat setiap memandang diriku di depan cermin tukang cukur.

Tukang cukur di pasar itu masih menggunakan alat sederhana, kurang tau namanya, namun pada masanya, alat itu dipakai oleh hampir semua tukang cukur. Kadang sakit, bahasaku menyebut clekit-clekit, itu yang mungkin membuatku panik. Tentunya selain aku kehilangan rambut. Bukan apa-apa, tapi dari kecil aku lebih suka rambut yang bebas, berbeda dengan anak seumuranku yang lebih pasrah dengan model rambut pemberian orang tuanya.

Tapi aku tak berdaya, karena perjanjian-perjanjian itu, bujukan dan sering karena pilihanku sendiri, aku terpaksa mengalihkan ketidak pede-an ku yang sebentar itu dan mulai memusatkan pada hal baru pemberian ibu atau bapak, toh rambutku tak lama pasti tumbuh lagi. Masa-masa sulit ya, seminggu pertama. Malu, meski tak ada yang mengejek, malah sebaliknya, banyak yang menyunggingkan senyum sesekali menahan tawa, mungkin terlihat lucu.

Sampai sekarang, tempat cukur masih menyisakan kenangan itu. Sedikit berbeda, tidak ada lagi perjanjian itu, bujukan itu, permintaanku atau semua jenis perjanjian sebelum dan sesudahnya. Sekarang tak hanya ibu yang ngomel kalau rambutku sudah sepanjang rambut boyband, Arabos ikut-ikutan. Tidak ada yang menemani di belakan kursi cukurku, bapak atau ibu, dulu keduanya yang membuatku sedikit tenang, karena aku bisa memutar-mutar mata kecil ku menerobos cermin di depanku yang memantul ke atas dan menjerat bayangan kedua orang tuaku, tidak selalu berdua kadang bergantian. Senang, tapi tetap kaku di depan meja cukur.

Dari meja cukur, pernah kulirik senyummu. Kamu memberi tanda, -belum bagus, masih kepanjangan- iya dalam hati sewot, -digundul aja-. Kalau arabos tersenyum lebar dan mengangguk tandanya aku terbebas dari kursi cukur itu. Saat ini, aku melirik ke sana kemari, di tempat yang sama, meja, kursi, gunting, sisir, sampai tukang cukurnya masih sama, tapi ada ruang yang asing. Aku canggung, menatap kaca di depan meja cukur, kosong mematung.

Kubayangkan, kau tersenyum dan mengangguk di sudut sana. Karena, rambutku sudah tipis, aku tak mau kehabisan rambut, apalagi kehabisan perhatianmu.
Tempat itu tempat cukur, hatiku tersungkur, ingin di dekatmu.








Agil

Rabu, 26 September 2012

Zahra

Panggilannya Zahra, sebelum fasih dia menyebut namanya haha. Membuat senyum orang sekitarnya. Sedikit pintar, selalu ingin tahu, itu Zahra kecil, haha. Selalu bertanya apa...apa...apa. Sampai Agil dan Ara bos kadang terdiam, memikirikan jawaban pertanyaannya yang singkat, apa.

Apa kabarmu sekarang, tentunya baik dan ceria. Terakhir, pagi itu kami mengajaknya jalan-jalan. Pagi sudah  dandan, gaun putih bersih berpadu padan dengan Ara bos yang juga berseragam putih. Main ke ujung desa, samping bantaran yang di sulap menjadi taman. Kreatif memang, yang tadinya mungkin digunakan sebagai pemukiman, atau sekedar tempat menimbun sampah. Sekarang menjadi taman bermain hampir seluas setengah lapangan sepak bola.

Senyum penasaran tergambar jelas di mata Zahra, merasakan asiknya main bebas jauh dari ibunya. Pengalaman yang pertama mungkin, bagi kami juga. Untuk tempat menyenangkan itu. Hari sudah meninggi, langit-langit terlalu cerah pagi itu. Sengatnya tajam, peluh cepat meluncur dari ujung-ujung rambutnya, kami juga hampir kuyup dibuatnya.

Main jungkat jungkit, dia terungkit naik mukanya kaget. Pecah senyumnya menjadi tawa, tawa sambil berpegang erat besi-besi jungkat-jungkit. Ayunan besi berderit, Zahra duduk berseberangan udara. Aku sibuk menghiburnya, untuk mendapatkan ekspresi senyumnya. Tapi senyum tak dapat ditolak, dia terombang-ambing seperti riak di tengah lautan. Aku minta Zahra duduk, tapi malah loncat beringas sambil ketawa nakal, menghindar beralih ke tempat yang lain, bermain pasir panas, sengat matahari pagi.

Naik tangga, terengah-engah tapi tetap ceria meluncur bebas, sekarang menguasai -prosotan-. Tidak ada kata capek. Kami saling memandang, kewalahan sedangkan hari semakin meninggi. Kami terpaksa membujuk berhenti, yang ada hanyalah senyuman manja. Meluncur dengan muka tegang, naik dengan semangat, tidak peduli panas semakin menyengat. Berulang dan terus, beberapa menit ke depan. Kami menunggui siapa tau bosan, tapi tidak. Di taman itu ada banyak, berhanti ayunan, meluncur ke prosotan, lalu melangkah ke jungkat jungkit.

Tak kalah akal, kami membujuk berhenti, takut kepanasan, panas yang semakin tidak sehat. Takut ibu was-was menunggu di rumah. Tidak berhasil membujuk, namun sedikit akal dan berhasil. Permainan yang menyenangkan itu kami akhiri dengan minum juice stobei, asam tapi jadi tidak terlalu terasa, karena tercampur kenangan, kenangan manis pagi itu.

Sekarang, kami rindu haha, tapi waktu terus berjalan, yang sekarang kami hanya bisa bertanya-tanya dan menerka, sebesar apa sekarang Zahra. Entah kapan bisa bertemu, mungkin bermain ke taman ujung kali lagi.






Jumat, 14 September 2012

Solo, Riwayatmu dulu...*

keraton kasunanan Surakarta|| super headz||fuji extra 400

6 tahun sudah saya tinggal dan menuntut ilmu di kota batik ini. Bukan Pekalongan, tapi Solo. Banyak hal yang saya dapat di sini, di luar pelajaran dalam kelas.Lebih dari itu, pelajaran akan kehidupan. Pelajaran mengenai keberagaman manusia. Entah itu sifatnya, latar belakang sosialnya, dan lain sebagainya. Saya secara sadar dan mengakui, kehidupan di kota Solo ini mengubah saya. Saya rasa ke arah yang lebih baik, semoga saja benar adanya.


Banyak hal baru pula yang saya dapat di kota ini. Mulai dari pengalaman ikut klub touring, main teater, mengendarai sepeda motor sendiri, donor darah, dan tentu saja, yang paling membekas adalah PUNYA PACAR.


Berat rasanya harus meninggalkan kota ini. Sebenarnya yang paling berat adalah meninggalkan Si Pacar. Rasanya ingin saya packing Si Pacar, saya ajak pulang kampung. Tapi rasanya hanya sebatas keinginan.


Well, see you soon, SOLO!


Pacar, sering-seringlah main ke Tangerang!


Kos Putri Anggrek, Jl KH Dewantara 66, Jebres, Solo

-Ara-


*dari lagu bengawan solo, gesang

Senin, 13 Agustus 2012

Kriiinggg... Kriiinggg... Yellow??!



Kalau lagi long distance relationship kayak sekarang ini jadi sering inget masa-masa waktu baru-baru berduaan dulu. Begitu mata melek, yang diingat pertama kali bukannya mengucap syukur dulu karena udah dikasih hari baru sekali lagi, tapi malah langsung ambil handphone. Pencet nomer pacar terus pacaran di telepon. Durasinya tergantung acara hari itu, kalau ga ada kuliah atau ga ada janji pergi kemana, biasanya suka 1 -2 jam, sampai-sampai matahari udah tinggi. Herannya habis telpon-telponan lama banget kayak gitu, siangnya ketemuan.


Jadwal siang juga ga jauh-jauh dari makan bareng, main internet bareng, ngobrol bareng, bobok bareng (eh..). Pokoknya semua bareng-bareng sampai malam hari saat waktunya pintu kos ditutup. Dan aktivitas itu dilakukan berulang-ulang tiap hari tanpa ada rasa bosen. Kadang, rutinitas makan, main internet, ngobrol, bobok (eh..lagi), diselingi dengan hunting poto entah berdua atau bareng-bareng yang lain. Kadang juga jalan-jalan nyari tempat panas buat maen air (pantai maksudnya), atau kadang nyari tempat yang dingin buat bobok bareng (bobok bareng lagi >v< hahaha). Diselang-seling lah, ga ada bosennya. Menyenangkan!


Harusnya kalau udah long distance kayak sekarang ini kan kualitas telponan jadi meningkat karena emang jarang ketemu. Tapi anehnya kualitas telponnya jadi menurun, mungkin karena yang diseberang sana lagi capek berat, padahal yang disini super duper excited. Kadang yang disana kangen berat, disini lagi bantuin adeknya bikin prakarya buat ospek. Kadang kalau pagi, yang disini harus masak, kadang yang disana ngangkut kayu (capek booo). Diakalin lah, jadwal telponnya diganti malam. Ini dia yang susah, kalau malam yang disana pasti cepet ngantuk, kalau udah ngantuk jadi cepat boring, kalau udah boring bawaannya marah-marah mulu. Alasannya sih karena yang pertanyaannya ga bisa dijawab karena ga tau jawabannya. Padahal yang disini nanya-nanya karena pengen tahu keadaan serinci-rincinya disana (makan tuh kepo! Salah sendiri haaha).


Diakalin lagi, pakai yahoo! Messenger, biar bisa ada gambarnya, biar lebi seru dan kadar kangennya bisa menguap lebih cepat dibanding hanya diobatin dengan dengar suara. Tapi rupanya manusia itu tidak hanya dapat dipuaskan hanya melihat secara visual saja, harus juga mendengar. Sayangnya, headset dan computer saya tidak dilengkapi dengan fasilitas microphone, alhasil tidak ada suara yang bisa didengar di seberang sana. Dan saya harus puas dengan ngobrol via chatting yang bakalan berujung menonton orang tertidur diujung sana karena terlalu lama menunggu saya mengetik atau karena koneksi lambat membuat tulisan saya lama terkirim.


Kabar gembiranya, ga lama lagi bakal saling kunjung-mengunjungi, jadi bisa tertebus rasa kangennya. Dan saat bertemu itu harus diagendakan rapat akbar untuk membahas masalah perkomunikasian yang nyaman yang dapat membunuh kangen.


Sekian live report dari Pamulang,

-Ara-


*gambar girl on can telephone: www.123rf.com

*gambar boy on can telephone: minimedia.com.au

Kamis, 09 Agustus 2012

Ke Mall? Nope!

sumber: www.123freefactors.com

Sudah dua minggu saya berpetualang sendiri (nggak sa ma Agil). Minggu lalu saya ke mall, sesuatu yang saya jarang lakukan kalau lagi kumpul sama Agil. Namun perlu diingat, sesuatu yang jarang saya lakukan itu tidak menjadi keluhan, malah sebaliknya.


Jalan-jalan ke mall itu disaster! Kaki capek, uang habis. Sesuatu yang nggak enjoy banget. Oke saya suka jalan-jalan ke pasar swalayan, t api itu beda banget sama jalan ke mall. Di p asar swalayan saya bisa kalap mata liat roti tawar pake coklat. Liat indomie rasa rending, lihat puding dan jeli. Jiwa ibu-ibunya keluar banget gitu.

Balik lagi kita bahas jalan-jalan ke mall. Teori saya tentang jalan-jalan ke mall itu disaster terbukti. Hasil dari perburuan ke mall minggu lalu itu melenceng dari yang sudah direncanakan di rumah. Saya berencana membeli blouse putih saja, sedangkan adik saya berencana beli convers. Tahu apa yang kami dapat? Kami dapat bra 4 b iji dan celana dalam 3 biji. Beda jauh kan?

Alasannya bisa begitu ada banyak. Saat sampai outlet baju-baju yang buanyak itu, saya lihat satu persatu. Kemeja simple warna putih yang jadi rapih kalo dipakai. None! Ga ada yang sesuai konsep saya. Tema baju yang dijual semuanya adalah blouse dengan bahan “kiwir-kiwir”. Bukannya saya antipasti, tapi kebutuhan saya bukan yang kayak gitu aja. Ada yang rapi, tapi warnanya ga putih dan kembang-kembang atau bergaris. Saya frustasi dan memutuskan menghentikan perburuan saya, dengan bilang: sudah ah, njahitin aja. Padahal saya tahu, saya ga bakal dalam waktu dekat ini bisa jahitin baju karena prosesnya lebiih ribet dibanding beli jadi. Belom ke tempat tukang kain, belom milih-milih, belom ke tukang jahit, belom lagi nunggu jahitan kelar. Yah..saya terima aja.

Lain lagi dengan adek saya. Dicarinya sepatu convers di outlet sepatu. Nggak ada. Ditanyalah ke pramuniaganya. Dijawab, “Oh disini ga jual convers.” Cuma bisa melongo. Singkat cerita, adek saya itu anti beli yang lain selain convers, da n kami memutuskan pindah mall. Dibayangin aja udah males. Mall yang pertama aja udah menguras tenaga karena penuh sesak orang-orang berburu sandang lebaran yang sebentar lagi datang. Untungnya mall kedua ga se-ekstrim yang pertama, mungkin karena mall yang kedua ini lebih “berkelas”. Tapi, apa yang dicari ga ada. Outlet convers itu ga ada. Yaudah deh.. ibu saya inisiatip masuk ke brahouse, outlet yang jual pakaian dalam wanita. Disana saya dibelikan 2 bra, adik saya 2 bra dan 3 celana dalam. Yah saya masih bersyukur karena bra saya memang sudah uzur, bersyukur pula karena pulang membawa sesuatu, nggak tangan kosong.

sumber: www.hongkhpoint.com

Sudah lemah letih lesu dari mall ke mall satunya, di jalan kami terjebak macet. Luar binasa lah! Sampai rumah muka kucel, kaki pegel. Perjalanan hunting ke mall menyisakan keyakinan kalau saya lebih suka hunting foto atau naik gunung, atau touring naek motor dibandingin jalan-jalan ke mall.

Sekian live review yang sedikit ga penting dari ara.
Salam piss lof en gaol
-ARA-

Minggu, 05 Agustus 2012

Melodi pagi, di Waduk Mulur


Saat pagi menjelang, tak sempurna rasanya tanpa hirupan udara segar dan semburan matahari. Pancaran magenta hangat memeriahkan pengawal pagi seakan mengalunkan melodi. Seperti saat ini, Agil Bos menyambangi Waduk Mulur. Waduk di timur jauh kota kecil, Sukoharjo.


Udara masih kaku dengan getaran embunnya, seiring aktivitas-aktivitas manusia karamba yang seakan dikejar sinar dari ufuk timur, perlahan namun pasti. Bergegas mata menjelma lensa, merekam, mengabadikan tingkah polah alunan melodi pagi itu.



-agil-

Foto: Agilbos+Coni